KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) belum mampu mengangkat nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda masih dibayangi kehati-hatian investor terhadap aset berisiko serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi pasar keuangan domestik.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot ditutup melemah 0,20% ke level Rp 17.938 per dolar AS pada Kamis (15/10/2026). Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) pada hari yang sama melemah 0,28% menjadi Rp 17.948 per dolar AS, dari Rp 17.898 per dolar AS pada Rabu (14/10/2026).
Di sisi lain, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) turun 0,50% ke level 102,04 pada Kamis (15/10/2026). Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga turun ke sekitar 5,05%.
Sell Off Saham AI Guncang Pasar Global, Dolar AS Melemah dan Harga Emas Naik
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, pelemahan rupiah di tengah turunnya indeks dolar AS menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda tidak hanya berasal dari pergerakan dolar. Perubahan selera risiko investor di pasar keuangan Asia turut memengaruhi pergerakan rupiah.
“Tekanan rupiah tidak semata-mata disebabkan penguatan dolar AS, tetapi juga meningkatnya penghindaran risiko di pasar keuangan Asia, khususnya setelah penurunan saham-saham teknologi dan kekhawatiran terhadap pembiayaan investasi kecerdasan buatan,” ujar Josua kepada Kontan, Kamis (15/10/2026).
Kekhawatiran terhadap pembiayaan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana. Saat minat terhadap aset berisiko menyusut, mata uang negara berkembang seperti rupiah ikut rentan tertekan.
Tekanan rupiah juga datang dari dalam negeri. Josua menyoroti penyusutan surplus perdagangan, kebutuhan pembiayaan eksternal, serta ketidakpastian prospek investasi di pasar saham yang turut memengaruhi persepsi investor terhadap Indonesia.
Kondisi ini tercermin di pasar obligasi. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia tenor 10 tahun justru naik ke sekitar 7,25%. Perbedaan arah tersebut mengindikasikan investor masih meminta premi risiko lebih tinggi untuk memegang aset Indonesia.
“Perbedaan arah tersebut memperlihatkan bahwa rupiah tidak hanya menghadapi tekanan global, tetapi juga tambahan premi risiko domestik yang belum sepenuhnya mereda,” kata Josua.
Hingga akhir 2026, Josua memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.700–Rp 18.200 per dolar AS, dengan proyeksi penutupan tahun di sekitar Rp 17.980 per dolar AS.
Wall Street Bervariasi, Nasdaq Turun 1,24% Dibayangi Kekhawatiran Suku Bunga
Rupiah berisiko melemah hingga Rp 18.300–Rp 18.500 per dolar AS jika tekanan global meningkat, harga minyak naik, dan arus modal keluar berlanjut.
Sebaliknya, rupiah berpeluang menguat ke kisaran Rp 17.500–Rp 17.700 per dolar AS apabila imbal hasil obligasi AS turun dan arus modal ke Indonesia membaik.




