KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) cetak kinerja moncer dengan laba bersih yang melonjak tajam dalam sembilan bulan pertama 2026. Perbaikan efisiensi operasional disebut menjadi salah satu penopang kinerja emiten jasa pertambangan ini.
Menurut data kinerja DEWA, pendapatan DEWA pada periode Januari-September 2026 mencapai Rp 5,10 triliun, naik 9,71% secara tahunan atau year on year (YoY). Adapun laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp 513,08 miliar, melesat 114,55% YoY.
Lonjakan laba itu juga terlihat dari membaiknya margin laba kotor. Beban pokok pendapatan perseroan berada di kisaran Rp 4,06 triliun atau hanya bertambah 2,26% YoY, sehingga laba kotor terdongkrak 53,72% menjadi sekitar Rp 1,03 triliun.
Senior Technical Analyst M. Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa laba yang tumbuh lebih cepat daripada pendapatan menandakan profitabilitas yang membaik dan pengendalian biaya yang efektif.
Emiten CPO Grup Salim Angkat Suara Terkait Dampak Karhutla ke Kinerja
“Perseroan mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sekaligus memperbaiki struktur biaya,” ujarnya.
Nafan menambahkan bahwa apakah tren ini bisa berlanjut akan sangat ditentukan oleh volume pekerjaan pertambangan, produktivitas alat berat, tingkat pemanfaatan armada, dan kemampuan perusahaan menjaga efisiensi di proyek-proyek yang ditanganinya.
Sementara itu, analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama bilang, makin besarnya porsi penggunaan armada milik sendiri ikut membantu DEWA menekan biaya subkontraktor. Pergeseran pola operasi ini memberi DEWA keleluasaan lebih besar dalam mengatur jadwal kerja, pemakaian alat, serta biaya penambangan.
Meski begitu, Kevin mengingatkan bahwa hemat di sisi subkontraktor harus dibandingkan dengan naiknya biaya perawatan alat, penyusutan, dan sewa. Karena itu efisiensi tersebut belum tentu seluruhnya menjadi tambahan laba. Di luar faktor operasional, mutu pertumbuhan laba bersih pun perlu diperhatikan.
Menurut Kevin, kenaikan laba turut ditopang oleh keuntungan dari penilaian investasi yang belum direalisasikan, dan keuntungan semacam itu belum tentu terulang pada periode selanjutnya.
Menyangkut prospek, kedua analis sama-sama berpandangan bahwa kinerja DEWA pada kuartal IV-2026 masih berpotensi positif, sepanjang aktivitas pelanggan utama terus berjalan dan produktivitas armada bisa dijaga.
Nafan menjelaskan, kelanjutan kontrak jasa pertambangan, bertambahnya volume pengupasan lapisan penutup atau overburden removal, dan optimalisasi kapasitas internal sebagai beberapa katalis yang layak dicermati.
DEWA Chart by TradingView
Meski demikian, prospek itu tetap dibayangi sejumlah risiko, di antaranya perubahan volume pekerjaan dari pelanggan, kondisi cuaca, naiknya biaya bahan bakar dan pemeliharaan alat berat, serta kebutuhan belanja modal.
Kevin turut menekankan pentingnya pengelolaan beban keuangan dan arus kas. Lebih lanjut Kevin bilang, investor perlu memperhatikan apakah DEWA mampu menjaga margin dan menghasilkan arus kas yang sehat, tidak sekadar berpatokan pada pertumbuhan laba bersih.
Kesinambungan pertumbuhan DEWA akan bergantung pada kemampuan perusahaan mempertahankan efisiensi operasional, menjaga produktivitas armada, dan mengelola kebutuhan pendanaan di tengah dinamika industri pertambangan.




