Harga minyak mentah acuan global, Brent, melonjak melampaui ambang batas psikologis $110 per barel pada perdagangan hari Jumat. Lonjakan signifikan ini terjadi seiring dengan semakin menipisnya harapan para pelaku pasar terhadap kemungkinan adanya pemulihan pasokan energi dalam jangka pendek. Kondisi pasokan yang kian tertekan tersebut mendorong para pedagang dan investor untuk memperkuat posisi spekulatif mereka, menganticipasi potensi kenaikan harga yang lebih tinggi menjelang penutupan pekan perdagangan.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bloomberg, harga minyak mentah acuan dunia ini mencatatkan kenaikan harian sebesar 3,7%. Hasil tersebut sekaligus mengukuhkan tren positif dengan mencetak kenaikan harga mingguan selama dua pekan berturut-turut. Sentimen kuat yang mendominasi sesi perdagangan tersebut dipicu secara langsung oleh serangkaian laporan mendesak mengenai eskalasi konflik militer yang terus berlangsung di daerah-daerah yang menjadi pusat ekspor serta jalur logistik energi utama dunia.
Ancaman terhadap stabilitas pasokan global semakin nyata akibat tindakan kelompok pemberontak Houthi yang didukung oleh Iran. Kelompok ini secara gencar melancarkan serangan berbasis rudal dan pesawat nirawak (drone) yang menargetkan berbagai fasilitas strategis di Arab Saudi. Di saat yang bersamaan, konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Kedua negara tersebut masih terus saling melancarkan serangan balasan yang secara spesifik menyasar infrastruktur energi vital masing-masing, sehingga menciptakan gangguan rantai pasok yang meluas.
Level harga US$ 110 per barel ini terakhir kali tersentuh sekitar lima bulan yang lalu. Pada periode tersebut, terhentinya arus distribusi minyak mentah dan bahan bakar olahan secara global sempat memicu lahirnya kesepakatan diplomatik yang sangat rapuh dan berumur pendek untuk membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz. Jalur perairan vital tersebut memegang peranan sangat krusial dalam menentukan kelancaran distribusi minyak dunia.
Saat ini, volume kargo energi yang melintasi jalur perairan utama Selat Hormuz sebenarnya telah mendekati tingkatan normal seperti sebelum terjadinya konflik. Data perdagangan menunjukkan bahwa jumlah minyak mentah yang diangkut melalui jalur laut tersebut telah mencapai lebih dari 100 juta barel pada pekan lalu. Kendati demikian, pemulihan lalu lintas kapal tanker ini ternyata belum mampu meredam gejolak harga minyak mentah di pasar internasional, yang tetap bertahan pada tingkatan tinggi.
Tingginya harga energi dunia ini memicu implikasi politik domestik yang berat di Amerika Serikat. Pilihan kebijakan yang dimiliki oleh Presiden AS Donald Trump untuk menekan biaya energi dan menahan laju inflasi domestik menjelang agenda politik pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) pada 3 November menjadi sangat terbatas. Lonjakan harga bahan bakar menjadi isu sensitif yang berpotensi memengaruhi preferensi pemilih dalam pemilu mendatang.
Dalam dinamika politik di Washington, para anggota parlemen AS secara resmi mengajukan rancangan undang-undang yang bertujuan menghalangi kesepakatan Presiden Donald Trump dengan Moskow. Kesepakatan yang ditentang tersebut sejatinya melibatkan rencana pelepasan ratusan juta barel bahan bakar diesel milik Rusia ke pasar global. Langkah legislatif yang tegas ini mencerminkan adanya penolakan lintas partai yang meluas di dalam Kongres AS terhadap upaya apa pun yang dinilai dapat memberikan akses pendanaan tambahan bagi Rusia untuk membiayai operasi militernya.
Kondisi ketidakpastian politik dan geopolitik yang saling bertautan ini memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi para pelaku pasar energi. Rebecca Babin, seorang pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Group, memberikan analisisnya mengenai situasi ini. Ia menyatakan bahwa setelah sempat mengalami fase ketenangan relatif, pasar minyak global kini dipaksa untuk kembali memperhitung berbagai risiko geopolitik secara cermat, terutama dalam mengantisipasi potensi perkembangan situasi darurat selama akhir pekan saat bursa perdagangan ditutup.
Dampak dari ketegangan pasokan ini tidak hanya terbatas pada minyak mentah, melainkan turut menjalar ke pasar komoditas olahan. Harga kontrak berjangka (futures) untuk produk bahan bakar diesel dan bensin tercatat mengalami kenaikan tajam. Di New York, harga kontrak berjangka diesel ditutup pada level US$ 4,90 per galon. Angka ini menandai bahwa kontrak berjangka untuk kedua komoditas produk olahan tersebut kini diperdagangkan pada level tertinggi secara musiman yang pernah tercatat dalam sejarah pasar energi.
Kebijakan pembatasan dan pengecualian bahan bakar diesel asal Rusia dari pasar internasional yang terus berlanjut telah memaksa kilang-kilang minyak di berbagai wilayah lain di dunia untuk meningkatkan aktivitas pemrosesan. Kilang-kilang tersebut harus meningkatkan pengolahan minyak mentah guna menutupi defisit pasokan dan memenuhi permintaan dunia yang tetap tinggi. Meskipun Presiden Donald Trump telah menegaskan kembali bahwa Moskow akan menepati komitmennya untuk melepas pasokan diesel, fakta di lapangan menunjukkan dinamika berbeda. Berdasarkan laporan Reuters, serangan terbaru yang merusak kilang Ryazan di wilayah Rusia semakin memperbesar keraguan pasar mengenai apakah kesepakatan pasokan diesel tersebut benar-benar dapat direalisasikan sesuai janji.
Para analis dan pelaku industri energi global juga terus memantau perkembangan situasi di kawasan Teluk Persia guna mendeteksi sinyal awal eskalasi konflik yang lebih buruk. Dalam sebuah wawancara dengan media Newsmax, Presiden Donald Trump tidak menampik kemungkinan penggunaan opsi militer, termasuk potensi penggunaan senjata berdaya ledak konvensional besar yang dijuluki “Induk dari Segala Bom” (Mother of all Bombs) terhadap Iran setelah digelarnya pemilihan umum paruh waktu pada 3 November.
Pernyataan tersebut memperkuat laporan yang dipublikasikan oleh CNN sebelumnya pada pekan ini, yang mengungkapkan bahwa militer Amerika Serikat telah menyusun rencana serangan strategis yang mencakup opsi penggunaan bom berdaya ledak raksasa jenis GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast Bomb. Menanggapi eskalasi ini, para analis riset geopolitik dari Eurasia Group merilis catatan analisis resmi yang menegaskan bahwa konflik di kawasan tersebut memiliki kecenderungan kuat untuk terus meningkat. Eurasia Group secara signifikan menaikkan estimasi probabilitas eskalasi konflik dari yang sebelumnya 35% menjadi 65%, sembari menilai bahwa status quo kebuntuan saat ini tidak lagi dapat dipertahankan oleh AS.
Sebagai respons atas krisis harga yang terus berlanjut, pemerintah Amerika Serikat berupaya mengambil langkah intervensi pasar guna meredam tekanan kenaikan harga energi. Langkah tersebut dilakukan dengan memanfaatkan cadangan energi darurat serta melobi negara-negara lain agar mengambil tindakan serupa. Pada hari Jumat, pemerintah AS secara resmi menawarkan alokasi hingga 17 juta barel minyak mentah yang bersumber dari Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve / SPR).
Secara kumulatif sepanjang tahun ini, harga minyak mentah dunia tercatat telah melonjak lebih dari 75%. Kenaikan drastis ini merupakan dampak langsung dari kombinasi perang di Timur Tengah serta perselisihan dengan Rusia yang mengganggu stabilitas distribusi pasokan global. Di pasar fisik, kondisi ketatnya ketersediaan pasokan nyata masih terus berlangsung. Produk hasil olahan minyak seperti diesel bahkan mengalami gejolak harga yang jauh lebih tajam, di mana harga kontrak berjangka (futures) untuk bahan bakar diesel di Eropa telah meningkat lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun ini.
Lonjakan harga yang sangat signifikan pada perdagangan hari Jumat dinilai para pengamat sebagai sebuah peristiwa yang tidak biasa. Pasalnya, lonjakan tersebut terjadi setelah sepanjang pekan perdagangan pasar cenderung bergerak dalam rentang terbatas (range-bound), padahal berbagai laporan berita terus menunjukkan memburuknya kondisi ketahanan energi secara global. Lebarnya kesenjangan antara harga di pasar kontrak berjangka dan pasar fisik menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi para pedagang akan risiko terjebak dalam posisi perdagangan yang salah. Dampaknya, jumlah posisi terbuka (open interest) pada kontrak acuan global sempat menyentuh level terendah sejak bulan Maret pada awal bulan ini.
Di luar faktor teknis dan risiko geopolitik tersebut, pergerakan harga minyak mentah Brent cenderung tertinggal dibandingkan dengan kenaikan harga minyak acuan Amerika Serikat dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Fenomena ini menyebabkan penyempitan selisih harga (spread) di antara kedua acuan minyak dunia tersebut. Penurunan biaya pengiriman logistik menjadi salah satu faktor pendorong peningkatkan permintaan terhadap minyak mentah AS. Berdasarkan data dari Baltic Exchange, biaya pengiriman kargo standar dari wilayah pesisir Teluk AS (US Gulf Coast) menuju Rotterdam telah turun sekitar 12% selama sepekan terakhir. Faktor teknis serta aktivitas perdagangan dari para penasihat perdagangan komoditas (commodity trading advisers) yang mengikuti tren pasar turut berkontribusi terhadap kekuatan harga relatif komoditas minyak mentah tersebut.




