BI rate ditahan 5,75%, yield SBN 10 tahun diproyeksi 7,30%-7,45%

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar obligasi pemerintah Indonesia menunjukkan resiliensi yang solid di tengah tekanan awal, merespons keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali menahan suku bunga acuan.

Advertisements

Pergerakan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun diproyeksikan akan bergerak dalam rentang yang stabil pada perdagangan hari ini, didukung oleh kebijakan makroprudensial yang tetap akomodatif.

Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan menjelaskan bahwa instrumen Indo-GB berhasil pulih pada sesi kedua perdagangan, dengan tingkat imbal hasil yang turun sekitar 1 hingga 5 basis poin (bps) pada sebagian besar tenor setelah sempat mengalami tekanan jual jelang pengumuman suku bunga BI.

Advertisements

POOL Pinjam Rp 5 Miliar dengan Jaminan 125 Juta Saham Pola Advista Finance (POLA)

Pemulihan ini terjadi seiring dengan keputusan Bank Indonesia pada 21 Oktober yang mempertahankan BI Rate pada level 5,75% untuk empat pertemuan berturut-turut.

Guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,00%.

Kondisi pasar domestik yang stabil ini turut tercermin dari imbal hasil obligasi acuan yang hanya sedikit berubah.

Tercatat, yield SBN tenor 5 tahun berada di level 7,19% atau turun 0,24 bps, sementara yield 10 tahun berada di posisi 7,41% atau turun 0,14 bps.

Fokus permintaan investor pun tampak terkonsentrasi pada segmen tenor 1 hingga 4 tahun dengan tekanan kenaikan yang terbatas pada tenor menengah hingga panjang.

Di sisi lain, dinamika global justru memberikan tantangan yang berbeda. Obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) menghadapi tekanan jual ringan yang mendorong yield tenor 10 tahun naik 1,0 bps menjadi 5,15% akibat naiknya ekspektasi inflasi dan berkurangnya minat pada aset safe-haven.

Selain itu, inflasi Inggris tercatat memanas ke level 3,5% secara tahunan (YoY) pada September 2026, dan Jepang mencatatkan pelebaran defisit neraca perdagangan menjadi JPY 536,6 miliar yang menandai defisit selama lima bulan berturut-turut.

Rupiah Melemah 7,52% Sepanjang 2026, Won Korea Selatan Menguat 8,78%

“Mengingat perkembangan terkini di pasar global dan domestik, kami memperkirakan imbal hasil Indo-GB tenor 10 tahun akan diperdagangkan di kisaran 7,30%-7,45% untuk hari ini,” kata Ridwan dalam risetnya, Kamis (22/10/2026).

Sebagai panduan perdagangan hari ini, investor dapat mencermati beberapa seri Indo-GB yang dinilai menarik, yakni seri FR0059, FR064, PBS030, FR0087, dan FR0068.

Seri-seri ini memiliki daya tarik likuiditas tersendiri, mengingat sebelumnya pergerakan pasar berdasarkan nilai transaksi (turnover) didominasi oleh seri PBS030, FR0104, dan FR0110 dengan nilai masing-masing mencapai Rp 4,77 triliun, Rp 1,84 triliun, dan Rp 1,42 triliun.

Sementara itu, berdasarkan frekuensi transaksinya, PBS030, FR0111, dan FR0102 tercatat sebagai seri yang paling aktif dipindahtangankan oleh para pelaku pasar.

Advertisements

Also Read

Tags