VKTR baru terbitkan 609 juta saham baru, tersisa 12,54 miliar saham

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mulai merealisasikan penambahan modal melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Hingga penerbitan saham pada 21 Oktober 2026, perusahaan telah menerbitkan 609,81 juta saham baru dari pelaksanaan HMETD.

Advertisements

Berdasarkan keterbukaan informasi pada 21 Oktober 2026, jumlah saham VKTR meningkat dari sebelumnya 45,59 miliar saham menjadi 46,20 miliar saham setelah penambahan tersebut.

Dengan demikian, HMETD VKTR yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan belum dilaksanakan masih mencapai 12,54 miliar saham.

Advertisements

Sebelumnya, VKTR telah memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melaksanakan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD I). Dalam aksi korporasi ini, VKTR menawarkan sebanyak 15 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 10 per saham dan harga pelaksanaan Rp 200 per saham. 

Rugi Turun 9,54% per Kuartal III 2026, Waskita Karya (WSKT) Lanjut Restrukturisasi

Ini artinya VKTR meraih dana Rp 121,96 miliar. Namun jika total rights issue tersebut dilaksanakan maka VKTR berpotensi menghimpun dana hingga Rp 3 triliun sebelum dikurangi biaya-biaya pelaksanaan.

Direktur Utama VKTR A. Ardiansyah Bakrie sebelumnya menyampaikan aksi korporasi ini ditujukan untuk memperkuat fondasi pertumbuhan bisnis kendaraan listrik komersial di Indonesia.

Dari total dana bersih yang diperoleh, sekitar 66,86% direncanakan disalurkan melalui setoran modal kepada PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI). Dana tersebut akan mendukung pembelian kendaraan listrik dari VKTR yang diperkirakan berlangsung pada 2026–2027.

Sementara itu, sisa dana akan digunakan sebagai modal kerja, termasuk untuk kebutuhan operasional dan pengadaan persediaan kendaraan listrik, seperti bus listrik, truk listrik, transporter listrik, dan forklift listrik.

Dalam pelaksanaan rights issue ini, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) selaku pemegang saham utama menyatakan tidak akan melaksanakan HMETD sesuai porsinya dan akan mengalihkan seluruh hak tersebut kepada PT Bakrie Capital Indonesia (BCI).

BCI selanjutnya akan melaksanakan HMETD yang dialihkan BNBR sebanyak 3,66 miliar saham dengan nilai pelaksanaan sekitar Rp 732,13 miliar.

Selain itu, BCI bersama PT Biofuel Indo Sumatra (BIS) bertindak sebagai pembeli siaga untuk menyerap sisa saham baru yang tidak diambil bagian oleh pemegang saham, sesuai ketentuan dalam prospektus.

Konsumsi Semen Naik per September 2026, Simak Prospek Kinerja Emiten Semen

Dari total alokasi pembeli siaga sebanyak 11,34 miliar saham, BCI akan mengambil sebanyak-banyaknya 3,09 miliar saham senilai hingga Rp 617,87 miliar. Sementara itu, BIS akan mengambil sebanyak-banyaknya 8,25 miliar saham dengan nilai hingga Rp 1,65 triliun.

VKTR sebelumnya memperingatkan bahwa pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga 25,53% apabila seluruh saham baru diterbitkan.

Adapun periode perdagangan HMETD berlangsung pada 12–16 Oktober dan 19–23 Oktober 2026, dengan batas akhir pelaksanaan HMETD pada 23 Oktober 2026.

Melalui rights issue ini, VKTR berharap dapat memperkuat kapasitas pasokan kendaraan listrik komersial sekaligus mendukung pengembangan ekosistem elektrifikasi transportasi di Indonesia, termasuk melalui layanan Electric Mobility-as-a-Service (e-MaaS) yang dikembangkan SEI.

Harga saham VKTR turun 5% di level Rp 342 per saham pada Kamis (22/10/2026). 

Advertisements

Also Read

Tags