Yield US Treasury Anjlok, Dana Asing Siap Banjiri Pasar SBN

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penurunan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun yang melandai ke level 5% menjadi salah satu katalis positif yang memberikan angin segar bagi stabilitas pasar keuangan domestik. Pergeseran dinamika likuiditas di tingkat global ini berpotensi besar membuka kembali keran masuknya aliran modal asing (foreign inflow) ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia. Selain meningkatkan likuiditas pasar obligasi dalam negeri, pergerakan ini juga secara simultan meredakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, meskipun para pelaku pasar tetap dituntut untuk mempertahankan tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap potensi risiko volatilitas global yang masih membayang.

Advertisements

Meskipun terdapat peluang yang menjanjikan, melebarnya selisih (spread) imbal hasil antara obligasi domestik dan instrumen acuan global memerlukan analisis yang lebih mendalam. Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, menilai bahwa melebarnya selisih imbal hasil obligasi memang secara teoritis memberikan ruang yang lebih luas bagi masuknya dana-dana asing ke pasar keuangan nasional. Namun demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta menjamin terjadinya arus modal masuk secara seketika atau otomatis dalam jangka pendek.

Menurut analisis dari pihak INDEF, fenomena merosotnya yield US Treasury yang terjadi saat ini lebih banyak dipicu oleh perubahan sentimen pasar global yang mengarah pada tindakan penghindaran risiko (risk-off sentiment). Dalam situasi seperti ini, para investor global akan bertindak jauh lebih rasional dan selektif dengan tetap memperhitungkan secara cermat besaran tingkat premi risiko (risk premium) investasi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Di samping itu, potensi pelebaran tekanan terhadap mata uang domestik juga masih menjadi kalkulasi utama bagi para pemilik modal sebelum melakukan penempatan dana secara signifikan.

Advertisements

Dalam keterangannya kepada Kontan pada Jumat (23/10/2026), Rizal menegaskan pentingnya faktor internal dalam menjaga daya tarik instrumen keuangan dalam negeri di mata investor internasional. “Artinya, penurunan yield SBN sangat ditentukan oleh kredibilitas fiskal dan stabilitas makroekonomi, bukan semata-mata pergerakan obligasi global,” kata Rizal. Hal ini menunjukkan bahwa masuknya modal asing yang berkesinambungan hanya akan bertahan apabila pemerintah dan otoritas moneter mampu menjaga fundamental ekonomi nasional tetap solid di tengah ketidakpastian eksternal.

Saham Energi Hijau Ada Katalis Positif, Cek Rekomendasi BREN, KEEN, TOBA, PGEO

Di sisi lain, optimisme terhadap prospek arus modal asing disampaikan oleh Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy. Ia memproyeksikan bahwa tambahan kucuran modal asing sebesar Rp5 triliun hingga Rp15 triliun masih memiliki peluang yang sangat terbuka untuk masuk ke pasar keuangan Indonesia dalam beberapa pekan ke depan. Skenario positif ini dapat terealisasi dengan catatan utama bahwa iklim investasi domestik tetap terjaga kondusif dan mampu memberikan rasa aman bagi para investor internasional.

Derasnya kucuran likuiditas asing tersebut diyakini akan memberikan dampak langsung pada pergerakan harga dan imbal hasil pasar Surat Berharga Negara. Budi memprediksi bahwa dorongan aliran modal masuk bakal memicu penurunan pada yield SBN tenor 10 tahun. Saat ini, imbal hasil SBN tenor 10 tahun bertengger di kisaran level 7,41%. Dengan masuknya tambahan dana segar dari luar negeri, imbal hasil instrumen ini diperkirakan berpotensi mengalami koreksi turun sebanyak 10 hingga 25 basis poin (bps), yang akan membawa pergerakannya menuju ke area rentang 7,15% hingga 7,30%.

Penurunan imbal hasil instrumen SBN ini berbanding lurus dengan kenaikan harga pasar obligasi pemerintah, sehingga memberikan potensi keuntungan pembentukan harga (capital gain) bagi para pemegang instrumen tersebut. Selain mengerek nilai pasar obligasi pemerintah, pergeseran arus modal global ini juga memiliki efek domino positif yang sangat signifikan dalam menopang pergerakan mata uang Garuda di pasar valuta asing.

Beranjak dari posisi nilai tukar rupiah yang saat ini bergerak di kisaran Rp 18.060 per dolar AS sebagaimana yang dicatat oleh INDEF, Budi memprediksi adanya ruang penguatan jangka pendek bagi mata uang domestik untuk menguji level ekuilibrium baru. Menurut kalkulasinya, rentang nilai tukar di area Rp 17.700 hingga Rp 18.000 per dolar AS dipandang sangat realistis untuk dicapai dalam waktu dekat. Kendati demikian, skenario penguatan rupiah ini memerlukan syarat pendukung, yaitu tren pelonggaran imbal hasil global harus diiringi oleh berlanjutnya tren pelemahan indeks dolar AS di pasar finansial internasional.

Sebagai bagian dari formulasi strategi investasi yang optimal dalam merespons momentum pergerakan yield obligasi, pelaku pasar juga perlu mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS. Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), diproyeksikan kemungkinan besar akan mengambil langkah untuk menahan suku bunga acuan pada kisaran level 3,75% hingga 4,00% dalam pengumuman kebijakan moneternya pada 28 Oktober mendatang. Seiring dengan proyeksi penahanan suku bunga tersebut, strategi pengumpulan instrumen obligasi bertenor menengah kini menjadi fokus perhatian utama yang sangat direkomendasikan untuk dikoleksi oleh para pemodal.

Mengenai penataan portofolio investasi saat ini, Budi memberikan panduan spesifik terkait pilihan durasi instrumen yang tepat. “Menurut saya, tenor menengah 5–10 tahun menawarkan keseimbangan yang cukup menarik antara imbal hasil dan risiko,” ujar Budi. Karakteristik instrumen tenor menengah dinilai ideal karena mampu memberikan tingkat pengembalian yang masih relatif tinggi tanpa memikul risiko durasi dan volatilitas harga sebesar obligasi bertenor sangat panjang.

Secara lebih detail dan spesifik, terdapat dua seri SBN berbasis konvensional yang dinilai paling layak dan prospektif untuk dicermati oleh para pelaku pasar modal. Seri pertama adalah SBN seri FR0109 yang memiliki tanggal jatuh tempo pada tahun 2031, serta seri kedua adalah SBN seri FR0108 yang akan jatuh tempo pada tahun 2036. Kedua instrumen obligasi negara ini menawarkan indikasi imbal hasil yang sangat kompetitif bagi investor, yaitu masing-masing berada pada tingkat imbal hasil sebesar 7,19% untuk seri FR0109 dan sebesar 7,38% untuk seri FR0108.

Amman Mineral (AMMN) Buyback Rp 1 Triliun, Ini Rekomendasi Analis

Sementara itu, bagi kelompok investor yang memiliki profil risiko lebih konservatif atau berhati-hati, seri SBN bertenor lebih pendek, yakni antara 3 hingga 5 tahun, disarankan untuk dijadikan sebagai prioritas utama dalam alokasi portofolio. Pemilihan tenor yang lebih pendek ini bertujuan secara khusus untuk meminimalisasi potensi risiko volatilitas harga atau penurunan nilai modal (capital loss) yang sering kali membayangi instrumen bertenor panjang ketika terjadi kejutan pergerakan suku bunga atau sentimen negatif di pasar.

Dalam mengeksekusi strategi investasi obligasi ini, para investor sangat dianjurkan untuk melakukan langkah akumulasi secara bertahap atau berkala. Taktik pembelian bertahap ini dipandang sebagai pendekatan paling bijak mengingat masih tingginya tingkat ketidakpastian geopolitik global dan dinamika makroekonomi eksternal. Faktor risiko geopolitik sewaktu-waktu berpotensi memicu gejolak baru yang dapat membalikkan arah pergerakan pasar keuangan domestik dengan sangat cepat.

Advertisements

Also Read

Tags