Investor senior pasar modal Indonesia, Lo Kheng Hong, kembali mempertebal porsi kepemilikan sahamnya pada emiten penyedia jasa pertambangan dan industri batu bara, PT ABM Investama Tbk (ABMM). Dalam kurun waktu sepanjang bulan Oktober 2026, investor kawakan yang dikenal mengusung strategi investasi nilai tersebut tercatat telah melancarkan aksi akumulasi pembelian saham perseroan sebanyak delapan kali transaksi terpisah di pasar reguler. Rangkaian aksi transaksi secara berkelanjutan ini berdampak langsung pada lonjakan total kepemilikan sahamnya hingga menembus angka 156,79 juta lembar saham, atau setara dengan porsi kepemilikan sebesar 5,70 persen dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh oleh perseroan.
Aksi borong saham yang dilakukan secara gradual oleh Lo Kheng Hong sepanjang Oktober 2026 mencerminkan komitmen investasi yang berkelanjutan pada emiten pertambangan batu bara tersebut. Berdasarkan rincian data laporan publikasi transaksi kepemilikan saham, transaksi pembelian paling mutakhir yang dilakukannya berlangsung pada akhir pekan, yaitu hari Jumat (23/10). Pada transaksi pamungkas bulan ini, Lo Kheng Hong mengeksekusi pembelian sebanyak 35.700 lembar saham ABMM. Walaupun jumlah pembelian dalam transaksi tunggal ini tergolong relatif kecil dibandingkan dengan beberapa eksekusi sebelumnya, transaksi tersebut secara resmi menggeser tingkat kepemilikan sahamnya dari posisi awal 156.762.700 lembar saham atau 5,69 persen menjadi tepat 156.798.400 lembar saham atau menyentuh level 5,70 persen.
Empat hari sebelum transaksi pada hari Jumat tersebut dieksekusi, tepatnya pada perdagangan hari Senin (19/10), Lo Kheng Hong telah terlebih dahulu mencatatkan transaksi akumulasi saham dalam skala yang jauh lebih besar. Pada awal pekan ketiga bulan Oktober tersebut, ia membeli sebanyak 275.000 lembar saham PT ABM Investama Tbk. Transaksi pada tanggal 19 Oktober ini menjadi volume pembelian saham terbesar dalam satu hari transaksi di antara seluruh rangkaian delapan transaksi yang tercatat sepanjang bulan berjalan ini.
Intensitas transaksi pembelian saham ABMM oleh Lo Kheng Hong juga tampak sangat aktif pada pertengahan bulan Oktober. Sebelum mencatatkan transaksi terbesar pada tanggal 19 Oktober, serangkaian aksi beli harian telah dilakukan secara berturut-turut. Pada perdagangan hari Jumat (16/10), Lo Kheng Hong membeli sebanyak 93.200 lembar saham perseroan. Sehari sebelumnya, yaitu pada hari Kamis (15/10), ia menambah porsi portofolionya sebanyak 120.400 lembar saham. Adapun rangkaian akumulasi pada pertengahan bulan tersebut dimulai pada hari Rabu (14/10), dengan realisasi pembelian sebanyak 10.000 lembar saham ABMM.
Jejak akumulasi saham oleh Lo Kheng Hong sebenarnya sudah dimulai sejak pekan pertama bulan Oktober 2026. Berdasarkan rekapitulasi data transaksi, pada hari Rabu (7/10), investor bersangkutan tercatat melancarkan transaksi sebanyak dua kali dalam satu hari perdagangan yang sama. Pada transaksi pertama di hari tersebut, ia memboyong 40.000 lembar saham, yang kemudian dilanjutkan dengan transaksi kedua sebanyak 10.000 lembar saham, sehingga total akumulasi harian pada tanggal 7 Oktober mencapai 50.000 lembar saham. Rangkaian aksi beli pada bulan Oktober ini secara resmi dibuka pada hari Senin (5/10), di mana Lo Kheng Hong membeli sebanyak 50.000 lembar saham emiten batu bara tersebut.
Secara keseluruhan, berdasarkan hasil kalkulasi dari delapan kali transaksi yang terealisasi sepanjang Oktober 2026, total akumulasi saham PT ABM Investama Tbk yang dikumpulkan oleh Lo Kheng Hong mencapai 634.300 lembar saham. Penambahan volume saham ini secara bertahap mendorong posisi kepemilikan saham pribadinya dari angka 156.164.100 lembar saham pada awal periode akumulasi di awal bulan Oktober, hingga akhirnya mencapai angka akhir 156.798.400 lembar saham pada akhir periode transaksi per Jumat (23/10).
Aksi akumulasi saham secara masif oleh Lo Kheng Hong ini berlangsung seiring dengan capaian kinerja keuangan PT ABM Investama Tbk yang mencatatkan pertumbuhan positif pada paruh pertama tahun ini. Berdasarkan publikasi laporan keuangan untuk periode semester I 2026, perseroan berhasil membukukan lonjakan laba bersih konsolidasian yang cukup signifikan. ABMM meraup laba bersih sebesar US$ 39,4 juta pada semester I 2026. Capaian laba bersih tersebut mengalami peningkatan pesat sebesar 41,9 persen apabila dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya (semester I 2025) yang mencatatkan angka US$ 27,7 juta.
Di sisi lain, jika ditinjau dari pos pendapatan konsolidasian, performa PT ABM Investama Tbk berada dalam kondisi yang relatif stagnan sepanjang semester I 2026. Perseroan mengantongi total pendapatan konsolidasian sebesar US$ 506,2 juta pada enam bulan pertama tahun 2026. Angka pendapatan ini memperlihatkan adanya penurunan yang amat tipis, yaitu hanya sebesar 0,1 persen jika disandingkan dengan capaian pendapatan pada semester I 2025 yang tercatat sebesar US$ 506,9 juta.
Meskipun tingkat pendapatan bergerak cenderung mendatar, indikator profitabilitas operasional perseroan berupa Adjusted EBITDA (adjusted earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization) justru mengalami pertumbuhan. PT ABM Investama Tbk mencatatkan kenaikan Adjusted EBITDA sebesar 6,4 persen pada semester I 2026, dengan total nilai mencapai US$ 346,9 juta. Angka ini meningkat secara terukur dari periode yang sama tahun lalu (semester I 2025) yang berada pada level US$ 326 juta.
Dari sudut pandang kinerja operasional tambang, pendorong utama dari pencapaian perseroan tercermin pada kenaikan volume coal getting atau penambangan dan pengambilan batu bara secara fisik. Sepanjang periode semester I 2026, volume coal getting perseroan mengalami peningkatan sebesar 14 persen menjadi 17,9 juta ton, dibandingkan dengan volume perolehan batu bara pada semester I 2025 yang sebesar 15,7 juta ton.
Namun demikian, beberapa indikator operasional pendukung perseroan tercatat mengalami penurunan sepanjang semester I 2026. Volume overburden removal atau aktivitas pengupasan dan pemindahan lapisan tanah penutup tambang mengalami koreksi sebesar 12,7 persen, dari posisi 112,2 juta bank cubic meter (bcm) pada semester I 2025 menjadi 98 juta bcm pada semester I 2026. Selain itu, porsi penjualan bahan bakar yang dikelola oleh perseroan juga mencatatkan penurunan sebesar 26,5 persen, yaitu susut dari angka 193 juta liter pada semester I 2025 menjadi 141,9 juta liter pada semester I 2026.




