The Fed tetap menahan suku bunga acuan meski inflasi AS melonjak

Hikma Lia

Jakarta, IDN Times – Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75-4 persen. Keputusan yang diambil pada Rabu (28/10/2026) tersebut disepakati melalui pemungutan suara dengan hasil 10 berbanding 2, menjelang pemilihan paruh waktu di AS.

Advertisements

Hasil tersebut sejalan dengan perkiraan pasar yang mencatat peluang penahanan suku bunga lebih dari 90 persen berdasarkan data CME FedWatch. Keputusan itu diambil ketika inflasi tahunan AS kembali meningkat, dari 3,4 persen pada Agustus menjadi 3,7 persen pada September.

1. Kenaikan harga energi mendorong inflasi AS

Advertisements

Dalam pernyataan resminya, The Fed menyebut perekonomian AS masih tumbuh kuat di tengah ketidakpastian geopolitik. Bank sentral juga menilai belanja domestik tetap tangguh, produktivitas meningkat pesat, investasi modal tetap kokoh, pertambahan lapangan kerja sejalan dengan angkatan kerja, serta tingkat pengangguran relatif stabil.

“Aktivitas ekonomi berkembang dengan kecepatan yang kuat. Meskipun ketidakpastian tetap tinggi yang disebabkan, sebagian, oleh perkembangan geopolitik, belanja domestik tetap tangguh. Pertumbuhan produktivitas kuat, dan investasi modal kokoh. Pertambahan lapangan kerja telah sejalan dengan angkatan kerja, dan tingkat pengangguran sedikit berubah,” kata The Fed, dikutip Al Jazeera.

Meski demikian, inflasi yang masih tinggi menjadi perhatian utama dalam penentuan kebijakan berikutnya. Kenaikan tajam harga gas, solar, dan minyak mentah menjadi pemicu inflasi yang membebani konsumen sekaligus berdampak pada perekonomian secara luas.

Indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam mengukur inflasi, dijadwalkan dirilis pada Kamis dan diperkirakan mencapai 3,7 persen. Ekonom Morgan Stanley menilai pernyataan resmi bank sentral mengisyaratkan bahwa pengetatan moneter belum sepenuhnya berakhir, sementara keputusan selanjutnya akan bergantung pada data ekonomi terbaru untuk mengarahkan inflasi menuju target 2 persen.

2. Perbedaan pendapat muncul di internal The Fed

Ketua The Fed Kevin Warsh mengumumkan perubahan jadwal pertemuan kebijakan menjadi tujuh kali pada tahun depan, dan berkurang dua kali lagi pada 2028. Penyesuaian tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. Warsh menilai aktivitas ekonomi riil bergerak ke arah yang tepat meski inflasi masih terlalu tinggi dan lonjakan harga energi perlu dicegah agar tak meluas.

Dukungan terhadap pendekatan menunggu perkembangan ekonomi juga disampaikan Ketua Pengawasan Michelle Bowman saat menghadiri pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand. Bowman menilai belum ada kebutuhan mendesak untuk mengambil langkah tambahan karena dampak perkembangan ekonomi masih membutuhkan waktu untuk dipahami.

Berbeda dari keputusan September yang disepakati bulat dengan hasil 12-0 untuk menaikkan suku bunga pertama kalinya sejak Juli 2023, pemungutan suara terbaru memperlihatkan perbedaan pandangan di internal bank sentral. Gubernur Lisa Cook dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack memilih berbeda pendapat karena mendukung kenaikan suku bunga, sekaligus menjadikan keputusan tersebut sebagai perbedaan pendapat pertama bagi Cook.

3. The Fed bantah tekanan politik memengaruhi kebijakan

Keputusan mempertahankan suku bunga diambil di tengah tekanan politik dari Presiden AS Donald Trump. Melalui akun Truth Social, Trump menyampaikan bahwa suku bunga idealnya berada di level 1 persen atau lebih rendah.

Survei NBC News menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap penanganan biaya hidup oleh Trump hanya mencapai 27 persen, sedangkan untuk penanganan perang Iran sebesar 29 persen. Dalam survei yang sama, sekitar dua pertiga warga menilai kenaikan harga gas sebagai persoalan serius.

Warsh membantah tekanan politik maupun agenda pemilihan paruh waktu memengaruhi keputusan dewan, sekaligus menepis tuduhan bahwa para anggota dewan bersikap bermusuhan terhadap presiden. Ia menggambarkan proses pengambilan keputusan tersebut sebagai diskusi internal yang berlangsung serius sebelum para anggota mencapai kesepakatan.

“Kami baru saja keluar dari pertengkaran keluarga yang hebat, diskusi yang serius dan sadar. Saya pikir kami sampai pada keputusan kebijakan yang tepat untuk saat ini, dan saya merasa terhormat berada di sini dan merasa terhormat menjadi ketua kelompok ini,” kata Warsh, dikutip NBC News.

Pertemuan kebijakan The Fed berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 8–9 Desember 2026. Proyeksi pasar saat ini mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin sebagai keputusan terakhir bank sentral pada tahun ini.

Bitcoin Merosot ke US$80.000, Rapat The Fed Jadi Acuan Harga Jelang Rapat The Fed 28 Oktober, Ini yang Dipantau Investor 4 Alasan The Fed mulai Waspada terhadap Pasar Obligasi AS

Advertisements

Also Read

Tags