Hashim ramal rupiah bisa sentuh Rp22.000 per dolar efek MSCI

Hikma Lia

Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Hashim Djojohadikusumo memperingatkan risiko pelemahan rupiah hingga menembus Rp22.000 per dolar Amerika Serikat (AS) imbas keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI berpotensi menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. 

Advertisements

Hashim mendorong pemerintah perlu segera menyelesaikannya untuk menjaga kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia. Penurunan kepercayaan investor berpotensi mendorong arus keluar modal asing dan menekan nilai tukar rupiah.

Ia memperingatkan, jika investor asing menarik dananya dari pasar modal Indonesia, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat. 

Advertisements

“Rupiah bisa semakin lemah. Saya sudah hitung bisa jadi 20-21 ribu. Ada yang bilang 22 ribu,” ujar Hashim dalam Rapimnas Kadin, di Jakarta, Kamis (29/10). 

Hashim juga mengingatkan pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban pembayaran pinjaman luar negeri. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap perekonomian apabila terjadi bersamaan dengan keluarnya modal asing dari pasar keuangan domestik.

“Saya pernah diskusi sama Pak Rosan (CEO BPI Danantara), kalau itu terjadi rupiah bisa Rp 21.000-Rp 22.000, pinjaman luar negeri kita harus kita bayar lebih mahal, ini bisa jadi bencana dan malapetaka bagi ekonomi Indonesia,” kata Hashim. 

Selain persoalan transparansi kepemilikan, Hashim menyoroti dugaan praktik penggorengan saham yang dinilai dapat merusak pembentukan harga di pasar modal. Ia menyebut terdapat indikasi perdagangan saham yang tidak sehat, termasuk saham dengan porsi saham beredar publik atau free float yang terbatas dan pergerakan harga yang dinilai tidak wajar.

Hashim meminta pelaku usaha, termasuk anggota Kadin, tidak terlibat dalam praktik tersebut. Menurut dia, persoalan integritas pasar saham perlu ditangani agar investor domestik maupun asing tetap memiliki kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.

“Mohon dengan sangat praktek goreng-gorengan segera dihentikan,” ujarnya.

Hashim juga memperingatkan bahwa dampak persoalan tersebut dapat meluas kepada investor ritel. Ia menyebut terdapat sekitar 32,7 juta individu Indonesia yang  memiliki rekening efek dan berinvestasi melalui bursa.

Penulis: Reihan Cahyan (magang)

Advertisements

Also Read

Tags