BANYU POS – JAKARTA. Pasar instrumen investasi berbasis valuta asing menunjukkan dinamika yang sangat bervariasi. Industri reksadana berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) atau USD dengan aset dasar (underlying asset) berupa saham luar negeri dan efek global berhasil mencatatkan kinerja paling mengkilap. Kategori investasi ini memimpin perolehan median imbal hasil (return) dibandingkan dengan instrumen berbasis dolar AS lainnya di pasar modal domestik.
Berdasarkan data riset yang dirilis oleh PT Infovesta Utama per 30 September 2026, mayoritas produk reksadana saham berdenominasi USD mencatatkan performa yang sangat positif. Dari total 37 produk reksadana saham USD yang beredar di industri pasar modal Indonesia, sebanyak 29 produk di antaranya berhasil membukukan imbal hasil yang positif. Secara umum, reksadana efek atau saham luar negeri berdenominasi dolar AS ini mayoritas berbasis pada instrumen saham global syariah, di mana rata-rata kinerjanya mampu membukukan imbal hasil sekitar 18% secara year to date (YtD).
Capaian tersebut semakin diperkuat oleh performa dari sejumlah produk reksadana yang mengalokasikan portofolio investasinya di kawasan Asia Pasifik. Beberapa produk di segmen ini bahkan sanggup mencatatkan pertumbuhan imbal hasil hingga lebih dari 30% YtD. Angka pertumbuhan tersebut jauh mengungguli kategori reksadana berbasis dolar AS lainnya. Sebagai perbandingan, reksadana pasar uang USD mencatatkan imbal hasil sebesar 1,9% YtD. Sementara itu, reksadana pendapatan tetap USD justru menghadapi tantangan dan terkoreksi sekitar 2% YtD pada periode yang sama.
Divergensi Kinerja Kelas Aset: Saham Global Mengungguli Pendapatan Tetap
Menanggapi adanya perbedaan kinerja yang signifikan antarjenis reksadana berdenominasi USD tersebut, pihak pengelola investasi memberikan penjelasan mendalam. Presiden Direktur merangkap Plt Direktur Marketing PT Bahana TCW Investment Management, Danica Adhitama, menyampaikan bahwa divergensi atau perbedaan kinerja ini secara langsung dipengaruhi oleh karakter kelas aset serta komposisi portofolio yang diterapkan pada masing-masing produk reksadana.
Menurut penjelasan Danica, faktor utama yang menjadi pendorong kokohnya kinerja reksadana saham USD adalah adanya eksposur investasi yang kuat pada pasar kawasan Asia Pasifik serta sektor teknologi global. Sektor teknologi ini mencakup emiten-emiten atau perusahaan dunia yang terlibat langsung dan menerima dampak positif dari siklus investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta rantai pasok industri semikonduktor. Tingginya eksposur pada sektor berprospek tinggi ini memberikan dorongan signifikan terhadap perolehan imbal hasil portofolio saham global tersebut.
Sebaliknya, reksadana pendapatan tetap USD mengalami kondisi yang bertolak belakang. Instrumen investasi ini harus menghadapi tekanan seiring dengan kenaikan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury. Tekanan tersebut terutama bersumber dari peningkatan imbal hasil riil (real yields) di pasar obligasi global.
Pergerakan penyesuaian pada imbal hasil US Treasury tersebut mencerminkan adaptasi ekspektasi dari para pelaku pasar keuangan global. Hal ini terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), mengambil keputusan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 3,75% hingga 4,00% pada September 2026. Langkah tersebut diambil oleh otoritas moneter seiring dengan tingkat inflasi di Amerika Serikat yang mencatatkan angka 3,7% pada September 2026. Kondisi inflasi yang persisten ini memicu antisipasi pasar bahwa suku bunga acuan AS akan dipertahankan di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer).
Mekanisme Imbal Hasil dan Dampak Pergerakan Kurs bagi Investor Domestik
Bagi investor domestik di Indonesia, hasil akhir yang diperoleh dari investasi pada reksadana berdenominasi USD dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor. Danica Adhitama menjelaskan bahwa terdapat dua komponen utama yang memengaruhi hasil investasi reksadana USD bagi investor dalam negeri.
Komponen pertama adalah kinerja dari produk reksadana itu sendiri dalam denominasi mata uang dolar AS, yaitu kenaikan nilai aktiva bersih dari portofolio aset yang dikelola. Komponen kedua adalah pergerakan nilai tukar mata uang, khususnya dinamika perubahan kurs dolar AS terhadap mata uang rupiah.
Dalam konteks ini, fenomena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memberikan kontribusi positif terhadap hasil konversi nilai investasi kembali ke dalam mata uang rupiah. Namun demikian, Danica menggarisbawahi bahwa kontribusi dari faktor konversi mata uang tersebut dapat berbeda-beda bagi setiap investor. Besar kecilnya dampak konversi sangat bergantung pada momentum atau waktu pelaksanaan transaksi pembelian maupun penjualan, serta tingkat kurs yang berlaku saat transaksi dilakukan oleh investor.
Katalis Utama dan Strategi Diversifikasi Portofolio
Mempertimbangkan kondisi pasar saat ini, pergerakan kinerja reksadana berdenominasi USD ke depan masih akan dipengaruhi oleh sejumlah katalis penting di tingkat global maupun domestik. Di ranah internasional, arah kebijakan suku bunga acuan The Fed menjadi perhatian utama pasar. Selain itu, dinamika pergerakan imbal hasil US Treasury serta kondisi geopolitik global juga menjadi variabel kunci yang menentukan arah pergerakan pasar keuangan.
Dari sisi pasar domestik, tingkat volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap menjadi salah satu pertimbangan penting bagi para investor dalam mengelola portofolio mereka. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, reksadana USD dipandang masih memiliki peluang yang cukup besar sebagai alternatif investasi yang mampu memberikan eksposur langsung terhadap aset-aset berkualitas dalam mata uang asing.
Dari perspektif industri pengelola investasi, PT Bahana TCW Investment Management mengamati bahwa tren minat investor terhadap produk reksadana berbasis USD menunjukkan perkembangan yang positif. Peningkatan tren ini sejalan dengan semakin tingginya pemahaman dan kesadaran para investor domestik mengenai pentingnya melakukan diversifikasi portofolio investasi, termasuk dengan menempatkan dana pada instrumen berdenominasi valuta asing.
Meskipun minat pasar terus tumbuh, Danica Adhitama mengimbau para pemodal untuk tetap mengedepankan analisis yang rasional. Keputusan untuk berinvestasi pada reksadana USD sebaiknya tidak semata-mata didasarkan pada ekspektasi penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Sebaliknya, investasi pada instrumen ini hendaknya dijadikan sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio yang terukur, terencana, dan sesuai dengan tujuan keuangan jangka panjang.




