BANYU POS – JAKARTA. Imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun terus menanjak dan telah mencapai level 7,65%. Ekonom menyebut kenaikan yield SUN ini lebih banyak dipicu oleh faktor domestik.
Kenaikan yield SUN juga kompak terjadi pada tenor lain. Yield SUN tenor 5 tahun misalnya, telah merangkak ke 7,52% dan tenor 30 tahun juga sudah terbang ke 7,76%.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, kenaikan yield yang terjadi dalam sebulan terakhir telah mencerminkan risiko domestik, ketimbang sentimen global.
Sebab pada periode yang sama, yield US Treasury (UST) justru melandai. Saat ini yield UST tenor 10 tahun berada di level 4,92%, turun 1,44% sepekan dan 7,11% sebulan terakhir.
Di sisi lain, credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun juga meningkat cukup tajam dibandingkan posisi akhir 2025 dan awal 2026, menjadi 154 bps.
“Ini menunjukkan bahwa kenaikan yield dalam sebulan terakhir lebih mencerminkan peningkatan premi risiko Indonesia daripada perubahan kondisi global,” ujar Yusuf kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).
Waspada! Yield SBN 10 Tahun Berpotensi Melonjak ke Level 7,8%
Yusuf bilang, tekanan domestik beberapa waktu terakhir ini berasal dari beberapa faktor yang saling berkaitan. Usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market ke standalone market memicu guncangan kepercayaan yang merembet ke obligasi dan rupiah.
Pada saat yang sama, pasar mencermati kenaikan beban subsidi dan kompensasi energi ketika defisit mendekati batas 3%.
Selain itu, tekanan juga datang dari kebutuhan penerbitan SBN yang masih besar hingga akhir tahun, sementara pelemahan rupiah membuat investor meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi risiko kurs.
Kemenkeu mencatat realisasi penerbitan SBN hingga akhir September 2026 mencapai Rp 497,5 triliun atau 62,2% dari target Rp 799,5 triliun. Dengan demikian, pemerintah masih perlu menerbitkan sekitar Rp 302 triliun SBN hingga akhir tahun.
Tetapi, permintaan lelang SUN terpantau melemah. “Lemahnya permintaan pada lelang 27 Oktober memperlihatkan bahwa investor mulai lebih berhati-hati dalam menyerap tambahan pasokan,” kata Yusuf.
DJPPR Kementerian Keuangan mencatat, nominal SUN yang dimenangkan pemerintah mencapai Rp 20,65 triliun pada 27 Oktober 2026, turun dibandingkan Rp 35 triliun pada lelang 13 Oktober 2026. Nilai ini juga lebih rendah dari target indikatif sebesar Rp 30 triliun.
Total penawaran yang masuk dalam lelang tercatat Rp 31,09 triliun, turun dari Rp 64,9 triliun pada lelang 13 Oktober 2026.
Prediksi Yield SUN
Hingga akhir tahun, Yusuf memperkirakan, yield SUN 10 tahun masih berisiko bertahan tinggi dan bergerak di kisaran 7,5% sampai 7,9%. Yield dapat menembus 8% apabila harga minyak tetap tinggi, sinyal fiskal tidak membaik, dan The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Desember.
Lebih lanjut, dampak dari tekanan ini dapat perlahan menyebar ke seluruh pasar keuangan. Penurunan harga obligasi menimbulkan kerugian nilai pasar bagi bank, asuransi, dan reksadana pendapatan tetap.
Yield SBN Tembus 7,7%, Daya Tarik Obligasi Korporasi hingga Akhir 2026 Ikut Terancam
Yield obligasi korporasi ikut naik sehingga biaya pendanaan dunia usaha meningkat dan ruang penurunan bunga kredit semakin terbatas. Di pasar valuta asing juga terbentuk lingkaran tekanan.
Maka, untuk memutus lingkaran tersebut, pemerintah perlu mengelola pasokan sekaligus memulihkan kepercayaan. Target lelang pada sisa tahun dapat dikurangi dengan memanfaatkan saldo anggaran lebih (SAL) untuk menutup sebagian kebutuhan pembiayaan, sehingga pemerintah tidak mengunci biaya bunga tinggi untuk jangka panjang.
“Penerbitan SBN ritel juga dapat diperbesar untuk memperluas basis investor domestik. Namun yang paling penting tetap sinyal fiskal yang kredibel melalui komitmen menjaga defisit di bawah 3% dan peta jalan subsidi energi yang lebih tepat sasaran,” kata Yusuf.




