BANYU POS JAKARTA. Kinerja berbagai instrumen investasi tertekan sepanjang Oktober 2026. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury, serta ketidakpastian geopolitik mendorong investor menghindari aset berisiko.
Tekanan paling dalam terjadi di pasar saham dan kripto. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 16,23% secara bulanan, sementara harga Bitcoin dan Ethereum masing-masing turun 7,37% dan 16,28%.
Di pasar obligasi, surat utang pemerintah juga mengalami koreksi. Sebaliknya, sejumlah mata uang asing menguat terhadap rupiah. Emas Antam dan obligasi korporasi pun masih membukukan kinerja positif sejak awal tahun.
IHSG Masih Dibayangi Sentimen MSCI, Simak Proyeksi Analis untuk Senin (2/11)
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas dunia pada 30 Oktober 2026 berada di US$ 3.874,62 per ons troi. Harga tersebut turun 6,80% secara bulanan dan 10,30% secara year to date (YtD).
Sementara itu, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada 31 Oktober 2026 mencapai Rp 2.526.000 per gram. Harganya terkoreksi 2,66% secara bulanan, tetapi masih naik 1,53% sejak awal tahun.
Tekanan lebih besar terjadi di pasar kripto. Mengutip CoinMarketCap, harga Bitcoin pada 31 Oktober 2026 berada di US$ 77.461,39, turun 7,37% dibandingkan akhir September. Secara YtD, Bitcoin terkoreksi 11,48%.
Ethereum mengalami koreksi lebih dalam, yakni 16,28% secara bulanan menjadi US$ 2.241,05. Sejak awal tahun, aset kripto tersebut telah melemah 24,47%. Di tengah tekanan pasar, token Hyperliquid (HYPE) justru mencatatkan kenaikan sekitar 8,1% ke kisaran US$ 93.
Di pasar saham, IHSG menjadi salah satu instrumen dengan penurunan terdalam. Pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026), IHSG berada di level 5.057,05 atau anjlok 16,23% secara bulanan.
Sepanjang tahun berjalan, indeks saham domestik telah terkoreksi 41,25%.
Catat! Saham HSC Resmi Keluar dari Perhitungan IHSG Mulai Senin (2/11)
Tekanan juga terlihat di pasar obligasi. Mengutip data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), Indobex Government Bond Total Return berada di level 420,34 pada Oktober 2026. Indeks ini turun 1,84% secara bulanan dan 2,54% secara YtD.
Adapun Indobex Corporate Bond Total Return terkoreksi 0,21% secara bulanan ke level 523,2. Meski demikian, indeks obligasi korporasi masih mencatatkan kenaikan 2,35% sejak awal tahun.
Sentimen global dan domestik tekan pasar
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, tekanan terhadap berbagai instrumen investasi tidak terlepas dari perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS, kenaikan harga energi, dan penguatan dolar AS.
Menurut Yusuf, koreksi harga emas dunia sepanjang Oktober lebih mencerminkan perubahan ekspektasi suku bunga dibandingkan hilangnya fungsi emas sebagai aset lindung nilai.
“Kenaikan harga energi mendorong ekspektasi inflasi AS dan membuat pasar kembali memperhitungkan kebijakan The Fed yang lebih ketat,” ujar Yusuf kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).
Menakar Pergerakan IHSG dan Saham Rekomendasi Analis Sepanjang November 2026
Tekanan juga terlihat pada obligasi pemerintah. Yusuf mencatat, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun meningkat sekitar 55 basis poin hingga 60 basis poin sepanjang Oktober dan mencapai 7,707% pada 28 Oktober 2026.
Pelebaran selisih yield SBN terhadap US Treasury menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya berasal dari faktor global. Pasar juga meminta premi risiko lebih tinggi terhadap Indonesia akibat pelemahan rupiah, arus keluar modal asing, kekhawatiran terhadap status pasar saham Indonesia, serta meningkatnya beban fiskal dari kompensasi energi.
Di sisi lain, obligasi korporasi relatif lebih tahan terhadap kenaikan yield. Hal ini antara lain karena durasi obligasi korporasi cenderung lebih pendek sehingga pergerakan harganya relatif lebih stabil.
Tekanan serupa terjadi di pasar kripto. Financial Expert Ajaib Panji Yudha mengatakan, sentimen risk-off global menjadi salah satu pemicu pelemahan aset kripto sepanjang Oktober.
Faktor pemicunya antara lain keputusan The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75%-4,00%, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta penguatan dolar AS.
Selain itu, reli harga kripto pada Agustus dan September diikuti aksi ambil untung karena tidak ada katalis baru yang cukup kuat untuk mempertahankan kenaikan.
Cermati Saham yang Banyak Diborong Asing Saat IHSG Melemah ke 5.057 di Akhir Pekan
Tekanan juga tercermin dari arus dana produk investasi kripto. Produk spot Ethereum exchange-traded fund (ETF) mencatatkan arus dana keluar bersih sekitar US$ 1,45 miliar sepanjang Oktober. Kondisi ini berbalik dari September yang masih membukukan arus masuk US$ 832 juta.
Akibatnya, aset kelolaan atau asset under management (AUM) ETF Ethereum turun dari US$ 17,6 miliar menjadi sekitar US$ 14 miliar.
Sementara itu, ETF Bitcoin masih mencatatkan arus dana masuk bersih sekitar US$ 128 juta pada Oktober. Namun, angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan arus masuk US$ 2,65 miliar pada September.
Panji menambahkan, dugaan peretasan yang melibatkan Binance pada 29 Oktober 2026 turut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap keamanan bursa kripto tersentralisasi.
Di pasar saham, Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, keputusan The Fed mempertahankan suku bunga belum cukup menjadi katalis positif bagi IHSG. Investor masih mencermati arah kebijakan moneter AS ke depan.
Selain itu, isu transparansi pasar, potensi reklasifikasi Indonesia oleh MSCI, serta aksi jual bersih investor asing turut membebani pergerakan saham domestik.
Mata uang asing menguat
Berbeda dengan saham, kripto, dan obligasi pemerintah, mayoritas mata uang asing justru menguat terhadap rupiah sepanjang Oktober 2026.
Berdasarkan data Bloomberg, dolar Kanada (CAD) mencatatkan penguatan bulanan tertinggi sebesar 2,96% ke level Rp 12.996,23. Berikutnya, franc Swiss (CHF) menguat 2,75% menjadi Rp 22.085,44 dan pound sterling Inggris (GBP) naik 2,48% ke Rp 24.346,26.
Dolar Australia (AUD) juga menguat 2,23% ke Rp 12.670,62. Sementara itu, dolar AS naik 1,41% menjadi Rp 18.147, dolar Singapura (SGD) menguat 1,33% ke Rp 14.205,31, dan yen Jepang (JPY) naik 1,21% menjadi Rp 115,39.
Euro (EUR) menjadi satu-satunya mata uang dalam daftar tersebut yang melemah terhadap rupiah, yakni sebesar 0,05% ke level Rp 20.314,95.
Jika dihitung sejak awal tahun, dolar Australia mencatatkan penguatan tertinggi terhadap rupiah, yakni 13,50%. Disusul dolar Singapura sebesar 9,53%, dolar AS 8,79%, pound sterling 8,69%, yen Jepang 8,33%, dolar Kanada 6,79%, franc Swiss 5,13%, dan euro 3,83%.
Menilik Nasib Pasar Saham Indonesia Jelang Review MSCI November 2026
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pergerakan rupiah masih dibayangi sentimen risk-off global dan aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik.
Menurut Lukman, penguatan dolar Kanada, franc Swiss, dan pound sterling yang lebih tinggi dibandingkan dolar AS juga dipengaruhi penguatan masing-masing mata uang tersebut terhadap dolar AS.
Prospek dan strategi investasi akhir tahun
Memasuki akhir 2026 hingga awal 2027, prospek berbagai instrumen investasi masih akan dipengaruhi arah kebijakan moneter AS, perkembangan geopolitik, stabilitas rupiah, dan pemulihan arus modal asing.
Di pasar emas, Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo memproyeksikan harga emas dunia berpeluang mencapai US$ 4.300 per ons troi.
Menghadapi volatilitas harga, Sutopo menyarankan investor menghindari aksi jual panik dan pembelian sekaligus dalam jumlah besar. Investor dapat menerapkan pembelian bertahap secara rutin setiap bulan dengan menggunakan dana dingin dan berorientasi jangka panjang.
Di pasar kripto, Panji memproyeksikan harga Bitcoin berpeluang mencapai US$ 85.000-US$ 87.000 pada akhir 2026 dan US$ 100.000-US$ 105.000 pada awal 2027.
Sementara itu, Ethereum diperkirakan bergerak di kisaran US$ 2.900-US$ 3.200 pada akhir tahun dan US$ 3.600-US$ 4.000 pada awal 2027.
Untuk strategi investasi, Panji menyarankan penerapan dollar-cost averaging (DCA), terutama pada Bitcoin dan Ethereum ketika harga mendekati area support. Investor juga dapat mempertahankan 20%-30% portofolio dalam bentuk kas atau stablecoin sebagai cadangan likuiditas.
Volatilitas IHSG Masih Tinggi, Kapitalisasi Pasar Bakal Ikut Tertekan
Diversifikasi, pembatasan eksposur pada aset berisiko tinggi, serta menghindari penggunaan leverage berlebihan juga menjadi hal penting untuk menjaga risiko investasi.
Di pasar saham, Nafan memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan tertekan hingga akhir 2026 apabila arus dana asing belum berbalik secara konsisten.
Secara teknikal, IHSG diproyeksikan memiliki level support di 4.777 dan resistance di 5.810.
Dalam kondisi tersebut, investor dapat mencermati saham sektor perbankan yang memiliki kualitas aset, permodalan, dan pertumbuhan kredit kuat. Saham sektor komoditas yang didukung tren harga global serta sektor konsumer defensif juga layak dicermati.
Sementara itu, Yusuf memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun akan bertahan di kisaran 7,4%-7,7% hingga akhir 2026. Risiko kenaikan menuju 8% tetap terbuka apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga dan tekanan arus modal berlanjut.
Sebaliknya, yield berpeluang turun mendekati 7,2% apabila harga minyak mereda dan rupiah kembali stabil. Untuk mengantisipasi volatilitas yield, Yusuf menyarankan investor mempertahankan durasi portofolio obligasi tetap pendek dan melakukan akumulasi secara bertahap.
IHSG Diprediksi Masih Tertekan Pekan Depan, Simak Rekomendasi EXCL, MEDC, dan TAPG
Di pasar valuta asing, Lukman memperkirakan dolar AS berada di kisaran Rp 18.300-Rp 18.500 pada akhir 2026 dan berpotensi mencapai Rp 19.000 pada semester I-2027.
Dengan asumsi pergerakan USD/IDR sesuai proyeksi tersebut, dolar Kanada diperkirakan berada di kisaran Rp 13.100-Rp 13.300, franc Swiss Rp 22.500-Rp 22.800, dan pound sterling Rp 24.400-Rp 24.700.




