BANYU POS JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,79% ke level 5.096,83 pada akhir perdagangan Senin (2/11). Ini merupakan perdagangan perdana IHSG tanpa menghitung saham High Shareholding Concentration (HSC).
Keluarnya saham dengan status HSC juga mengubah kontributor pergerakan IHSG. BEI tetap menggunakan metode Capped Free Float Adjusted Market Capitalization Weighted dengan batas maksimal 9%.
Adapun saham-saham perbankan besar dan emiten konvensional akan menguasai pergerakan IHSG. Bobot saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun dari 9,1% menjadi 9% pasca rebalancing.
Sementara bobot PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik dari 8,2% menjadi 9%. Bobot saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga naik dari 5,9% menjadi 7,4% pasca penyesuaian.
Bobot saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga ikut meningkat dari 3,6% menjadi 4,6%.
Grup Barito Pacific Lanjutkan Buyback Empat Saham, Total Capai Rp830,7 M
Sebelum rebalancing, harusnya saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) masuk dalam saham 10 dengan bobot terbesar.
Posisi keduanya digeser oleh saham PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Bobot SMMA naik dari 2,9% ke 3,6%, sementara bobot AMMN naik 2,8% menjadi 3,5%.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Efek Indonesia Irvan Susandy mengatakan, saham yang masuk ke daftar HSC akan menggunakan faktor pengali atau bobot 0 dalam perhitungan IHSG dan dipindahkan ke saham lain.
“Sementara kapitalisasi pasar yang dipublikasikan oleh BEI adalah kapitalisasi pasar atas semua perusahaan yang tercatat di Bursa. Sementara perhitungan HSC,” katanya kepada Kontan, Senin (2/11).
Pada akhir perdagangan Senin (2/11/2026), kapitalisasi pasar alias market cap pasar saham mencapai Rp 8.931 triliun. Sementara market cap khusus untuk IHSG tercatat Rp 1.774 triliun.
Saham Blue Chip Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan, setelah saham-saham HSC dikeluarkan dari perhitungan akan mengembalikan dominasi saham blue chip yang lebih likuid dan dapat diinvestasikan.
“Namun bukan berarti otomatis kembali bersinar. IHSG sekarang lebih merepresentasikan fundamental pasar, tetapi juga semakin sensitif terhadap foreign flow, rupiah dan kinerja perbankan,” katanya kepada Kontan, Senin (2/11/2026).
Menurut Liza, IHSG menjadi lebih representatif, belum tentu lebih rendah volatilitasnya. Namun, ia melihat, ada potensi penyesuaian portofolio, terutama reksadana dan ETF yang menggunakan IHSG sebagai acuan.
Simak Rekomendasi Teknikal Saham HRTA, MAPI, dan DEWA untuk Selasa (3/11)
Liza memperkirakan BBCA, BBRI, BMRI, TLKM & ASII menjadi penerima manfaat terbesar dari peningkatan bobot relatif. Meski begitu, kenaikan bobot indeks tidak otomatis menciptakan inflow baru.
“Ini bisa sekadar redistribusi alokasi dari saham HSC. Untuk mendorong penguatan berkelanjutan, tetap dibutuhkan fresh inflow, khususnya investor institusi asing,” tuturnya.
Setali tiga uang, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menambahkan saham perbankan seperti BBCA, BBRI, BMRI serta ASII dan TLKM berpeluang kembali menjadi penggerak utama IHSG.
“Artinya, pasar berpotensi lebih banyak ditopang saham-saham konvensional, meskipun saham konglomerasi tetap memiliki daya tarik masing-masing,” jelasnya.
Menurutnya, saham BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII dan BBNI akan diuntungkan dari rebalancing portofolio. Namun realisasi capital flow tetap bergantung pada dana kelolaan dan strategi masing-masing manajer investasi
Sementara itu, Research Analyst Verdhana Sekuritas Indonesia Jupriadi Tan, Gerald Hugo dan David Tjahjadi menyebut, prospek IHSG selanjutnya sangat bergantung pada keberhasilan pelaksanaan reformasi pasar modal.
Dalam risetnya, Verdhana Sekuritas mencatat MSCI Indonesia diperdagangkan pada valuasi 7,3 kali forward price to earnings (PE) atau setara dengan 3,3 standar deviasi di bawah rata-rata 2021.
Mereka menyebut posisi IHSG dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS) telah kembali ke level 1993. Menurut mereka, valuasi murah berpotensi menjadi peluang, tetapi keberlanjutannya bergantung pada pelaksanaan reformasi.
“Sejauh ini, kami menilai kemajuan yang dicapai sangat menggembirakan, dengan tindak lanjut berbagai langkah yang dilakukan dalam waktu berdekatan,” tulis Jupriadi, Gerald dan David dalam risetnya.
Jupriadi, Gerald dan David menilai keputusan MSCI menjadi salah satu penentu arah reformasi pasar modal Indonesia. Perkembangan kebijakan dan implementasinya menjadi indikator penting bagi penilaian penyedia indeks global tersebut.
Mereka menjelaskan ada dua perkembangan penting yang perlu dicermati investor. Yakni, rujukan kasus kepada kepolisian serta hasil investigasi HSC dan langkah awal komite independen yang baru.
Rupiah Masih Dibayangi Aksi Jual Asing, Ini Proyeksi untuk Selasa (3/11)
Sementara, Liza memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 5.100–5.400 pada akhir November 2026. Sedangkan, Kiwoom Sekuritas merevisi target akhir tahun menjadi 5.800–6.000.
Di sisi lain, Elandry mengatakan, masih ada peluang bagi IHSG untuk pulih pada November 2026 walaupun diikuti dengan volatilitas yang tetap tinggi. Menurutnya, penghapusan HSC dapat memperbaiki kualitas representasi indeks.
Lebih lanjut, Elandry memperkirakan IHSG berpotensi bergerak di kisaran 4.900–5.300 sepanjang November, dengan asumsi tidak ada sentimen negatif baru yang signifikan.




