5 Saringan Saham Lo Kheng Hong Bertahan Saat Pasar Berguguran

Hikma Lia

Perjalanan pasar modal Indonesia tidak pernah lepas dari gelombang dinamika ekonomi, baik yang disebabkan oleh faktor domestik maupun tekanan global. Di tengah fluktuasi yang kerap mengguncang psikologi para pelaku pasar, sosok investor veteran Lo Kheng Hong berhasil membuktikan ketangguhannya dalam mengarungi iklim investasi di pasar saham Indonesia. Pengalaman berinvestasi selama 37 tahun membawa Lo Kheng Hong melewati sedikitnya lima krisis ekonomi besar yang sempat memporak-porandakan tatanan perekonomian nasional.

Advertisements

Dalam forum Capital Market Summit & Expo yang diselenggarakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Lo Kheng Hong membagikan rekam jejak panjangnya serta berbagai pandangan strategis agar para investor dapat bertahan dan tetap meraih peluang ketika harga saham berjatuhan. Rekam jejak tersebut mencakup dinamika Kebijakan Uang Ketat (Tight Money Policy) pada tahun 1991, Krisis 1993, Krisis Moneter 1998, Krisis Keuangan Global 2008, hingga Krisis Kesehatan dan Ekonomi akibat Pandemi Covid-19 pada tahun 2020.

Prinsip Bebas Utang sebagai Fondasi Ketahanan Investor

Advertisements

Salah satu faktor kunci yang membedakan pendekatan Lo Kheng Hong dalam mengarungi berbagai gelombang krisis adalah kedisiplinan finansial untuk tidak pernah menggunakan dana pinjaman atau utang saat berinvestasi di pasar saham. Menurut figur yang sering dijuluki sebagai Warren Buffett Indonesia ini, ketiadaan beban kewajiban utang memberikan ketenangan psikologis dan fleksibilitas keuangan yang sangat krusial ketika pasar sedang berada di bawah tekanan ekstrem.

Ketika harga saham mengalami penurunan drastis, investor yang menggunakan dana pinjaman sering kali menghadapi ancaman eksekusi paksa atau margin call dari pihak kreditur. Sebaliknya, investor yang bertransaksi murni dengan modal sendiri tidak memiliki beban kewajiban pembayaran bunga maupun pengembalian pokok pinjaman. Hal inilah yang memungkinkan Lo Kheng Hong untuk tetap memegang aset bernilai tinggi tanpa terpaksa menjualnya pada harga yang sangat merugikan.

“Jadi saya membeli saham hanya pakai uang saya sendiri. Saya tidak punya utang,” tegas Lo saat menyampaikan pandangannya di Gedung BEI, Jakarta.

Pengalaman Melewati Gelombang Krisis dari Masa ke Masa

Ketangguhan strategi investasi Lo Kheng Hong teruji secara nyata saat krisis besar melanda pasar modal Indonesia. Salah satu titik terberat dalam perjalanan investasinya terjadi sewaktu Krisis Moneter 1998 menghantam kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Pada periode tersebut, nilai portofolio investasi saham miliknya sempat tergerus hingga 85%.

Kondisi saat itu kian menantang karena Lo Kheng Hong sudah tidak lagi bekerja sebagai pegawai kantoran. Di saat yang sama, sang istri merupakan seorang ibu rumah tangga dan mereka memiliki tanggung jawab untuk membesarkan dua orang anak. Meskipun menghadapi tekanan finansial yang sangat nyata, Lo Kheng Hong tidak terjebak dalam kepanikan pasar.

Bagi Lo Kheng Hong, kejatuhan harga saham secara masif justru menghadirkan kesempatan langka untuk membeli aset-aset berkualitas tinggi pada harga yang sangat murah. Ia mengibaratkan situasi krisis tersebut seperti momen di mana sebuah mobil mewah sekelas Mercedes-Benz dijual dengan harga bajaj, atau ketika batu berlian bernilai tinggi dihargai setara dengan batu kerikil di jalanan.

Strategi serupa kembali diterapkan ketika Krisis Keuangan Global melanda dunia pada tahun 2008 akibat koreksi pasar keuangan yang dipicu oleh krisis subprime mortgage di Amerika Serikat. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terkoreksi secara signifikan, Lo Kheng Hong mencermati bahwa fundamental ekonomi Indonesia pada tahun 2008 jauh lebih sehat dan kuat jika dibandingkan dengan kondisi struktur ekonomi pada Krisis Moneter 1998. Oleh karena itu, penurunan di pasar saham domestik saat itu tidak berlangsung terlalu lama.

Dalam kesempatan tersebut, Lo Kheng Hong juga meneladani langkah investor legendaris asal Amerika Serikat, Warren Buffett. Pada saat krisis 2008 mengguncang AS, Warren Buffett memanfaatkan momentum kepanikan pasar untuk mengoleksi saham-saham di sektor perbankan yang valuasinya menjadi sangat murah. Saham-saham perbankan tersebut kemudian disimpan dalam jangka panjang hingga akhirnya memberikan tingkat imbal hasil yang sangat berlimpah.

Memasuki krisis Pandemi Covid-19 pada tahun 2020, Lo Kheng Hong kembali menjalankan alokasi modal berbasis peluang. Ketika mayoritas pelaku pasar melakukan aksi jual akibat ketidakpastian global, ia telah memiliki cadangan kas yang cukup besar. Ketersediaan likuiditas ini memungkinkannya untuk memborong saham-saham perusahaan fundamental bagus yang harganya merosot tajam. Pendekatan berbasis ketersediaan dana tunai ini juga terus ia terapkan ketika pasar saham mengalami penyesuaian atau tekanan pada tahun-tahun berikutnya.

5 Kriteria Saham Layak Dibeli dan Disimpan Jangka Panjang

Selain memaparkan pengalamannya dalam menghadapi gelombang krisis, Lo Kheng Hong merincikan lima kriteria utama yang menjadi acuan mutlak sebelum ia memutuskan untuk mengalokasikan modalnya pada suatu perusahaan dan menyimpannya dalam jangka panjang.

1. Manajemen dan Pengendali yang Jujur serta Kompeten

Kriteria pertama dan yang paling utama bagi Lo Kheng Hong adalah integritas serta kapabilitas dari pihak pengendali dan manajemen perusahaan. Sebelum menanamkan modalnya, Lo selalu melakukan penelaahan mendalam terhadap laporan tahunan (annual report) perusahaan. Langkah ini dilakukan untuk menganalisis secara detail latar belakang pemegang saham mayoritas, jajaran direksi, serta jajaran komisaris.

Lo Kheng Hong menekankan bahwa modal yang diinvestasikan pada pasar saham dasarnya menitipkan uang kepada pengelola perusahaan. Oleh sebab itu, kualitas moral dan profesionalisme manajemen menjadi benteng pertahanan utama bagi investor.

“Saya tidak mau membeli kucing dalam karung. Jadi, saya harus tahu apa yang saya beli. Saya buka annual report, saya lihat siapa pemegang saham mayoritasnya, siapa direksi dan komisarisnya, apakah mereka orang yang jujur dan kompeten?” tutur Lo. Ia memprinsipkannya secara tegas untuk tidak memfasilitasi atau membeli saham dari perusahaan yang dikelola oleh pihak-pihak yang diragukan integritasnya.

2. Bidang Usaha yang Prospektif dan Memiliki Keunggulan Bersaing

Kriteria kedua berkaitan dengan daya tahan dan prospek bisnis dari sektor usaha yang dijalankan oleh perusahaan. Lo Kheng Hong cenderung menghindari perusahaan yang produk-produknya harus bertarung langsung dalam persaingan harga ketat melawan produk impor murah asal Cina. Menurutnya, tingkat persaingan harga yang terlalu agresif dapat menggerus marjin keuntungan dan menekan daya saing perusahaan di pasar domestik.

Sebaliknya, ia lebih menyukai perusahaan yang menghasilkan komoditas atau produk yang dibutuhkan oleh negara-negara dengan populasi besar seperti Cina dan India. Sektor komoditas seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO) menjadi contoh bidang usaha yang dinilainya memiliki keunggulan strategis.

“Misalnya batu bara dan kelapa sawit. Kelapa sawit tidak bisa ditanam di Cina dan India, sehingga sekitar 2 miliar penduduk Cina dan 2 miliar penduduk India serta negara-negara lain, harus membeli dari kita,” jelas Lo mengenai analisis potensi pasar eksportir komoditas Indonesia.

3. Kemampuan Menghasilkan Laba Besar dan Bertumbuh Berkelanjutan

Kriteria ketiga berfokus pada kinerja profitabilitas perusahaan. Lo Kheng Hong secara konsisten menghindari perusahaan yang mencatatkan kerugian operasional atau perusahaan yang hanya mampu menghasilkan pencapaian laba dalam skala kecil. Ia memprioritaskan perusahaan yang memiliki rekam jejak mencetak laba bersih dalam jumlah besar dan mampu menumbuhkan tingkat keuntungan tersebut secara konsisten dari tahun ke tahun.

Bagi Lo Kheng Hong, perusahaan dengan profitabilitas yang tinggi dan pertumbuhan laba yang berkelanjutan bertindak layaknya mesin pencetak uang bagi para pemegang sahamnya. Pertumbuhan kinerja keuangan ini secara historis akan terefleksi pada kenaikan nilai intrinsik perusahaan di masa depan.

4. Valuasi Saham yang Murah

Kriteria keempat yang sangat identik dengan gaya investasi valuasi (value investing) Lo Kheng Hong adalah mencari saham dari perusahaan bagus yang harganya masih diperdagangkan pada level murah di pasar sekunder. Parameter utama yang kerap ia gunakan dalam menilai harga saham adalah rasio harga terhadap laba bersih atau price to earnings ratio (PER) serta rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV).

Meskipun sebuah perusahaan memiliki fundamental yang sangat unggul dan manajemen yang baik, Lo Kheng Hong tidak akan tertarik untuk membelinya apabila harga pasar saham tersebut sudah berada pada level valuasi yang sangat mahal. Sebaliknya, fokus utamanya adalah menemukan saham perusahaan berkinerja solid namun memiliki indikator PER dan PBV yang rendah.

Membeli saham pada valuasi murah memberikan perlindungan atas risiko penurunan harga (downside risk). Sebaliknya, mengoleksi saham dengan angka PER dan PBV yang sudah terlampau tinggi meningkatkan risiko koreksi tajam apabila kinerja perusahaan di masa depan tidak sesuai dengan ekspektasi tinggi pasar.

5. Imbal Hasil Dividen (Dividend Yield) yang Tinggi

Kriteria kelima yang melengkapi analisis Lo Kheng Hong adalah besaran imbal hasil dividen (dividend yield) yang dibagikan oleh perusahaan kepada para pemegang sahamnya. Ia sangat menyukai saham dari perusahaan yang secara rutin mendistribusikan keuntungan dalam bentuk dividen dengan tingkat imbal hasil yang menarik.

Lo Kheng Hong mengemukakan bahwa tingkat dividend yield hingga mencapai kisaran 14% merupakan imbal hasil yang sangat menarik bagi seorang investor saham. Arus kas masuk dari pembagian dividen dalam jumlah besar memungkinkan investor untuk memperoleh pendapatan pasif secara berkala tanpa harus terus-menerus terlibat dalam kegiatan operasional bisnis harian.

Melalui kepemilikan saham berdividen tinggi, seorang investor dapat menempatkan posisinya sebagai sleeping shareholder, yaitu pemegang saham yang tetap dapat menikmati hasil pendapatan dari pertumbuhan dan keuntungan bisnis yang dijalankan oleh manajemen perusahaan.

“Jadi, lima hal itu cukup. Pertama, jujur dan kompeten. Kedua, bidang usahanya bagus. Ketiga, labanya besar dan bertumbuh. Keempat, valuasinya murah. Kelima, dividend yield-nya tinggi,” tegas Lo Kheng Hong meringkas kriteria dasar investasinya.

Advertisements

Also Read

Tags