Kemenko Pangan minta pengusaha tambang turun tangan hadapi karhutla di Kalteng

Hikma Lia

Kementerian Koordinator Bidang Pangan berencana melibatkan unit usaha pertambangan di Kalimantan Tengah, untuk turun tangan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di provinsi tersebut. Upaya penanganan oleh unit usaha ini akan difokuskan di Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas.

Advertisements

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, upaya kolaborasi ini menjadi salah satu bentuk empati dan tanggung jawab sektor pertambangan atas insiden bencana kebakaran hutan dan lahan. Sebelumnya, kementeriannya juga telah menggandeng unit-unit usaha bidang perkebunan dan kehutanan di wilayah tersebut. 

“Teman-teman yang mencari rezeki di Kalimantan Tengah, alatnya sudah menyentuh serta mendayagunakan potensi Kalimantan Tengah, alangkah baiknya bergotong royong,” kata Hanif, dalam rapat Pemantauan dan Evaluasi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan pada KSPEAN Kalimantan Tengah, Jumat (6/11).

Advertisements

Sebagai gambaran, Kabupaten Pulang Pisau didominasi lahan gambut dengan fungsi lindung dengan rata-rata kedalaman mencapai lebih dari 3 meter. Namun, lahan gambut ini mengalami tekanan serius, di antaranya imbas pembukaan lahan pada era 90-an. Akibatnya, tanah tak lagi mampu menyerap dan menahan air.

“Ini bisa ditangani oleh teman-teman dari unit asosiasi tambang,” ujarnya. Luas area yang jadi fokus penanganan mencapai lebih dari 9 ribu hektare,” katanya.

Hanif mengatakan, dengan karakteristik gambut dalam dan telah rusak, area tersebut harus terus dibasahi agar tidak terbakar. Namun, untuk detail upaya penanganan oleh unit usaha pertambangan, baru akan dirumuskan usai pertemuan perdana hari ini. 

Selain Pulang Pisau dan Kapuas, upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan di provinsi sentra swasembada pangan, energi, dan air ini juga akan menyasar wilayah Talawang Raya seluas 362 hektare dan Sebangau-Barikin-Bulu Merindu (Sabaru) seluas 312 hektare. 

“Daerah Talawang Raya dan Sabaru seluas hampir 670-680 hektare sedang ditangani oleh teman-teman GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) dan APHI (Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia),” ujar Hanif. 

Advertisements

Also Read

Tags