
BANYU POS, JAKARTA – Maybank Sekuritas Indonesia secara konsisten mempertahankan pandangan optimistis terhadap prospek sektor semen nasional. Perusahaan sekuritas ini memproyeksikan tahun 2026 akan menjadi titik balik, di mana permintaan semen Indonesia diperkirakan akan mengalami rebound signifikan.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim, dalam risetnya pada 8 Desember 2025, menjelaskan alasan di balik proyeksi tersebut. “Kami memperkirakan permintaan semen Indonesia akan rebound pada 2026, didukung pemulihan bertahap di segmen semen sak dan berbagai program pemerintah yang berpotensi memberikan tambahan volume signifikan,” ungkap Kevin Halim.
Selain faktor tersebut, Kevin Halim juga menyoroti meredanya tekanan kompetitif dari para pemain semen skala kecil. Di sisi lain, upaya rasionalisasi harga yang dilakukan oleh produsen-produsen besar mengindikasikan adanya peningkatan disiplin dalam industri ini. Hal ini, ditambah dengan valuasi sektor yang kini mendekati titik terendah historisnya, membuat rasio risk-reward di sektor semen menjadi semakin menarik bagi investor.
Permintaan Semen Menurun, Simak Rekomendasi Saham Indocement (INTP)
Kevin Halim lebih lanjut berpendapat bahwa risiko saat ini cenderung mengarah ke atas (risks skewed to the upside), didorong oleh potensi kuat pemulihan permintaan setelah tahun 2025 yang penuh tantangan bagi industri.
Maybank Sekuritas memperhitungkan bahwa sektor semen berpotensi mencatat pertumbuhan laba rata-rata tahunan (CAGR) sebesar 17% pada periode 2026–2027. Proyeksi ini ditopang oleh solidnya neraca keuangan perusahaan berkat arus kas bebas yang kuat. Dalam laporan risetnya, Kevin Halim juga merevisi pilihan utama (top pick) sahamnya, menggeser dari Indocement (INTP) ke Semen Indonesia (SMGR).
Pergeseran ini didasarkan pada pandangan Kevin bahwa SMGR memiliki eksposur yang lebih besar terhadap proyek pemerintah, yang menjanjikan prospek pemulihan yang lebih jelas. Kendati demikian, INTP tetap menjadi pilihan favorit karena keunggulan profitabilitasnya yang lebih tinggi.
Kevin juga menggarisbawahi beberapa inisiatif pemerintah yang berpotensi menjadi pendorong signifikan bagi permintaan semen di tahun mendatang. Program-program tersebut meliputi Koperasi Desa Merah Putih yang dapat meningkatkan volume 1%–4%, program 3 juta rumah (berpotensi menambah 2%–10%), skema Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) sebesar 1%, serta proyek pembangunan giant seawall yang diperkirakan menyumbang 1%–6% tambahan volume.
Meskipun demikian, Kevin mencatat bahwa semua faktor pendorong tersebut belum sepenuhnya dimasukkan ke dalam proyeksi dasar (base case) Maybank Sekuritas. Ini mengingat adanya ketidakpastian eksekusi dan penyerapan anggaran. Secara base case, Kevin memproyeksikan permintaan domestik 2026 akan tumbuh 2% secara tahunan, berasal dari basis yang rendah pada 2025. Rinciannya, semen kantong (sak) diprediksi naik 3% seiring membaiknya daya beli masyarakat, sedangkan semen curah diperkirakan turun 1% akibat pemangkasan anggaran IKN yang tajam pada 2026.
Selain itu, Kevin menambahkan bahwa faktor pemilu juga menjadi variabel krusial. “Secara historis, permintaan semen biasanya mengalami rebound dalam kurun waktu 6–18 bulan pasca-pemilu, yaitu ketika proses transisi pemerintahan selesai dan penyerapan anggaran proyek kembali berjalan cepat,” papar Kevin.
Mengenai dinamika pasar, Kevin memperkirakan persaingan harga di industri semen kemungkinan akan mereda pada 2026. Hal ini terjadi meskipun tingkat utilisasi para pemain besar masih berada pada level suboptimal, yaitu 40%–60%. Alasannya, beberapa produsen kecil seperti SCG, Jui Shin, dan yang akan segera menyusul Singa Merah, telah beroperasi di atas 70% dari kapasitas mereka, sehingga mereka tidak lagi perlu bersikap agresif dalam perang harga.
Meskipun upaya kenaikan harga oleh SMGR dan INTP pada tahun 2025 belum sepenuhnya berhasil karena reaksi kompetitor, Kevin justru melihatnya sebagai sinyal kuat. Ini menunjukkan kesungguhan kedua pemain besar tersebut dalam mendorong rasionalisasi harga demi stabilitas industri.
Kevin lebih lanjut menganalisis bahwa saat ini, sektor semen diperdagangkan pada valuasi sekitar 5,0x EV/EBITDA FY26E, yang 1,5 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun. Selain itu, nilai EV/capacity tercatat USD 30–40/ton, sebuah diskon substansial 60–70% dari biaya penggantian, menandai titik terendah baru secara historis.
Saham Semen di Tengah Lesunya Permintaan: Mana yang Layak Lirik?
“Valuasi saat ini bahkan setara dengan pasar yang secara struktural telah menurun, seperti di China dan Jepang,” jelas Kevin. Sebagai perbandingan, perusahaan sejenis di Asia Tenggara seperti SCC Thailand dan Malayan Cement Malaysia, yang dianggap paling sebanding dengan kondisi Indonesia, diperdagangkan pada 6–8x EV/EBITDA.
Kevin menggarisbawahi bahwa pasar terlalu pesimistis dalam menilai sektor semen. “Indonesia tetap mencatat pertumbuhan PDB yang stabil sekitar 5%, dan konsumsi semen per kapita kita masih jauh di bawah negara tetangga. Kondisi ini sama sekali tidak mencerminkan sektor yang rusak secara struktural,” tegasnya, menyoroti potensi jangka panjang yang belum tergambar dalam valuasi saat ini.
Oleh karena itu, sektor semen tetap dipandang positif oleh Maybank Sekuritas. Dengan demikian, Kevin merekomendasikan saham SMGR dengan target harga di Rp 4.500 dan saham INTP ditargetkan di Rp 8.800 per saham.




