Prospek IPO 2026: Griya Idola, Vidio, hingga Bank Jakarta bakal go public?

Hikma Lia

BANYU POS, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) memasang target ambisius, yakni 50 perusahaan akan listing atau mencatatkan saham perdananya pada tahun 2026. Seiring target tersebut, deretan rumor mengemuka mengenai sejumlah perusahaan yang siap menjajal penawaran saham perdana ke publik (initial public offering/IPO), mulai dari PT Griya Idola hingga Bank Jakarta.

Advertisements

Data BEI menunjukkan, sepanjang tahun 2025, telah ada 26 emiten baru yang berhasil melaksanakan aksi IPO dan menghimpun dana segar senilai Rp18,11 triliun. Angka ini menandakan geliat pasar modal yang terus bertumbuh.

Untuk tahun 2026, BEI tidak hanya menargetkan 50 perusahaan baru secara umum, tetapi juga secara spesifik membidik sedikitnya 6 perusahaan berskala besar, yang dijuluki sebagai emiten lighthouse, untuk melantai di Bursa. Emiten lighthouse ini diharapkan dapat menjadi daya tarik utama bagi investor.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan yang masuk dalam radar lighthouse saat ini masih dalam tahap persiapan teknis yang intensif. Namun, Iman menekankan satu catatan penting: belum ada nama calon emiten dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam daftar antrean perusahaan mercusuar tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa aksi IPO skala besar pada tahun 2026 masih akan didominasi oleh perusahaan-perusahaan dari sektor swasta.

Advertisements

“Seharusnya [dari BUMN] belum ada, sejauh ini belum ada proses,” ujar Iman saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, pada Jumat, 2 Januari 2026.

Adapun, berdasarkan data terakhir dari BEI, terdapat total 9 perusahaan yang berada dalam pipeline antrean pencatatan saham. Dari jumlah tersebut, 2 perusahaan masuk kategori skala kecil dengan aset di bawah Rp50 miliar, sementara 1 perusahaan berada di kategori skala menengah dengan aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Selain itu, ada 6 perusahaan pipeline IPO yang termasuk dalam kategori skala besar, yakni dengan aset di atas Rp250 miliar, menunjukkan potensi gelombang pencatatan saham dari entitas-entitas signifikan.

BEI Bidik 6 Emiten Lighthouse IPO pada 2026, BUMN Tak Masuk Antrean

Proyeksi pasar mengindikasikan bahwa aksi IPO pada tahun 2026 akan semakin semarak. Harry Su, Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, memprediksi akan terjadi peningkatan moderat dalam aksi korporasi pada 2026. Prediksi ini didasarkan pada sejumlah faktor positif, termasuk stabilitas makro ekonomi, potensi penurunan suku bunga, serta dorongan investasi dari pemerintah.

Harry Su menambahkan bahwa IPO akan menjadi aktivitas korporasi yang paling banyak dieksekusi, sejalan dengan target Otoritas Bursa yang ingin mencatatkan 50 emiten baru pada tahun 2026. Selain IPO, ia juga meramalkan adanya peningkatan aktivitas merger dan akuisisi, khususnya di sektor keuangan, energi, dan digital. Peningkatan ini, menurutnya, akan didorong oleh kebutuhan konsolidasi dan ekspansi modal di berbagai industri.

Senada, BRI Danareksa Sekuritas turut memperkirakan bahwa tren IPO akan lebih bergairah pada tahun 2026 dibandingkan realisasi tahun 2025. Kendati demikian, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Chory Agung, menekankan pentingnya pemenuhan sejumlah prasyarat untuk menciptakan ekosistem yang menarik bagi calon emiten. Proyeksi ini juga didukung oleh laporan EY Global IPO Trends 2025 yang menunjukkan optimisme terhadap tren IPO global di tengah volatilitas pasar.

Laporan tersebut menyoroti bahwa investor akan semakin selektif dalam memilih saham baru, dengan fokus utama pada profitabilitas perusahaan, tata kelola yang baik, serta kemampuan monetisasi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI). “IPO Indonesia diperkirakan akan lebih aktif di 2026 dibandingkan 2025, tetapi akan tetap bergantung pada kualitas emiten dan kondisi pasar secara luas,” kata Chory Agung kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Rumor IPO

Seiring proyeksi pasar yang bullish untuk IPO di tahun 2026, sejumlah rumor santer beredar mengenai daftar perusahaan yang siap melantai di bursa. Salah satu spekulasi kuat melibatkan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) yang dikabarkan akan membawa anak usahanya di bidang media digital, Vidio, untuk go public.

Rumor mengenai IPO Vidio kian menguat menyusul langkah PT Superbank Indonesia Tbk. (SUPA) yang telah sukses melantai di Bursa pada akhir 2025. CEO Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, menyebut bahwa desas-desus IPO Vidio sudah beredar sejak pertengahan 2025. Menurutnya, jika IPO ini terealisasi, momen pelaksanaannya akan sangat tepat. “2026 akan menjadi tahun yang menarik karena kecenderungan suku bunga yang akan menurun sehingga investor akan cenderung berinvestasi ke growth stock, salah satunya adalah sektor teknologi,” ujar Bernadus pada 29 Desember 2025.

Selain Vidio, emiten terafiliasi Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), juga dikabarkan berencana membawa anak usahanya di sektor properti, PT Griya Idola (GI), untuk go public. Direktur Barito Pacific, David Kosasih, memang menegaskan bahwa saat ini perseroan belum memiliki rencana untuk membawa Griya Idola ke lantai bursa dalam waktu dekat. Namun, ia tidak menutup kemungkinan rencana tersebut akan terlaksana di masa depan. David menjelaskan bahwa Grup Barito selalu memastikan kesiapan penuh anak usaha sebelum menjadi perusahaan terbuka, demi menjamin segala aspek sudah matang.

Dalam kesempatan online public expose pada 12 November 2025, David Kosasih menyatakan, “Jadi, grup kami memang akan benar-benar mempersiapkan dulu perusahaan yang akan kami bawa ke publik untuk memastikan bahwa segalanya sudah siap.”

Rumor IPO juga menyentuh PT Summarecon Investment Property, anak perusahaan PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA). Isu ini bukan hal baru, mengingat laporan keuangan SMRA per akhir Juni 2024 telah mencantumkan pengeluaran sebesar Rp11,13 miliar untuk biaya IPO entitas anak, memperkuat spekulasi yang beredar.

Tak ketinggalan, perusahaan ritel dan FMCG raksasa, PT Orang Tua Group, juga masuk dalam radar IPO. Produsen minuman Tango dan Teh Gelas ini mengakui bahwa rencana penawaran umum perdana masih dalam tahap persiapan. Harianus Zebua, Head of Corporate and Marketing Communication Orang Tua Group, menjelaskan bahwa persiapan tersebut meliputi kelengkapan dokumen, struktur keuangan, kesiapan manajemen, hingga valuasi perusahaan.

“Rencana go public pun masih dalam tahap persiapan dengan waktu yang belum dapat kami pastikan,” ungkap Harianus pada pertengahan Mei 2025, menunjukkan kehati-hatian dalam proses ini.

Emtek (EMTK) Borong 150 Juta Saham Superbank (SUPA) Rp142 Miliar

Bank Jakarta, yang sebelumnya dikenal sebagai Bank DKI, juga dikabarkan bersiap untuk melantai di bursa. Rencana ini bukanlah hal baru; catatan Bisnis menunjukkan bahwa bank tersebut telah membeberkan niat IPO sejak lama. Pada tahun 2024 lalu, Amirul Wicaksono, yang saat itu menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama Bank DKI, mengungkapkan bahwa izin prinsip IPO telah diperoleh pada kuartal I/2023. Namun, rencana tersebut sempat ditunda karena kondisi pasar yang dinilai belum mendukung, mengingat pentingnya kesesuaian timeline dalam pelaksanaan IPO.

Rencana IPO Bank Jakarta kembali mengemuka pada acara peluncuran nama dan logo baru perusahaan. Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, saat itu menjelaskan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan proses IPO secara internal, namun pelaksanaannya akan sangat bergantung pada kondisi pasar. “Mungkin awal-awal tahun depan [2026], tapi saya tidak bisa menjanjikan. Pokoknya kalau situasi pasar mendukung, kami siap,” kata Agus kepada Bisnis.com di sela peluncuran rebranding Bank Jakarta pada 22 Juni 2025.

Agus menambahkan bahwa dana yang dibidik dari IPO diperkirakan mencapai Rp3 triliun. Jumlah ini krusial sejalan dengan ambisi Bank Jakarta untuk naik kelas dari Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2 menjadi KBMI 3. Ia menegaskan, “Kurang lebih Rp3 triliun dana yang dibidik dari IPO,” target ini sejatinya tidak berubah dari rencana tahun sebelumnya.

Terakhir, perusahaan penyedia jasa infrastruktur batu bara, PT Titan Infra Sejahtera, juga membuka peluang untuk melakukan IPO. Compliance Director Titan Infra Sejahtera, Eddy Rizal Umar, menuturkan bahwa perseroan membuka opsi tersebut. “Kami siap-siap saja. Kami melihat keleluasaan situasi,” ujar Eddy dalam media gathering Titan Infra Sejahtera di Jakarta, pada 9 Desember 2025.

Advertisements

Also Read