
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini (12/2/2026), setelah ditutup naik 1,96% ke level 8.290,97 pada perdagangan Rabu (11/2/2026).
Penguatan ditopang optimisme investor terhadap pasar domestik, rilis kinerja emiten, serta faktor teknikal. Saham sektor energi mencatatkan kenaikan terbesar, sementara sektor keuangan menjadi satu-satunya yang melemah. Rupiah juga melanjutkan apresiasi terhadap dolar AS.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai IHSG berhasil rebound setelah menguji wave ii. Indikator RSI yang telah berada di area oversold serta peningkatan volume menjadi konfirmasi penguatan.
Emiten Nikel Adhi Kartiko (NICE) Dapat Amunisi Rp 100 Miliar, Ini Rinciannya
“Secara teknikal, IHSG masih memiliki peluang melanjutkan rebound,” ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (11/2/2026).
Ia memproyeksikan level support IHSG berada di 8.189 dan 8.054, dengan resistance di 8.303 dan 8.408.
Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, memperkirakan IHSG berpotensi menguji area 8.350-8.400 pada perdagangan Kamis (12/2/2026).
“Penguatan didukung kenaikan Stochastic RSI dan penyempitan histogram negatif MACD, serta peningkatan volume beli,” jelas Alrich.
Phintraco memproyeksikan resistance di 8.400, pivot di 8.300, dan support di 8.200. Investor disarankan melakukan akumulasi pada saham-saham berfundamental solid, khususnya yang undervalued dan mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan tren, dengan tetap menerapkan manajemen risiko.
Untuk perdagangan Kamis (12/2/2026), Phintraco merekomendasikan saham WIFI, BBYB, HRUM, NCKL, dan AADI.
Dari eksternal, pelaku pasar mencermati rilis data nonfarm payroll dan inflasi (CPI) Amerika Serikat yang akan memberi arah kebijakan suku bunga The Fed.
Saham INDF Turun dari MSCI Global Standard ke Small Cap, Jual atau Beli?
Investor juga menunggu hasil pertemuan lanjutan BEI dengan MSCI terkait proposal reformasi pasar modal, yang mencakup perluasan klasifikasi investor (SID), peningkatan batas free float menjadi 15%, serta transparansi kepemilikan di atas 1%.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 di kisaran 10%-11%, lebih tinggi dari realisasi 2025 sebesar 9,69%, di tengah penurunan outlook sejumlah korporasi Indonesia oleh Moody’s.
Mayoritas bursa Asia juga ditutup menguat pada Rabu (11/2/2026), sementara investor mencermati perlambatan inflasi Tiongkok dan menantikan rilis data Existing Home Sales Amerika Serikat.




