BANYU POS JAKARTA. PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA), emiten yang bergerak di bidang tekstil dan pakaian, berhasil mengantongi persetujuan krusial dari para pemegang sahamnya untuk melakukan penjualan aset. Keputusan penting ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan pada Rabu, 18 Februari 2026, di mana mayoritas suara atau setara dengan 5,84 juta saham menyatakan persetujuan atas rencana strategis penjualan aset tersebut.
Manajemen ZATA sebelumnya telah mengutarakan rencana penjualan aset berupa tanah dan bangunan melalui paparan publik. Menariknya, transaksi penjualan ini akan dilaksanakan dengan harga di bawah nilai pasar wajar. Namun, ZATA beralasan bahwa prioritas utama saat ini adalah percepatan realisasi kas atau speed to cash, daripada harus menanti valuasi pasar yang ideal namun cenderung tidak likuid. Dana yang terkumpul dari penjualan aset ini nantinya akan dialokasikan secara strategis untuk mengurangi kewajiban finansial, khususnya utang bank, guna memperkuat kelangsungan usaha (going concern) perusahaan.
Langkah strategis ini, menurut manajemen ZATA, ditempuh demi memperbaiki proyeksi arus kas perusahaan di masa mendatang, meskipun konsekuensinya harus menanggung kerugian akuntansi (accounting loss) pada periode saat ini.
Namun, manajemen dalam keterbukaan informasi materi hasil paparan publik, secara tegas menyatakan bahwa keputusan ini bukan dilandasi oleh kebutuhan speed to cash akibat kondisi likuiditas yang kritis. Sebaliknya, langkah ini merupakan upaya proaktif untuk pengoptimalan modal kerja yang esensial dalam mendukung keberlangsungan operasional perusahaan.
“Hasil penjualan aset tetap akan dialokasikan untuk pembayaran kewajiban kepada bank, dengan demikian memberikan ruang gerak yang lebih optimal dalam pengelolaan modal kerja bulanan ZATA,” demikian penjelasan ZATA dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 27 Januari 2026.
Manajemen ZATA mengemukakan bahwa aset tanah dan bangunan yang direncanakan untuk dijual merupakan properti yang dinilai tidak produktif secara optimal. Meskipun aset ini masih dimanfaatkan, namun kontribusinya tidak secara langsung menghasilkan penjualan. Selain itu, aset tersebut memikul beban biaya operasional harian yang relatif tinggi, sementara tingkat pemanfaatannya hanya mencapai sekitar 30% dari total luas bangunan yang ada.
Oleh karena itu, penjualan aset ini tidak semata-mata ditujukan untuk menjamin keberlangsungan operasional hingga akhir tahun 2026, mengingat posisi likuiditas ZATA yang tidak berada dalam kondisi kritis. Sebaliknya, langkah ini adalah bagian dari strategi untuk mengoptimalkan kinerja operasional perusahaan secara menyeluruh. Hal ini sangat relevan dengan dinamika persaingan pasar yang semakin ketat, mendorong ZATA untuk menciptakan keunggulan strategis, salah satunya melalui efisiensi biaya yang signifikan agar dapat berkompetisi secara lebih optimal dengan para pesaingnya.
Per 30 September 2025, posisi keuangan ZATA menunjukkan total aset mencapai Rp 680,94 miliar, didukung oleh nilai ekuitas sebesar Rp 525,69 miliar. Sementara itu, total kewajiban perusahaan tercatat sebesar Rp 157,25 miliar, dengan porsi utang bank yang signifikan mencapai Rp 37,84 miliar.
Dari sisi kinerja keuangan, ZATA menghadapi tantangan dengan penurunan pendapatan sebesar 7,8% secara tahunan, menjadi Rp 158,08 miliar. Penurunan ini turut menyeret laba bruto yang terkoreksi 13,54% secara tahunan menjadi Rp 66,66 miliar. Akibatnya, laba bersih emiten tekstil dan pakaian ini anjlok 15,35% secara tahunan, hanya mencapai Rp 1,93 miliar.
Menyusul perkembangan ini, harga saham ZATA menunjukkan respons positif di pasar. Pada penutupan perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, saham ZATA melonjak signifikan sebesar 34,71%, mencapai level Rp 163 per saham.




