
BANYU POS JAKARTA. Kinerja para emiten penghuni indeks LQ45 di sepanjang tahun 2025 tampaknya kurang menggembirakan. Proyeksi Earning per Share (EPS) untuk emiten-emiten berkapitalisasi besar diperkirakan akan mengalami penurunan.
Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, mengkonfirmasi tren ini. Berdasarkan analisis tim risetnya terhadap 80 emiten, EPS diproyeksikan terkoreksi hingga 12% pada tahun 2025. Namun, ia melihat secercah harapan dengan potensi pertumbuhan kembali di tahun 2026.
“Tahun 2026 diproyeksikan menjadi periode pemulihan signifikan bagi pasar saham Indonesia, di mana earning growth recovery berpotensi mencapai dua digit, bahkan hingga 15%,” terang Oki pada Rabu (25/2).
Menurutnya, pemulihan ini akan didukung oleh normalisasi biaya operasional. Salah satu faktor pendorong utamanya adalah pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) sebesar 150 basis poin (bps) yang telah berlangsung sejak tahun 2024.
“Kondisi ini menciptakan peluang bagi penerbitan ekuitas yang bernilai tambah, mengingat biaya ekuitas cenderung menurun lebih cepat dibandingkan dengan Return On Equity (ROE),” tambah Oki.
Sebagai gambaran konkret, laporan terkini dari Bloomberg menyoroti kinerja PT United Tractors Tbk (UNTR) yang kurang memuaskan. Laba bersih UNTR pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp 14,81 triliun, anjlok 24% secara tahunan, dan berada di bawah estimasi konsensus sebesar Rp 16,11 triliun.
Penurunan laba bersih ini sejalan dengan pelemahan perolehan pendapatan, di mana UNTR hanya membukukan pendapatan sebesar Rp 131,3 triliun, atau terkoreksi 2,3% dari tahun sebelumnya.
Menanggapi fenomena ini, Sukarno Alatas, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, mengamati bahwa emiten LQ45 yang telah merilis laporan keuangan tahun 2025 menunjukkan hasil yang bervariasi, dengan kualitas laba yang cenderung moderat.
Dari sektor yang dianalisis Kiwoom Sekuritas, sektor perbankan seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terpantau di bawah ekspektasi akibat tekanan margin. Sebaliknya, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) justru berhasil melampaui perkiraan.
“Untuk sektor telekomunikasi, kinerja EXCL dan ISAT masih dihadapkan pada tekanan margin,” jelas Sukarno kepada Kontan pada Kamis (26/2).
Namun, pandangan sedikit berbeda disampaikan Muhammad Wafi, Head of Research KISI. Ia menuturkan bahwa secara keseluruhan, beberapa emiten yang telah merilis laporan keuangan sebenarnya sesuai perkiraan, bahkan ada yang berhasil melampaui ekspektasi pasar.
Wafi secara spesifik menyoroti sektor telekomunikasi, di mana kinerja ISAT dan EXCL justru dinilai memuaskan. Kenaikan profitabilitas kedua emiten ini didorong oleh stabilnya Pendapatan Rata-rata per Pengguna (ARPU) dan efisiensi operasional yang terjaga.
Beralih ke sektor konsumer, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) juga telah merilis kinerja keuangannya untuk tahun 2025. Perusahaan mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 31,94 triliun, terkoreksi 4,34% secara tahunan.
Namun, dari sisi laba bersih (bottom line), Unilever menunjukkan lonjakan fantastis sebesar 126,82% secara tahunan, mencapai Rp 7,46 triliun. Angka ini jauh melampaui laba tahun 2024 yang hanya Rp 3,36 triliun.
Lonjakan laba ini dapat dijelaskan oleh dua aksi korporasi besar yang dilakukan UNVR pada tahun 2025, yaitu divestasi bisnis teh Sariwangi senilai Rp 1,5 triliun dan penjualan bisnis es krim sebesar Rp 7 triliun.
Meski demikian, Wafi memiliki pandangan yang lebih hati-hati. Ia menyoroti bahwa kinerja operasional UNVR sebenarnya cenderung underperform akibat lambatnya pemulihan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah, serta ketatnya persaingan di sektor barang konsumsi.
Membawa optimisme, Chory Agung Ramdhani, Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas, menilai bahwa sentimen positif dari rilis laporan keuangan tahun buku 2025 akan menjadi katalisator bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Maret 2025.
Ia menjelaskan bahwa bulan Maret kerap menandai dimulainya musim Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan pengumuman pembagian dividen. Hal ini berpotensi memicu aksi akumulasi beli pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps).
“Apabila emiten-emiten besar lainnya konsisten menyajikan kejutan positif, peluang re-rating pada IHSG akan terbuka lebar, seiring dengan banyaknya investor yang melakukan rebalancing portofolio,” pungkas Chory.
Chory secara khusus memproyeksikan pertumbuhan yang solid di sektor ritel. Bahkan di luar konstituen indeks LQ45, kinerja PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) diyakini akan menunjukkan tren positif.
Melengkapi pandangannya, Sukarno juga menyebutkan beberapa saham yang dinilai prospektif. Ia mengidentifikasi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memiliki peluang pertumbuhan kinerja yang solid, di samping potensi pembagian dividen yang menarik.




