
BANYU POS JAKARTA. Saham-saham sektor barang baku terus menunjukkan tajinya pada awal 2026. Hal ini terlihat dari kinerja indeks sektor barang baku atau IDX Basic Materials yang melesat signifikan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX Basic Materials tumbuh 19,79% year to date (ytd) ke level 2.465,343 hingga Jumat (27/2/2026). IDX Basic Materials pun menjadi indeks sektoral dengan kinerja terbaik sejauh tahun 2026 berjalan, bahkan menjadi satu-satunya indeks sektoral yang mampu mencetak persentase pertumbuhan dua digit.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, lonjakan kinerja indeks barang material utamanya didorong oleh rebound harga komoditas global dan rotasi dana ke saham berbasis sumber daya alam.
Secara umum, kenaikan indeks sektoral ini masih cukup didominasi saham-saham komoditas seperti emas, nikel, dan logam dasar yang sensitif terhadap pergerakan harga global serta ekspektasi stimulus dari China.
Perang AS-Israel vs Iran Berkobar, Begini Proyeksi Rupiah untuk Senin Besok (2/3)
Saham berbasis komoditas dan hilirisasi seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diuntungkan oleh prospek jangka panjang emas sebagai aset safe haven dan nikel yang berperan krusial dalam ekosistem kendaraan listrik. Di luar komoditas, saham subsektor semen dan bahan kimia relatif lebih moderat, meski ada perbaikan bertahap dari sisi volume domestik.
Secara fundamental, reli yang terjadi pada indeks barang material sebagian mencerminkan perbaikan margin akibat efisiensi biaya dan harga jual yang lebih stabil. “Namun, di beberapa emiten kenaikan harga saham juga sudah mengantisipasi ekspektasi pemulihan sehingga valuasinya mulai kembali ke rata-rata historis,” ujar Arinda, Jumat (27/2/2026).
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand sepakat, kontributor utama bagi indeks barang material masih berasal dari saham-saham berbasis komoditas. Walau begitu, beberapa saham dari subsektor kimia dan bahan bangunan mulai menunjukkan perbaikan.
“Secara umum, kenaikan indeks relatif sejalan dengan fundamental konstituennya yang membukukan kinerja stabil hingga membaik, terutama pada emiten dengan struktur biaya efisien dan eksposur ekspor,” kata dia, Jumat (27/2/2026).
Berpotensi Jadi Unggulan
Untuk ke depannya, IDX Basic Materials masih berpotensi menjadi indeks sektoral unggulan selama harga komoditas global bertahan di level yang menguntungkan dan kebijakan hilirisasi mineral terus berjalan.
Dari sisi valuasi, Abida menilai, sebagian saham di sektor ini sudah mengalami ekspansi multiple, namun masih tergolong menarik untuk emiten dengan pertumbuhan laba yang kuat. Sentimen positif tahun ini bagi emiten sektor ini meliputi tren harga emas dan transisi energi.
“Sementara sentimen negatif berasal dari volatilitas harga komoditas, potensi perlambatan global, serta risiko koreksi teknikal setelah kenaikan signifikan,” imbuhnya.
Konflik AS-Iran Picu Risk-Off, Analis Sarankan Cermati Saham-Saham Ini
Arinda juga memperkirakan tren penguatan indeks barang material mssih sangat terbuka seiring tren positif harga emas. Pamor komoditas ini makin meningkat berkat ketidakpastian global karena tarif Trump dan semakin tingginya tensi geopolitik Iran-Amerika Serikat serta Rusia-Ukraina.
Namun demikian, sentimen negatif datang dari pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi nikel. “Emiten nikel berpotensi kehilangan pertumbuhan pendapatan akibat dari penurunan sales volume yang lebih signifikan dari kenaikan ASP nikel,” tutur dia.
Abida menyebut, saham yang berpotensi menjadi motor penggerak indeks barang material dalam periode mendatang antara lain ANTM, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Prospek saham tersebut didukung oleh eksposur pada emas dan tembaga yang diuntungkan dari tren global, serta potensi peningkatan volume produksi dan ekspansi proyek hilirisasi.
Saham-saham yang disebutkan tadi layak diakumulasi secara selektif oleh investor dengan pendekatan jangka menengah, terutama pada momentum koreksi harga.
Abida juga bilang, target harga saham tersebut akan sangat dipengaruhi asumsi harga komoditas masing-masing, sehingga strategi terbaik bagi investor adalah disiplin pada valuasi dan memantau perkembangan harga emas, nikel, serta tembaga sebagai variabel utama.
Gejolak Tarif AS dan Isu Iran Tekan Rupiah, Ini Proyeksinya Pekan Depan
Di lain pihak, Arinda menyebut saham ANTM patut dipertimbangkan oleh investor dengan target harga di level Rp 4.420 per saham. Dia kembali menekankan, prospek jangka pendek saham di sektor ini cenderung trading-driven mengikuti harga komoditas.
Namun, untuk jangka menengah, emiten dengan struktur biaya rendah, neraca kuat, dan diversifikasi pasar ekspor akan lebih resilien dan berpotensi menjadi pemimpin kinerja indeks.




