KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Eskalasi konflik yang semakin memanas antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel diperkirakan akan memicu tekanan signifikan terhadap pasar saham global, termasuk Indonesia. Sentimen risk-off yang menguat mendorong investor asing untuk menarik diri atau mengurangi eksposur mereka pada aset berisiko, kondisi ini berpotensi menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek.
Pengamat pasar modal, Irwan Ariston, mengemukakan bahwa lonjakan risiko geopolitik hampir selalu diikuti oleh penurunan aliran dana asing di emerging market. Struktur pasar saham Indonesia yang masih didominasi oleh pengaruh investor global membuat tekanan jual biasanya cepat tercermin pada indeks. “Ketika risiko global meningkat, investor asing cenderung menurunkan eksposur mereka di emerging market. Karena dana asing masih sangat dominan di saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), tekanan jual dapat langsung terasa pada pergerakan IHSG,” jelas Irwan kepada Kontan, Senin (2/3/2026).
Irwan menambahkan, jika sentimen risk-off berkembang menjadi fase panik, koreksi pasar umumnya terjadi dengan cepat namun tidak berlangsung lama. Setelah valuasi kembali menarik dan fundamental domestik menunjukkan stabilitas, arus dana asing berpeluang untuk kembali masuk secara bertahap. Selain itu, kondisi geopolitik juga turut mendorong terjadinya rotasi sektor di pasar saham. Dana investor cenderung beralih dari saham-saham bertumbuh (growth stocks) dan berpindah ke sektor-sektor berbasis komoditas.
IHSG Dibayangi Konflik Timur Tengah, Sektor Energi Bisa Jadi Penopang
“Sektor yang rentan terhadap tekanan biasanya adalah perbankan besar, konsumer siklikal, dan properti. Sebaliknya, sektor energi serta saham-saham komoditas, termasuk emas, justru berpotensi diuntungkan dari kondisi ini,” paparnya. Irwan memperkirakan IHSG akan bergerak sangat volatil dengan kecenderungan melemah selama ketidakpastian global masih tinggi. Area support teknikal menjadi level krusial yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar. Jika level tersebut ditembus, disertai dengan aksi jual bersih (net sell) asing yang konsisten, koreksi berpotensi berlanjut lebih dalam.
Rekomendasi Saham
Senada, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, berpandangan bahwa eskalasi konflik ini mendorong investor global untuk beralih ke aset-aset safe haven seperti dolar AS dan emas, sehingga meningkatkan tekanan volatilitas di pasar domestik. “Dalam jangka pendek, arus dana asing berpotensi tertekan dan membuat IHSG lebih sensitif terhadap dinamika global, meskipun fundamental makro ekonomi Indonesia relatif stabil dan kokoh,” paparnya.
Harga Saham Emiten Emas Menguat di Tengah Konflik Israel-AS dan Iran
Abida memperkirakan aksi net sell asing dapat memicu koreksi indeks lebih dari 2,5% dalam waktu singkat apabila disertai lonjakan harga minyak mentah dan penguatan tajam dolar AS. Tekanan ini biasanya paling terasa pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penggerak utama indeks. Ia juga menilai rotasi sektoral berpeluang besar terjadi, di mana saham-saham berbasis komoditas dan energi akan menjadi lebih resilien atau tangguh di tengah tingginya volatilitas pasar.
Dalam kondisi pasar saat ini, Abida menekankan bahwa strategi defensif dan selektif dinilai lebih relevan. Investor disarankan untuk mencermati saham-saham komoditas logam seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang berpotensi mendapatkan sentimen positif dari kenaikan harga emas dan mineral. Selain itu, saham-saham energi seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), serta PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) juga dinilai menarik untuk dicermati seiring potensi kenaikan harga minyak global.
Abida merekomendasikan saham ANTM dengan target harga Rp 4.800, ARCI Rp 2.500, MEDC Rp 2.000, dan BRMS Rp 1.200. Ia menegaskan, di tengah dinamika arus dana asing yang fluktuatif, kunci utama bagi investor adalah menjaga manajemen risiko serta melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat saat terjadi koreksi pasar yang berlebihan.
Serangan AS ke Iran Picu Aksi Risk-Off, Cermati Efeknya & Saham Rekomendasi Analis




