Konflik Timur Tengah angkat harga aluminium dan nikel, harga timah masih tertekan

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga logam industri global menunjukkan pergerakan yang sangat dinamis, dipicu oleh ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah dan berbagai faktor fundamental pasar. Fluktuasi ini menciptakan lanskap investasi yang kompleks, khususnya bagi komoditas vital seperti aluminium, nikel, dan timah.

Advertisements

Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (10 Maret 2026) pukul 14.40 WIB, harga aluminium tercatat melonjak 5,02% dalam sepekan, mencapai US$ 3.352 per ton. Demikian pula, nikel mengalami kenaikan signifikan sebesar 1,75% dalam periode yang sama, mengukuh pada level US$ 17.433 per ton. Kontras dengan kedua logam tersebut, harga timah justru mengalami koreksi tajam, anjlok 13,27% dalam sepekan ke US$ 50.065 per ton, meskipun sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi di US$ 57.730 per ton pada Jumat (27 Februari 2026).

Analis komoditas dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa gejolak geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama di balik lonjakan harga aluminium dan nikel. Konflik tersebut telah mengganggu rantai produksi aluminium serta menimbulkan pembatasan dalam pengiriman global. Khusus untuk aluminium, Leong menambahkan bahwa persediaan global yang relatif rendah, ditambah dengan keterbatasan kapasitas produksi baru akibat biaya energi yang tinggi dan pembatasan produksi di beberapa negara, turut menopang kenaikannya. Sementara itu, nikel menikmati dukungan kuat dari meningkatnya permintaan baterai kendaraan listrik (EV) serta kebijakan pasokan dari produsen-produsen utama seperti Indonesia. Meskipun demikian, pasar nikel masih dibayangi kondisi oversupply, yang membuat laju kenaikannya cenderung lebih terbatas.

Berbeda dengan tren positif aluminium dan nikel, harga timah justru tertekan. Menurut Lukman, penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, terutama aksi ambil untung (profit taking) setelah kenaikan yang signifikan sebelumnya. Selain itu, permintaan elektronik yang belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi dan perang dagang, serta sensitivitas timah yang lebih tinggi terhadap potensi perlambatan ekonomi global, turut berkontribusi pada koreksi harganya.

Advertisements

Senada dengan pandangan tersebut, Analis komoditas sekaligus pendiri Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengamini bahwa koreksi harga timah merupakan fenomena teknikal yang wajar di pasar komoditas setelah mencapai level puncaknya. Lebih lanjut, Wahyu menegaskan bahwa permintaan struktural terhadap aluminium dan nikel tetap kokoh, terutama didorong oleh sektor kendaraan listrik (EV) dan infrastruktur teknologi. Kedua logam ini, lanjutnya, adalah material krusial yang mendukung efisiensi bodi kendaraan serta pengembangan baterai berkapasitas tinggi.

Pembangunan pusat data (data center) dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) secara masif juga sangat bergantung pada pasokan logam industri ini. Bahkan, timah tetap memegang peranan vital sebagai bahan solder dalam industri semikonduktor, sebuah komponen esensial dalam setiap perangkat elektronik modern. Wahyu menyimpulkan bahwa selama agenda transisi energi dan digitalisasi tetap menjadi prioritas utama di tingkat global, permintaan terhadap logam-logam ini diproyeksikan akan tetap tangguh dan resilien, bahkan di tengah potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Advertisements

Also Read

Tags