
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) mencatatkan kinerja yang relatif solid sepanjang tahun 2025. Perusahaan laboratorium klinik ini membukukan pendapatan sebesar Rp 2,28 triliun atau tumbuh 1,31% secara tahunan.
Pertumbuhan pendapatan tersebut didorong oleh kontribusi dari segmen pemeriksaan rutin yang masih menjadi tulang punggung bisnis, serta peningkatan permintaan pada layanan esoterik yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Direktur Utama Prodia, Dewi Muliaty, mengatakan capaian tersebut mencerminkan efektivitas strategi perusahaan dalam memperkuat inovasi layanan serta mengoptimalkan jaringan bisnis yang dimiliki.
“Pendapatan sebesar Rp 2,28 triliun pada tahun buku 2025 mencerminkan efektivitas strategi kami dalam mengakselerasi inovasi, memperkuat ekosistem digital, serta mengoptimalkan jaringan layanan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (12/3/2026).
Prospek Prodia (PRDA) dan Diagnos (DGNS) 2026 Tetap Positif, Cek Rekomendasinya
Di sisi profitabilitas, Prodia membukukan laba bersih sebesar Rp 207 miliar pada 2025. Sementara itu, laba usaha tercatat Rp 225 miliar dan laba sebelum pajak mencapai Rp264 miliar.
Dari sisi neraca, total aset Prodia tercatat sebesar Rp 2,70 triliun. Struktur permodalan perusahaan juga relatif sehat dengan total liabilitas Rp 302 miliar dan ekuitas sebesar Rp2,39 triliun.
Selain itu, arus kas bersih dari aktivitas operasi tercatat mencapai Rp424 miliar, yang menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan kas dari kegiatan operasional inti.
Sepanjang tahun lalu, Prodia juga merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) lebih dari Rp165 miliar. Dana tersebut digunakan untuk pengembangan infrastruktur, modernisasi peralatan laboratorium, serta inovasi layanan digital.
Direktur Keuangan Prodia Liana Kuswandi mengatakan perusahaan akan terus menjaga kualitas pendapatan melalui pengembangan layanan dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Prodia Perkuat Bisnis Terapi Regeneratif dan Ekspansi Diagnostik pada 2026
“Memasuki tahun 2026, kami akan fokus meningkatkan kualitas pendapatan melalui bauran tes bernilai tinggi seperti tes-tes esoterik dan layanan diagnostik klinis yang semakin komprehensif,” jelasnya.
Dari sisi operasional, Prodia mencatat lebih dari 888 ribu pelanggan baru sepanjang 2025 dengan total lebih dari 20 juta tes yang dilakukan. Jumlah kunjungan ke layanan Prodia juga mencapai lebih dari 2,79 juta kunjungan sepanjang tahun.
PRDA Chart by TradingView
Perusahaan juga terus memperkuat kanal digital melalui aplikasi U by Prodia yang mencatat lebih dari 2,9 juta unduhan atau tumbuh 70% secara tahunan.
Ekspansi jaringan juga menjadi salah satu fokus perusahaan. Sepanjang 2025, Prodia menambah satu laboratorium medis, dua genomic site, serta 71 point of care (POC).
Dengan tambahan tersebut, hingga akhir 2025 Prodia telah memiliki total 402 outlet yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Perseroan juga memperluas kemitraan internasional ke sejumlah negara seperti Taiwan, Malaysia, dan Timor Leste.
Prodia (PRDA) Perkuat Layanan Stem Cell dan Ekspansi Regional Pacu Kinerja di 2026
Memasuki 2026, Prodia berencana memperkuat pengembangan layanan precision medicine melalui ekspansi specialty clinic di sejumlah bidang seperti stem cell, autoimmune, dan longevity.
Perusahaan juga akan mendorong pengembangan pemeriksaan esoterik dan diagnostik klinis kompleks melalui Prodia Clinical Multiomics Centre (PCMC) yang didukung teknologi mass spectrometry.
Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung pertumbuhan bisnis Prodia sekaligus memperkuat posisi perusahaan dalam pengembangan layanan kesehatan berbasis precision medicine di Indonesia.




