Yusril minta Polri bongkar aktor intelektual di balik penyiraman aktivis KontraS

Hikma Lia

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas insiden penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Peristiwa keji yang terjadi di Jalan Salemba, Jakarta Pusat, pada Kamis (12/3) malam itu, menurut Yusril, harus diungkap hingga menemukan aktor intelektual di baliknya.

Advertisements

Dalam siaran pers yang disampaikan pada Jumat (13/3), Yusril menegaskan pentingnya penuntasan kasus ini. “Saya meminta aparat penegak hukum, khususnya Polri, memastikan pengusutan tuntas sampai ke aktor intelektual, bukan hanya pelaku penyerangan di lapangan,” ujarnya, menekankan bahwa kasus ini tidak boleh berhenti pada eksekutor di lapangan semata.

Yusril menilai pola serangan terhadap aktivis HAM ini menunjukkan adanya perencanaan yang matang dan terorganisir. Oleh karena itu, ia kembali mendorong agar aparat penegak hukum mengusut perkara ini secara menyeluruh dan transparan, tanpa kompromi, guna mengungkap seluruh pihak yang terlibat.

Mantan Menteri Sekretaris Negara periode 2004-2007 ini juga menginformasikan bahwa ia telah berkoordinasi langsung dengan Kapolda Metro Jaya. Kasus ini ditangani bersama oleh Polda Metro Jaya dan Bareskrim Polri. Meski demikian, Yusril menyatakan bahwa aparat masih melakukan pendalaman intensif terhadap perkara tersebut, sehingga belum dapat membagikan informasi lebih lanjut kepada publik.

Advertisements

Yusril menekankan bahwa dalam negara demokrasi, setiap pihak wajib menghormati perbedaan pandangan. Ia menegaskan, tindakan kekerasan terhadap aktivis demokrasi dan HAM, seperti yang menimpa Andrie Yunus, tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun. “Menyerang aktivis demokrasi dan HAM, meskipun berbeda pendapat dengan mereka, tetap tidak dapat dibenarkan,” tegasnya, menggarisbawahi prinsip fundamental kebebasan berekspresi.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal KontraS, Andy Irfan, membeberkan kronologi insiden yang menimpa rekannya. Penyerangan brutal itu terjadi sesaat setelah Andrie Yunus menyelesaikan perekaman siniar (podcast) di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) sekitar pukul 23.00 WIB. Podcast yang baru saja direkam Andrie mengangkat tema krusial “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia.”

Akibat serangan keji ini, Andrie Yunus menderita luka bakar serius pada sejumlah bagian tubuhnya. Area yang paling terdampak meliputi tangan kanan dan kiri, wajah, dada, serta area mata, yang menunjukkan tingkat kekejaman pelaku.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis awal, kondisi Andrie Yunus cukup mengkhawatirkan dengan tingkat keparahan luka bakar mencapai sekitar 24%. Ia kini tengah menjalani penanganan intensif di rumah sakit untuk memulihkan diri dari dampak fisik serangan tersebut.

Andy Irfan menegaskan bahwa serangan terhadap Andrie Yunus bukanlah sekadar tindak kekerasan individu. Sebaliknya, ia memandangnya sebagai serangan terhadap seluruh gerakan masyarakat sipil yang gigih memperjuangkan demokrasi, keadilan, dan hak asasi manusia di Indonesia. Ini adalah upaya nyata untuk membungkam suara-suara kritis.

Andy melanjutkan, teror dan kekerasan semacam ini tidak akan pernah menghentikan perjuangan melawan impunitas. Justru, peristiwa ini semakin memperkuat dan meneguhkan komitmen masyarakat sipil untuk terus melawan ketidakadilan. Mereka menuntut pertanggungjawaban penuh dari negara atas setiap bentuk kekerasan yang dialami oleh para pembela HAM.

Dengan suara lantang, Andy Irfan menyampaikan pesan perlawanan dalam siaran pers Jumat (13/3). “Kami tidak takut. Teror tidak akan menghentikan perjuangan. Kami akan terus melawan setiap bentuk kekerasan dan impunitas,” tandasnya, menegaskan bahwa insiden ini hanya akan membakar semangat perlawanan mereka terhadap ketidakadilan dan kekerasan terhadap aktivis HAM.

Advertisements

Also Read

Tags