BANYU POS NEW YORK. Pasar saham Wall Street mengalami pelemahan signifikan pada Kamis (19/3/2026), dipicu oleh melonjaknya harga minyak mentah yang kembali memicu kekhawatiran akan inflasi. Di sisi lain, sikap hati-hati Federal Reserve terkait pemotongan suku bunga semakin memberikan tekanan pada sentimen pasar global.
Indeks Russell 2000, yang dikenal sensitif terhadap fluktuasi suku bunga, mencatat penurunan sebesar 0,4%. Penurunan ini terjadi setelah dalam sesi tersebut, indeks sempat menyentuh level 10% di bawah rekor tertinggi intraday sebelumnya. Sebuah indeks yang jatuh 10% atau lebih dari puncaknya secara basis penutupan-ke-penutupan secara teknis dikenal sebagai fase koreksi pasar.
Meskipun Micron Technology merilis proyeksi yang optimis, sentimen pasar tidak banyak terangkat. Saham perusahaan semikonduktor ini justru terkoreksi 4,4% karena investor mencermati rencana belanja modal yang lebih tinggi di tengah biaya pinjaman yang masih mahal. Gejolak ini juga menyeret saham produsen cip memori lainnya yang sempat menikmati lonjakan harga sepanjang tahun, seperti SanDisk dan Applied Digital, yang masing-masing merosot lebih dari 2%. Bahkan pemimpin di sektor kecerdasan buatan (AI), Nvidia, tak luput dari dampak, dengan sahamnya turun 1,5%.
Kekhawatiran inflasi diperparah oleh harga minyak Brent yang bertahan di sekitar US$112 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas energi di berbagai wilayah Timur Tengah sebagai balasan atas serangan Israel terhadap ladang gas South Pars miliknya. Namun, patokan minyak AS diperdagangkan dengan diskon terbesar terhadap Brent dalam 11 tahun terakhir, kondisi ini diakibatkan oleh pelepasan cadangan strategis AS dan tingginya biaya pengiriman.
Federal Reserve pada hari Rabu sebelumnya memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada level yang sama. Ketua Jerome Powell dalam pernyataannya menyoroti potensi inflasi yang lebih tinggi ke depan dan menyatakan terlalu dini untuk menilai dampak konflik di Timur Tengah terhadap ekonomi. Ia tetap pada proyeksi sebelumnya, yaitu satu kali pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin sepanjang tahun ini.
“Harga minyak kini tidak hanya memengaruhi harga saham, tetapi juga kebijakan Federal Reserve. Meskipun ini mungkin fenomena jangka pendek, inilah yang sedang dihadapi pasar saat ini,” ujar Dennis Follmer, Kepala Petugas Investasi di Montis Financial, dalam catatan analisnya. Pandangan ini sejalan dengan beberapa lembaga keuangan besar.
Morgan Stanley, misalnya, kini bergabung dengan Goldman Sachs dan Barclays yang telah memundurkan proyeksi pemotongan suku bunga dari Juni menjadi September. Para pelaku pasar kini bahkan tidak lagi mematok pemotongan suku bunga tahun ini, dengan data yang dihimpun LSEG menunjukkan kemungkinan langkah dovish Federal Reserve baru akan terjadi pada pertengahan 2027.
Pada penutupan pukul 22.04 WIB, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 218,84 poin, atau 0,45%, mencapai level 46.017,96. Indeks S&P 500 turun 32,62 poin, atau 0,49%, menjadi 6.592,08, sementara Nasdaq Composite kehilangan 148,57 poin, atau 0,67%, ditutup pada 22.004,27.
Indeks volatilitas Wall Street, CBOE, turut melonjak 0,79 poin menjadi 25,88, mengindikasikan peningkatan ketidakpastian di pasar. Konflik yang bergejolak di Timur Tengah memang memperburuk volatilitas pasar global. Meskipun demikian, saham-saham AS sebelumnya sempat terangkat berkat pemulihan di sektor teknologi dan lega bahwa Amerika Serikat merupakan eksportir energi bersih.
Setelah keputusan Federal Reserve, saham dan obligasi sama-sama mengalami penurunan. Kini, ketiga indeks utama diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 200-hari mereka (DMA), sebuah indikator teknikal yang mencerminkan momentum jangka panjang. Delapan dari 11 indeks sektor S&P 500 berada di zona merah, dengan sektor material memimpin penurunan sebesar 2,2%.
Harga logam mulia juga terpukul, tercermin dari penurunan saham penambang seperti Newmont dan Freeport-McMoRan yang masing-masing ambles 8,7% dan 7,5%. Saham perusahaan perjalanan yang sensitif terhadap harga energi, seperti Delta Air dan United, turun lebih dari 1%, sementara saham kapal pesiar seperti Norwegian dan Carnival masing-masing merosot 0,5%.
Pendapatan ABM Investatama (ABMM) Tertekan, Laba Bersih Susut Hampir 50% di 2025
Para investor akan terus mencermati setiap komentar dari para pembuat kebijakan sepanjang hari ini. Sementara itu, data klaim pengangguran mingguan secara tak terduga turun minggu lalu, menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang stabil dan sinyal pemulihan pertumbuhan pekerjaan pada bulan Maret. Selain itu, fokus juga akan tertuju pada pertemuan puncak AS-Jepang, di mana Presiden Donald Trump kemungkinan akan memanfaatkan forum tersebut untuk mendesak bantuan terkait konflik di Iran. Hal ini menyusul seruannya sebelumnya kepada sekutu untuk menjaga kelancaran jalur pelayaran melalui Selat Hormuz yang tidak mendapat respons memadai.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang mengalami penurunan jauh lebih banyak dibandingkan yang naik. Di NYSE, rasio penurunan dibanding kenaikan adalah 2,17 banding 1, sementara di Nasdaq mencapai 2,02 banding 1. Indeks S&P 500 mencatat 11 saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu, namun di sisi lain, 17 saham menyentuh level terendah. Demikian pula Nasdaq Composite, dengan 18 saham mencapai tertinggi baru dan 181 saham menyentuh level terendah.
Ditopang JIIPE, Laba AKR Corporindo (AKRA) Naik 11% Jadi Rp 2,47 Triliun pada 2025




