Putin disebut siap stop pertukaran intelijen dengan Iran, asal AS lakukan ini

Hikma Lia

Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan telah mengajukan tawaran mengejutkan: menghentikan seluruh pertukaran intelijen dengan Iran. Syaratnya, Amerika Serikat juga harus menghentikan praktik serupa dengan Ukraina. Proposal ini, jika diterima, berpotensi mengubah dinamika geopolitik global.

Advertisements

Laporan eksklusif dari Politico Europe pada Jumat (20/3) mengungkap rincian tawaran tersebut. Mengutip dua sumber anonim, media tersebut melaporkan bahwa usulan ini disampaikan oleh Utusan Khusus Putin, Kirill Dmitriev, dalam pertemuannya dengan Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner. Pertemuan penting itu terjadi pekan lalu di Miami, Florida, menjadi titik terang dari upaya diplomatik di balik layar.

Meski demikian, tawaran Moskow ini langsung ditolak oleh Pemerintahan Trump. Penolakan ini, alih-alih meredakan ketegangan, justru memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pejabat Eropa. Mereka mencurigai bahwa Vladimir Putin mungkin sedang berupaya untuk sengaja menabur benih perpecahan di antara para sekutu NATO yang telah lama terjalin.

Seorang pejabat senior Uni Eropa, yang berbicara kepada Politico Europe, secara tegas menyebut tawaran Putin itu sebagai tindakan yang “keterlaluan”. Kekhawatiran ini kian diperparah oleh pernyataan Presiden Trump pada hari yang sama, Jumat (20/3), yang secara terang-terangan menyindir NATO. Trump kala itu menyebut bahwa tanpa kehadiran Amerika Serikat, aliansi transatlantik tersebut hanyalah “macan kertas” belaka, sebuah kritik pedas yang resonan.

Advertisements

Tak berhenti di situ, Trump juga melontarkan kritik keras terhadap negara-negara Eropa terkait keengganan mereka dalam membantu upaya pembukaan kembali Selat Hormuz. Pemimpin Gedung Putih itu bahkan dengan gamblang melabeli para sekutunya di NATO sebagai “pengecut” karena menolak untuk turut serta dalam inisiatif krusial tersebut.

Dalam unggahannya di platform media sosial Truth Social, Trump menulis, “Mereka tidak mau bergabung dalam upaya menghentikan Iran memiliki senjata nuklir. Kini setelah pertempuran dimenangkan secara militer dengan risiko kecil bagi mereka, mereka justru mengeluhkan harga minyak tinggi.” Pernyataan ini menegaskan ketidakpuasannya terhadap respons sekutunya.

Konteks ketegangan ini tidak bisa dilepaskan dari eskalasi situasi di Timur Tengah. Sejak serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari lalu, ketegangan regional telah meningkat drastis. Konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, sebuah angka yang menunjukkan tingkat keparahan situasi.

Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan balasan masif menggunakan drone dan rudal di berbagai wilayah, yang secara efektif menyebabkan penutupan Selat Hormuz untuk sebagian besar lalu lintas komersial. Penutupan ini memiliki dampak global signifikan, mengingat Selat Hormuz adalah jalur transit minyak utama yang biasanya menangani sekitar 20 juta barel per hari, sekaligus menjadi koridor bagi sekitar 20 persen dari perdagangan gas alam cair (LNG) global. Situasi ini semakin memperumit krisis energi dunia.

Advertisements

Also Read

Tags