BANYU POS LONDON – Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan penguatan signifikan, didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi terjadi setelah Garda Revolusi Iran mengeluarkan pernyataan tegas, mengancam akan menargetkan pembangkit listrik Israel serta fasilitas serupa yang memasok pangkalan Amerika Serikat (AS) di kawasan tersebut. Ancaman ini merupakan respons balasan atas potensi serangan terhadap sektor kelistrikan Iran.
Pada Senin (23/3/2026) pukul 17.15 WIB, pasar energi global menyaksikan kenaikan substansial. Harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2026 melonjak US$ 1,15 atau 1%, mencapai level US$ 113,34 per barel. Tak ketinggalan, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman bulan yang sama juga ikut menanjak sebesar 79 sen atau sekitar 0,8%, bertengger di US$ 99,02 per barel. Kedua kontrak patokan ini sempat mengalami koreksi penurunan US$ 1 setelah mengawali perdagangan Asia dengan kenaikan serupa dalam sesi yang penuh gejolak.
Kenaikan pada WTI turut memperkecil selisih harganya terhadap Brent, sebuah diskon yang pekan lalu sempat melebar ke titik terlebar dalam 13 tahun terakhir. Situasi ini mencerminkan dinamika pasar yang sangat responsif terhadap perkembangan geopolitik. Analis minyak dari PVM, Tamas Varga, menyatakan bahwa harga minyak diperkirakan akan tetap stabil atau bahkan terus meningkat hingga ada kejelasan apakah AS benar-benar akan melanjutkan serangan terhadap pembangkit listrik Iran. “Hal itu akan memicu tindakan balasan yang signifikan dari Iran, yang akan menyebabkan harga minyak naik secara signifikan,” tambahnya.
Ancaman Iran ini muncul menyusul ultimatum keras dari Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (21/3/2026). Trump mengancam akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika negara tersebut gagal membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya dalam kurun waktu 48 jam. Pernyataan ini dikeluarkan hanya sehari setelah ia berbicara tentang “mengakhiri” perang yang kini telah memasuki minggu keempat, mengindikasikan semakin memanasnya konflik di kawasan strategis tersebut.
Vandana Hari, pendiri penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights, menyoroti bahwa sentimen pasar minyak kemungkinan akan terus bergejolak dalam jangka pendek akibat serangkaian ancaman dan retorika yang beredar. Namun, menurut Hari, arah pergerakan harga yang lebih berkelanjutan akan tetap dibentuk oleh kondisi fundamental aliran minyak di Timur Tengah. Hal ini menggarisbawahi pentingnya stabilitas pasokan dari wilayah yang merupakan urat nadi energi global.
Situasi di Timur Tengah kini dinilai semakin kritis. Fatih Birol, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), pada hari Senin bahkan menyebut krisis saat ini lebih parah daripada gabungan dua guncangan minyak pada era 1970-an. Konflik yang berkecamuk telah merusak fasilitas energi utama di Teluk dan hampir melumpuhkan pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur vital yang menangani sekitar 20% dari total aliran minyak dan gas alam cair global.
Para analis pasar memperkirakan bahwa kerugian produksi minyak di Timur Tengah dapat mencapai angka fantastis, yakni antara 7 juta hingga 10 juta barel per hari. Angka ini menggambarkan skala dampak yang mengerikan terhadap pasokan global. Irak, salah satu produsen minyak terbesar, telah menyatakan keadaan kahar (force majeure) pada semua ladang minyak yang dikembangkan oleh perusahaan minyak asing, sebuah langkah darurat yang menegaskan parahnya situasi.
Lebih lanjut, Menteri Perminyakan Irak Hayan Abdel-Ghani mengungkapkan bahwa produksi minyak mentah di Perusahaan Minyak Basra telah dipangkas drastis, dari semula 3,3 juta barel per hari menjadi hanya 900.000 barel per hari. Di sisi lain, para penyuling minyak India dikabarkan berencana untuk kembali membeli minyak Iran, sementara sejumlah penyuling di negara-negara Asia lainnya juga sedang mempertimbangkan langkah serupa sebagai upaya untuk mengamankan pasokan. Kontras dengan itu, Sinopec, perusahaan penyulingan minyak milik negara China, menyatakan tidak berniat membeli minyak Iran, namun sedang mengupayakan izin untuk memanfaatkan cadangan minyak negara.
Gejolak pasokan global semakin diperparah oleh perkembangan di Eropa. Pelabuhan Primorsk dan Ust-Luga di Laut Baltik, yang merupakan jalur ekspor minyak terbesar Rusia, telah menangguhkan ekspor minyak mentah dan bahan bakar sejak hari Minggu. Penangguhan ini menyusul serangkaian serangan pesawat tak berawak, demikian diungkapkan oleh dua sumber industri kepada Reuters pada hari Senin, menambah tekanan pada pasar minyak global yang sudah tegang dan memicu kekhawatiran akan kekurangan yang lebih luas.




