Harga aluminium melejit usai serangan di Timur Tengah, tren bullish berlanjut?

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Harga aluminium menunjukkan potensi lonjakan signifikan, didorong oleh peningkatan tensi geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah. Konflik ini secara langsung mengganggu sejumlah fasilitas produksi utama di kawasan tersebut, memicu kekhawatiran serius di pasar komoditas global.

Advertisements

Serangan yang menargetkan produsen logam terbesar di Timur Tengah telah menimbulkan kecemasan akan potensi gangguan pasokan global yang berkelanjutan. Aluminium Bahrain, yang mengoperasikan pabrik peleburan terbesar di dunia di satu lokasi, pada Minggu (29/3/2026) mengumumkan bahwa mereka sedang dalam tahap penilaian kerusakan akibat serangan Iran. Sementara itu, Emirates Global Aluminium turut melaporkan adanya “kerusakan signifikan” pada pabriknya.

Dampak langsung dari peristiwa ini segera terlihat di pasar. Melansir data Trading Economics pada Senin (30/3/2026) pukul 13.50 WIB, harga aluminium terpantau melonjak 5,49% dalam sehari, mencapai US$ 3.454,2 per ton. Kenaikan ini memperpanjang tren positif sepanjang tahun (ytd), dengan aluminium tercatat naik 15,3%.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa peristiwa ini berpotensi memberikan dampak yang sangat substansial terhadap pergerakan harga aluminium, utamanya dari sisi suplai. Hal ini mengingat Timur Tengah memegang peran krusial sebagai salah satu kontributor penting dalam produksi aluminium dunia. Menarik untuk mencermati rekomendasi saham pilihan di tengah melesatnya harga komoditas ini.

Advertisements

Lebih lanjut, Lukman menjelaskan bahwa kedalaman dampak dari konflik ini akan sangat bergantung pada durasi eskalasi dan sejauh mana gangguan pasokan meluas hingga ke jalur distribusi vital seperti Selat Hormuz. Dalam jangka pendek, harga aluminium diperkirakan cenderung menguat seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pasar yang bersifat instan. Sementara itu, untuk jangka menengah, tren kenaikan berpotensi berlanjut dan mengarah pada kondisi bullish apabila gangguan pasokan tidak kunjung pulih.

Selain faktor geopolitik, Lukman juga menyoroti tingginya biaya energi sebagai pendorong utama pergerakan harga aluminium. Produksi aluminium dikenal sebagai salah satu industri yang sangat intensif energi, sehingga setiap kenaikan harga energi global akan secara langsung memicu peningkatan biaya produksi secara signifikan. Fenomena ini juga terlihat pada pergerakan komoditas lain; di mana Nikel dan Aluminium Menguat, sementara Timah justru Ambles 23%, memunculkan beragam analisis prospek.

Dari sisi permintaan, kebutuhan akan aluminium terus menunjukkan pertumbuhan yang solid, terutama didorong oleh sektor-sektor kunci seperti kendaraan listrik (EV), energi terbarukan, dan pembangunan infrastruktur yang masif. Kondisi ini diperparah dengan terbatasnya pertumbuhan pasokan global, khususnya dari Tiongkok, akibat implementasi kebijakan lingkungan yang ketat dan pembatasan energi. Akibatnya, fleksibilitas suplai aluminium global relatif rendah, menciptakan ketidakseimbangan pasar.

“Kombinasi antara permintaan yang kuat dan suplai yang ketat membuat prospek aluminium pada tahun 2026 secara fundamental masih bullish, meskipun pergerakannya akan sangat volatil mengikuti dinamika geopolitik dan ekonomi global,” jelas Lukman. Prospek ini tentu relevan untuk memahami efeknya bagi emiten sektor tersebut.

Mempertimbangkan kondisi pasar saat ini, Lukman memperkirakan harga aluminium akan bergerak dalam kisaran US$ 3.200 hingga US$ 3.800 per ton pada semester I-2026. Namun, jika terjadi eskalasi konflik lebih lanjut atau gangguan pasokan yang meluas secara signifikan, harga aluminium berpotensi menembus level US$ 4.000 per ton, atau bahkan mencapai titik yang lebih tinggi lagi.

Advertisements

Also Read

Tags