Tembus level psikologis, rupiah berpotensi melemah lagi ke Rp 17.250 per dolar AS

Hikma Lia

BANYU POS – JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut, terhimpit oleh derasnya sentimen global dan meningkatnya risiko domestik.

Advertisements

Pada perdagangan Senin (30/3/2026), nilai tukar rupiah di pasar spot mencetak rekor terburuk sepanjang masa, menembus angka krusial di atas Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Secara spesifik, rupiah spot ditutup melemah tajam di level Rp 17.002 per dolar AS, menunjukkan indikasi pelemahan yang signifikan.

Menilik target asumsi makro pemerintah dan realitas tekanan pasar, Profesor Rahma Gafmi, seorang Guru Besar dari Universitas Airlangga (Unair), menyatakan bahwa posisi rupiah saat ini sangat jauh dari ideal. Menurut analisisnya, tekanan yang dialami rupiah bukan sekadar fluktuasi jangka pendek, melainkan cerminan dari kondisi fundamental ekonomi yang tengah tertekan.

Rupiah Tembus Rp 17.002, Ekonom Nilai Kebijakan FX Repo BI Tak Cukup Ampuh

Advertisements

“Berdasarkan data pasar spot terbaru, pergerakan rupiah berada di kisaran Rp 16.984 per USD hingga Rp 17.000. Angka ini secara signifikan telah melampaui asumsi awal makro ekonomi yang ditetapkan pemerintah,” jelas Rahma saat dihubungi Kontan pada Senin (30/3/2026). Ia menambahkan, “Beberapa analis bahkan mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko teknis jika rupiah menembus level psikologis baru, terutama mengingat volatilitas yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.”

Kendati demikian, Indonesia masih memiliki fundamental yang cukup kuat berupa cadangan devisa yang relatif kokoh, tercatat di atas US$ 150 miliar. Kondisi ini memberikan ruang gerak bagi Bank Indonesia (BI) untuk melancarkan intervensi di pasar, dengan tujuan meredam gejolak dan menjaga stabilitas rupiah.

Namun, Rahma menegaskan bahwa intervensi tersebut memiliki batasan. “Intervensi pasar hanya berfungsi untuk meredam ledakan volatilitas, bukan untuk membalikkan arah tren fundamental yang secara masif didorong oleh sentimen global,” ujarnya, memperingatkan agar tidak terlalu bergantung pada langkah intervensi.

Menurut penilaiannya, sentimen global saat ini menjadi faktor dominan yang terus menekan rupiah, mencakup ketidakpastian geopolitik dan penguatan dolar AS. Meskipun demikian, ia juga menggarisbawahi bahwa faktor domestik turut memperberat tekanan ini, khususnya dari sisi fiskal.

Rahma menjelaskan bahwa peningkatan belanja fiskal berpotensi menambah beban signifikan terhadap stabilitas rupiah. Apabila tidak dikelola secara bijaksana, kondisi ini berisiko memperdalam tekanan yang sudah ada pada mata uang domestik kita.

Lebih lanjut, ia memperkirakan adanya peluang pelemahan rupiah yang lebih tajam dalam jangka pendek, terutama pada kuartal II-2026.

Cek Prospek Erajaya (ERAA) di Tahun 2026 Usai Raih Kenaikan Laba di 2025

“Apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, target pelemahan berikutnya diperkirakan akan mencapai kisaran Rp 17.150, bahkan berpotensi menyentuh Rp 17.250,” imbuhnya. “Namun, saya melihat adanya potensi konsolidasi di rentang tersebut jika Bank Indonesia mengambil langkah intervensi yang agresif di pasar spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward).”

Di samping itu, konflik yang tak kunjung mereda di Timur Tengah turut menjadi pemicu utama tetap tingginya harga minyak dunia. Laporan terbaru menunjukkan bahwa harga minyak jenis Brent Crude Oil masih kokoh bertahan di atas US$ 100 per barel, menambah beban bagi ekonomi global.

“Sebagai negara net importir minyak, Indonesia menghadapi tekanan masif terhadap neraca perdagangan, yang secara otomatis berimbas pada pelemahan rupiah,” tegas Rahma. “Mengingat kondisi fiskal kita yang sedang tidak stabil, diperlukan langkah-langkah konkret dan strategis untuk memitigasi dampak ini agar tidak semakin memburuk.”

Advertisements

Also Read

Tags