Kemenkeu ancang-ancang raupan windfall komoditas dampak perang Timur Tengah

Hikma Lia

BANYU POS – , JAKARTA — Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tengah mempersiapkan strategi untuk meraih potensi penerimaan tambahan atau windfall dari gejolak harga komoditas global. Lonjakan harga minyak dunia, yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, membuka peluang signifikan bagi anggaran negara, meskipun ada nuansa ‘harap-harap cemas’ terkait realisasinya.

Advertisements

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Nathan Kacaribu, mengungkapkan bahwa bentuk spesifik dari windfall ini memang belum final. Namun, ia menegaskan bahwa ‘ada kenaikan penerimaan karena memang kenaikan harga-harga.’ Ia merujuk pada peningkatan signifikan harga batu bara, harga CPO, harga nikel, dan harga tembaga, yang secara otomatis akan mengatrol pendapatan negara, seperti yang disampaikannya di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah RI (Bakom RI) pada Kamis (9/4/2026).

Meskipun tanpa perubahan kebijakan pun penerimaan akan meningkat, pemerintah memiliki ambisi untuk mendapatkan windfall ekstra dari kenaikan harga komoditas tersebut. Febrio menjelaskan, ‘Nah itu yang nanti akan kita sedang bahas dengan Kementerian ESDM, ada berbagai mineral yang sedang kita lihat. Bisa bentuknya macam-macam, ada yang royalti, ada yang bea keluar nanti kita akan finalkan, nanti kalau sudah final baru kita omongkan.’ Pembahasan ini menunjukkan langkah proaktif pemerintah dalam memaksimalkan keuntungan dari tren pasar global.

Senada dengan Febrio, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya juga telah mengisyaratkan potensi windfall serupa. Dalam rapat dengan Komisi XI DPR pada Senin (6/4/2026), Purbaya memperkirakan adanya tambahan pendapatan dari lonjakan harga minyak dan batu bara di pasar dunia. ‘Nanti juga Pak Menteri ESDM [Energi dan Sumber Daya Mineral] menjanjikan pendapatan yang lebih dari kenaikan harga minyak dan batu bara di pasar dunia. Jadi masyarakat jangan khawatir,’ ujarnya kala itu, menenangkan publik di Kompleks Parlemen Senayan.

Advertisements

Meski demikian, otoritas fiskal hingga kini belum merilis estimasi pasti berapa potensi tambahan setoran ke APBN dari windfall komoditas ini. Kementerian ESDM pun masih enggan memerinci angka tersebut. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, hanya mengonfirmasi bahwa evaluasi intensif sedang berlangsung di antara dua kementerian. ‘Kenaikan harga komoditas diiringi dengan kenaikan harga BBM. Kami sedang mengevaluasi,’ jelas Tri Winarno kepada Bisnis pada Senin (6/4/2026).

Sikap kehati-hatian ini mencerminkan kompleksitas dalam menghitung dan merealisasikan penerimaan tambahan di tengah dinamika pasar global dan kebutuhan domestik. Pemerintah terus berupaya mencari formula terbaik agar lonjakan harga komoditas dapat memberikan manfaat maksimal bagi keuangan negara tanpa membebani masyarakat, menjaga asa di tengah ketidakpastian.

Advertisements

Also Read