Rupiah sentuh Rp 17.192 per dolar AS, rekor terburuk sepanjang masa

Hikma Lia

Pagi ini, Rupiah Indonesia mencetak rekor terendah sepanjang masa, menambah kekhawatiran di tengah gejolak pasar keuangan global. Fenomena ini terjadi saat bursa saham negara berkembang di Asia justru menunjukkan tanda-tanda penguatan, diproyeksikan menutup minggu ini dengan kenaikan signifikan. Investor global terpantau menanti dengan cermat perkembangan konflik di Timur Tengah, berharap adanya resolusi jangka pendek yang dapat menstabilkan ketidakpastian.

Advertisements

Terlepas dari penurunan 0,9% indeks MSCI untuk saham-saham negara berkembang Asia dari level prapengungsi, pasar regional ini menunjukkan resiliensi yang patut dicatat. Indeks tersebut diproyeksikan mengakhiri minggu ini dengan lonjakan 3,5%, mendorong total kenaikan di bulan April mencapai 15,4% setelah terperosok tajam 14% di bulan Maret. Tren positif ini juga tercermin pada indeks saham-saham negara berkembang global yang lebih luas, yang kini berada di jalur kenaikan tiga minggu berturut-turut, menguat sekitar 3%.

Di belahan dunia lain, perkembangan penting juga terjadi di Amerika Latin. Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia telah kembali menjalin dialog dengan Venezuela, setelah terhenti sejak tahun 2019. Langkah ini membuka peluang bagi IMF untuk melakukan evaluasi ekonomi Venezuela secara komprehensif, sebuah tinjauan pertama dalam kurun waktu sekitar dua dekade.

Rupiah Terhempas, Dekati Rp 17.200 per Dolar AS di Tengah Ketidakpastian Global (17/4)

Advertisements

Fokus utama di Asia beralih ke Rupiah Indonesia yang kembali mencatat level terendah sepanjang masa. Mata uang Garuda ini sempat menyentuh angka Rp 17.192 per dolar AS, memperpanjang pelemahannya untuk tahun 2026 hingga 3%, sebagian besar terjadi sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, Indonesia sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik ini, meskipun cadangan batu bara dan gasnya yang melimpah menjadikannya eksportir energi bersih secara keseluruhan.

Glenn Yin, direktur riset di perusahaan pialang ACCM, menegaskan bahwa tekanan terhadap Rupiah datang dari berbagai penjuru. “Saat ini, tekanan penurunan IDR berasal dari hampir setiap arah: arus keluar modal dari obligasi Indonesia, keterbatasan amunisi dari bank sentralnya, dan fakta bahwa Indonesia adalah pengekspor energi bersih di tengah situasi geopolitik yang sangat tidak pasti,” jelas Yin. Lebih lanjut, data LSEG menunjukkan bahwa sepanjang bulan ini, pasar saham Indonesia telah mengalami arus keluar dana asing sekitar Rp 6,07 triliun, atau setara US$ 353,17 juta. Meskipun demikian, indeks acuan saham domestik terpantau sedikit menguat pada hari Jumat dan diprediksi akan menutup minggu dengan kenaikan lebih dari 2%.

Di kawasan Asia lainnya, pergerakan pasar menunjukkan gambaran yang beragam. Saham di Korea Selatan dan Taiwan memang sedikit melemah, namun diproyeksikan mencatat kenaikan mingguan yang impresif, masing-masing lebih dari 5% dan 4%. Sementara itu, Malaysia menghadapi tantangan ekonomi dengan perkiraan awal melambatnya pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama dibandingkan periode sebelumnya. Data terpisah menunjukkan inflasi konsumen di bulan Maret naik sesuai ekspektasi, meski meningkat dari bulan Februari. Saham di Kuala Lumpur menguat tipis pada perdagangan sore, namun diperkirakan akan mengakhiri minggu ini tanpa perubahan signifikan, sementara Ringgit melemah tipis ke 3,9530 per dolar AS.

Berbeda dengan tren positif di beberapa negara, indeks acuan Thailand anjlok lebih dari 1%, mencapai level terendah sejak 7 April, dengan kerugian mingguan sebesar 2,2%. Situasi serupa terjadi di Filipina, di mana saham-saham turun 0,4% dan diperkirakan mengakhiri minggu dengan penurunan 1%. Kehati-hatian investor menjelang akhir pekan ini sangat terasa, terutama setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan berlanjutnya pembicaraan antara AS dan Iran. Kyle Rodda, analis pasar keuangan senior di Capital.com, menyoroti sentimen ini: “Ada sedikit keengganan mengambil risiko menjelang akhir pekan mengingat kecenderungan ketegangan meningkat dan konflik bertambah ketika pasar tutup.”

Kondisi geopolitik yang memanas ini tak luput dari perhatian global. Seorang eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini memperingatkan bahwa ketergantungan Asia pada bahan bakar dari Timur Tengah menjadikannya jauh lebih rentan terhadap guncangan energi dibandingkan wilayah lain. Potensi kekurangan pasokan akibat perang yang berkepanjangan dapat secara serius mengancam pertumbuhan ekonomi di seluruh benua.

Advertisements

Also Read

Tags