
BANYU POS – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan berada dalam tekanan pada perdagangan pekan depan. Kombinasi sentimen global dan domestik yang belum sepenuhnya kondusif berpotensi mendorong IHSG menguji level psikologis 7.000.
Tim riset Phintraco Sekuritas menyoroti ketidakpastian geopolitik yang terus membayangi kawasan Timur Tengah, khususnya terkait konflik di sekitar Selat Hormuz. Kondisi ini membuat harga energi bertahan tinggi lebih lama dari ekspektasi pasar, menimbulkan kekhawatiran yang berkepanjangan.
Meskipun gencatan senjata antara Israel dan Lebanon telah diperpanjang selama tiga pekan, langkah ini dinilai belum cukup meredakan kekhawatiran pelaku pasar secara signifikan. Investor juga mulai meragukan peluang kembalinya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran dalam waktu dekat, sehingga volatilitas harga komoditas energi masih berpotensi berlanjut dan memengaruhi sentimen global.
Secara teknikal, pergerakan IHSG menunjukkan sinyal pelemahan yang berkelanjutan. Dengan kondisi tersebut, IHSG diproyeksikan akan bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan melemah. Level support krusial diperkirakan berada di 7.000, dengan pivot di 7.200, dan resistance di 7.300.
Di tengah dinamika pasar yang penuh tantangan ini, investor disarankan untuk mencermati sejumlah saham yang berpotensi aktif diperdagangkan pada pekan depan. Saham-saham tersebut antara lain ADMR, ADRO, BFIN, ISAT, ULTJ, dan SRTG, seperti yang tertulis dalam riset yang dikutip pada Sabtu (25/4/2026).
Beralih ke kancah global, perhatian investor pekan depan akan tertuju pada hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan pada 29 April. Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75%.
Selain itu, serangkaian data ekonomi penting dari AS juga akan dirilis, mulai dari data kepercayaan konsumen, sektor perumahan, produk domestik bruto (PDB) kuartal I-2026, hingga indikator inflasi kunci seperti indeks PCE dan aktivitas manufaktur (ISM). Data-data ini akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi ekonomi terbesar di dunia tersebut.
Dari kawasan Asia, pelaku pasar akan mencermati keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ) pada 28 April. Meskipun tekanan inflasi di Jepang menunjukkan peningkatan, BoJ diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga di level 0,75%.
Sementara itu, di Eropa, data PDB kuartal I-2026, tingkat inflasi, serta angka pengangguran juga akan menjadi perhatian utama. Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BoE) diproyeksikan akan mempertahankan suku bunga masing-masing di level 2,15% dan 3,75%, mencerminkan kebijakan moneter yang relatif stabil di tengah tantangan ekonomi global.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




