Arah IHSG pekan depan ditentukan rilis data ekonomi

Hikma Lia

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih akan bergerak fluktuatif, cenderung di bawah tekanan terbatas, karena para pelaku pasar mengambil sikap hati-hati sembari menantikan rilis sejumlah data ekonomi penting. Sentimen kehati-hatian ini menjadi kunci pergerakan pasar di tengah ketidakpastian global.

Advertisements

Pada penutupan perdagangan Kamis (30/4), IHSG tak mampu bertahan di zona hijau, berakhir melemah signifikan sebesar 2,03% ke level 6.956,80. Sepanjang hari, tekanan jual yang masif bahkan sempat menyeret indeks ke titik terendah harian di 6.876, dengan jelas merefleksikan kerapuhan sentimen pasar modal di tengah gejolak global yang terus berlanjut.

Menanggapi kondisi ini, tim riset Phintraco Sekuritas memprediksi bahwa memasuki pekan depan, para pelaku pasar saham akan cenderung mengambil sikap yang lebih hati-hati. Sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis dalam waktu dekat dipandang sebagai penentu utama arah pergerakan IHSG ke depan.

Para investor akan fokus mencermati data penting seperti angka inflasi, neraca perdagangan, Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur, serta pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I/2026. Demikian diungkapkan tim riset tersebut pada Jumat (1/5/2026).

Advertisements

Baca juga: Masuki Mei, IHSG Dibayangi Sentimen Sell in May

Deretan data tersebut sangat krusial sebagai indikator untuk mengukur ketahanan ekonomi nasional di tengah berbagai tekanan eksternal. Apabila rilis data menunjukkan performa yang solid, tekanan jual di pasar saham berpotensi sedikit mereda.

Baca juga: IHSG Sepekan Turun 2,42% ke 6.956, Kapitalisasi Pasar Bursa Menguap Rp354 Triliun

Dalam sesi perdagangan Kamis (30/4) itu, koreksi harga tidak hanya menyasar sebagian, melainkan seluruh sektor IHSG, dengan sektor industri mengalami tekanan paling dalam, merosot hingga 2,95%. Pelemahan yang merata ini secara jelas mengindikasikan dominasi sentimen risk-off dari para investor, dipicu oleh eskalasi ketidakpastian geopolitik serta lonjakan harga komoditas energi global.

Salah satu sentimen pasar global paling berpengaruh datang dari kembali memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Negosiasi bilateral yang masih menemui jalan buntu, diperparah dengan pernyataan kontroversial Donald Trump yang mengancam akan mempertahankan blokade di Selat Hormuz jika Iran tidak memenuhi persyaratan AS, sontak mendorong harga minyak mentah dunia untuk melanjutkan relinya.

Kelanjutan kenaikan harga minyak yang melampaui ekspektasi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan investor terkait potensi lonjakan inflasi global. Bagi Indonesia, kondisi ini membawa implikasi signifikan, yaitu potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, khususnya dari beban subsidi energi yang membengkak.

Baca juga: Rapor IHSG April 2026 Tinggalkan 7.000, Saham EMAS-ADRO Masih Cuan

Di tengah tekanan di pasar saham, pasar valuta asing pun tak luput dari imbasnya. Nilai tukar Rupiah ditutup melemah 0,12% mencapai level Rp17.346 per dolar AS di pasar spot pada hari yang sama. Pelemahan ini mencerminkan kuatnya arus keluar modal asing dari dalam negeri serta penguatan signifikan dolar AS di kancah global.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements

Also Read