Laba grup Indofood (INDF) dan (ICBP) berlawanan arah, cek rekomendasi sahamnya

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dua entitas raksasa di bawah payung grup Indofood, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), telah merilis laporan keuangan konsolidasi untuk periode kuartal I-2026. Data terbaru menunjukkan, kendati keduanya berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan yang solid, pergerakan laba bersih mereka bergerak ke arah yang kontras.

Advertisements

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) sukses membukukan penjualan neto konsolidasi sebesar Rp 33,89 triliun, melonjak 7,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 31,55 triliun. Peningkatan ini juga tercermin pada bottom line perusahaan, di mana laba bersih INDF tumbuh impresif sebesar 8,59% menjadi Rp 2,95 triliun, dari sebelumnya Rp 2,72 triliun.

Di sisi lain, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) juga menunjukkan peningkatan penjualan neto konsolidasi yang patut diapresiasi, naik sekitar 7,57% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 21,72 triliun dari Rp 20,19 triliun. Namun, sayangnya, laba bersih ICBP justru mengalami koreksi sebesar 3,11% secara tahunan menjadi Rp 2,57 triliun pada kuartal I-2026, menurun dari Rp 2,66 triliun pada periode sebelumnya.

Kinerja Emiten BUMN Karya Beda Arah Kuartal I 2026, Simak Prospeknya Tahun Ini

Advertisements

Direktur Utama dan CEO INDF, Anthoni Salim, dalam keterbukaan informasi Kamis (30/4) menegaskan komitmen perusahaan untuk menjaga kinerja tetap optimal di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Beliau menekankan bahwa Indofood akan terus memprioritaskan “pertumbuhan berkelanjutan dengan menjaga keseimbangan pangsa pasar dan profitabilitas.”

Lebih lanjut, Indofood menyatakan komitmen kuat untuk mempertahankan fundamental bisnis yang solid. Ini termasuk upaya menjaga posisi neraca keuangan agar tetap sehat, sebuah langkah krusial dalam menghadapi dinamika pasar global yang terus berubah.

Menanggapi perbedaan arah laba ini, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa hal tersebut terutama berasal dari perbedaan struktur bisnis kedua emiten. Dalam analisisnya kepada Kontan pada Senin (4/5/2026), Liza menyebutkan bahwa INDF sebagai perusahaan induk (holding) mendapatkan keuntungan dari kontribusi segmen bisnis yang lebih beragam.

Secara spesifik, kinerja INDF ditopang oleh segmen agribisnis dan komoditas yang saat ini berada dalam fase harga yang relatif baik, sehingga mampu mengangkat kinerja konsolidasi secara keseluruhan. Ini terjadi meskipun tekanan pada sektor konsumer mulai terasa. Sementara itu, ICBP yang lebih fokus pada produk konsumer justru menghadapi tekanan margin signifikan. Tekanan ini muncul akibat kenaikan biaya bahan baku utama seperti gandum dan berbagai input impor lainnya, ditambah lagi dengan kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

“Jadi, meskipun penjualan ICBP masih tumbuh, profitabilitasnya tertekan. Ini yang membuat laba turun,” jelas Liza, memberikan gambaran penyebab penurunan laba bersih ICBP.

Melihat prospek hingga akhir 2026, Liza menilai kedua emiten masih memiliki fondasi bisnis yang kuat, namun dengan dinamika dan tantangan yang berbeda. INDF diperkirakan akan lebih tangguh dan defensif karena diversifikasi bisnisnya dapat menjadi penyangga (buffer) saat salah satu segmen melemah, dengan potensi dukungan dari harga komoditas dan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Intip Prospek Mitratel (MTEL) di Tengah Transformasi Jadi Next-Gen TowerCo

Sebaliknya, kinerja ICBP akan sangat bergantung pada perbaikan margin. Kunci utama terletak pada normalisasi biaya bahan baku serta kemampuan perusahaan untuk menjaga kekuatan harga (pricing power) di tengah kondisi daya beli konsumen. Liza menambahkan, sentimen positif untuk kedua emiten dapat datang dari potensi stabilisasi nilai tukar rupiah dan penurunan tekanan biaya. Namun, risiko tetap membayangi dari volatilitas harga komoditas global dan potensi pelemahan konsumsi domestik.

“Secara keseluruhan, INDF masih terlihat lebih defensif, sementara ICBP menawarkan potensi recovery jika tekanan margin mulai mereda di paruh kedua tahun ini,” simpul Liza, memberikan gambaran strategi investasi yang berbeda untuk keduanya.

Berdasarkan analisis teknikal, untuk saham INDF, strategi yang disarankan adalah sell on strength atau hold. Aksi beli baru direkomendasikan apabila harga saham INDF berhasil menembus garis resistance tren menengah, yakni ditutup di atas level Rp 7.050. Jika skenario ini terwujud, INDF berpotensi membentuk pola bullish reversal inverted head and shoulders dengan target kenaikan di kisaran Rp 7.700, Rp 8.200, hingga Rp 8.800. Adapun level support penting bagi INDF berada di area Rp 6.750 dan Rp 6.550.

Sementara itu, untuk saham ICBP, pada perdagangan hari ini membentuk pola candlestick doji di area support tren menengah, disertai sinyal RSI positive divergence. Kondisi ini membuka peluang untuk speculative buy di level Rp 6.800. Investor disarankan melakukan average up jika harga bergerak di atas Rp 6.925 dan Rp 7.125, dengan target kenaikan menuju Rp 7.400, Rp 7.700, hingga kisaran Rp 7.900–Rp 8.000. Level support krusial bagi ICBP berada di Rp 6.650.

Wijaya Karya (WIKA) Catat Kontrak Baru Rp 2,53 Triliun di Kuartal I-2026

Advertisements

Also Read

Tags