
BANYU POS Jakarta. Saham-saham perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari yang berkategori blue chip hingga saham bank daerah ramai-ramai membagikan dividen dari laba tahun buku 2025. Lalu, saham bank apa yang paling cuan untuk investor?
Menariknya, pembagian dividen berlangsung di tengah tren koreksi harga saham bank sejak awal tahun. Kondisi tersebut membuat dividend yield sejumlah saham bank menjadi semakin atraktif bagi investor pemburu dividen.
Beberapa emiten bank bahkan telah melewati masa cum date, yakni batas akhir investor membeli saham agar berhak memperoleh dividen.
Perusahaan Singapura Caplok 51% Saham MAPI Rp 11,8 T, Berikut Harga Tender Offernya
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) misalnya, akan membagikan dividen sebesar 20% dari laba bersih tahun buku 2025 atau senilai Rp 1,51 triliun. Nilai tersebut setara Rp 32,81 per saham.
Jumlah dividen BRIS meningkat dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 1,05 triliun atau Rp 22,78 per saham.
Mengacu harga penutupan saham BRIS pada Jumat (8/5/2026) di level Rp 1.910 per saham, dividend yield BRIS diperkirakan sekitar 1,2%.
Sementara itu, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) membagikan dividen sebesar Rp 850,18 miliar atau setara Rp 56,62 per saham.
Nilai tersebut naik dibanding dividen tahun sebelumnya sebesar Rp 54,71 per saham. Secara total, dividen yang dibagikan mencapai 55% dari laba bersih tahun buku 2025.
Pada perdagangan Jumat (8/5), harga saham BJTM berada di level Rp 605 per saham atau naik 1,68% dibanding hari sebelumnya. Dengan harga tersebut, dividend yield BJTM mencapai sekitar 9,4%.
Tonton: Usung Target PLTS 100 GW, Prabowo Dorong Kolaborasi Energi Terbarukan di ASEAN
Di sisi lain, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) resmi membagikan total dividen sebesar Rp 52,1 triliun atau Rp 346 per saham.
Jumlah tersebut termasuk dividen interim Rp 137 per saham senilai Rp 20,6 triliun yang telah dibayarkan pada 15 Januari 2026.
Dengan demikian, sisa dividen tunai yang dibayarkan mencapai Rp 209 per saham atau setara Rp 31,47 triliun.
Jika mengacu harga saham BBRI di level Rp 3.260 per saham, dividend yield BBRI menjadi salah satu yang tertinggi di sektor perbankan, yakni sekitar 10,6%.
Koreksi harga saham BBRI yang mencapai 10,93% sejak awal tahun turut membuat yield dividen semakin menarik.
Adapun PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) akan membagikan dividen tunai sebesar Rp 35,15 triliun atau setara Rp 376,96 per saham pada 25 Mei 2026.
Dengan demikian, investor akan menerima sekitar Rp 37.696 per lot saham BMRI.
Pada perdagangan Jumat (8/5), saham BMRI ditutup di level Rp 4.630 per saham atau turun 0,22% secara harian. Dividend yield BMRI tercatat sekitar 8,14%.
Tonton: AS dan Iran Kembali Baku Tembak di Selat Hormuz! Trump: “Cuma Love Tap”
Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) telah membagikan dividen sebesar Rp 13,03 triliun atau setara 65% dari laba bersih konsolidasian tahun buku 2025 sebesar Rp 20,04 triliun.
Setiap pemegang saham BBNI menerima dividen tunai sebesar Rp 349,41 per saham dengan estimasi dividend yield sekitar 9,05%.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga menetapkan dividen tunai sebesar Rp 336 per saham dari laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp 57,5 triliun.
Total dividen final BBCA mencapai Rp 41,3 triliun dengan dividend payout ratio (DPR) sebesar 72%, meningkat dibandingkan tahun buku sebelumnya sekitar 67,4%.
Tonton: Program Makan Bergizi Gratis Disorot! Dugaan Mark-Up Sertifikasi Halal Rp 49,5 Miliar Masuk KPK
Rekomendasi Saham
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai BJTM menjadi salah satu saham bank paling menarik dari sisi dividend yield saat ini.
“BJTM menjadi salah satu saham bank yang menarik dari sisi dividend yield karena dividen Rp 56,62 per saham memberikan estimasi yield sekitar 9,5%-9,6% berdasarkan harga saham di kisaran Rp 590-Rp 595,” ujar Ekky kepada Kontan.co.id, Jumat (8/5).
Selain BJTM, saham bank berkapitalisasi besar seperti BMRI dan BBRI juga masih menarik bagi investor pemburu dividen.
BMRI membagikan dividen sekitar Rp 376,96 per saham, sedangkan BBRI membagikan dividen Rp 346 per saham untuk tahun buku 2025.
Menurut Ekky, pembagian dividen umumnya memberikan sentimen positif terhadap harga saham dalam jangka pendek karena minat investor meningkat menjelang cum date.
Namun setelah memasuki ex-date, harga saham biasanya berpotensi terkoreksi menyesuaikan nilai dividen yang dibagikan.
“Dampak pembagian dividen biasanya positif dalam jangka pendek karena minat investor meningkat menjelang cum date. Namun setelah ex-date, harga saham umumnya berpotensi terkoreksi menyesuaikan nilai dividen,” jelasnya.
Tonton: Ramai Isu Hiperinflasi, Menkeu Purbaya Buka-Bukaan Kondisi Ekonomi RI
Untuk prospek saham perbankan sepanjang 2026, Ekky memperkirakan pergerakannya masih cenderung stagnan hingga selektif.
Meski kredit perbankan masih tumbuh positif, investor tetap mencermati tekanan margin bunga, biaya dana (cost of fund), kualitas kredit, hingga arah suku bunga acuan.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit perbankan per Maret 2026 masih tumbuh 9,49% secara tahunan (year on year).
Meski demikian, tekanan di sejumlah segmen seperti UMKM dinilai masih perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi kualitas aset bank.
Ekky merekomendasikan investor mencermati saham BJTM, terutama di level harga di bawah Rp 600 per saham.
“Area tersebut masih memberikan yield yang atraktif dan margin of safety lebih baik,” katanya.
Ia memperkirakan target harga saham BJTM dalam jangka pendek berada di kisaran Rp 650-Rp 670 per saham. Namun investor tetap perlu mengantisipasi potensi koreksi setelah periode ex-dividend.
Senada, Senior Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai dividen sektor perbankan masih menarik meski tidak lagi berada dalam fase agresif.
Menurutnya, tekanan dari penyempitan margin bunga, perlambatan kredit, serta potensi kenaikan cost of credit membatasi ruang kenaikan dividend payout ratio (DPR).
Meski begitu, permodalan bank yang kuat diyakini tetap menjaga keberlanjutan dividen ke depan. Bank diperkirakan akan lebih fokus menjaga stabilitas dan kesinambungan dividen dibanding mengejar imbal hasil tinggi semata.




