Kinerja emiten teknologi beragam, GOTO tampil paling solid

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Kinerja sejumlah emiten teknologi menunjukkan tren yang beragam pada kuartal I-2026

Advertisements

Sektor teknologi di Indonesia menampilkan dinamika yang menarik pada kuartal I-2026, dengan beberapa emiten menunjukkan sinyal pemulihan fundamental di tengah sengitnya persaingan industri digital. Namun, sebagian lainnya masih bergulat dengan tantangan profitabilitas dan efisiensi bisnis yang ketat.

Di antara sorotan tersebut, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berhasil menorehkan pencapaian signifikan. Perusahaan teknologi raksasa ini membukukan laba bersih perdana sebesar Rp 170,7 miliar pada periode Januari-Maret 2026. Angka ini menandai pembalikan impresif dari rugi bersih Rp 366,5 miliar pada kuartal yang sama tahun sebelumnya, mengindikasikan keberhasilan strategi efisiensi yang diterapkan.

Kendati demikian, tren berbeda terlihat pada PT Bukalapak.com Tbk (BUKA). Emiten e-commerce ini melaporkan rugi bersih Rp 423,5 miliar pada kuartal I-2026, kontras dengan laba bersih Rp 111,7 miliar yang dicatat pada kuartal I-2025. Pergeseran ini menunjukkan adanya tekanan yang kembali membayangi kinerja keuangan perusahaan.

Advertisements

Sementara itu, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), induk usaha Blibli, masih membukukan rugi bersih sebesar Rp 303,0 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Meskipun demikian, angka ini merupakan perbaikan signifikan dibandingkan rugi bersih yang lebih besar, yaitu Rp 638,1 miliar, pada periode yang sama tahun lalu. Hal ini mengindikasikan upaya perusahaan dalam mengurangi beban kerugian telah membuahkan hasil, meski belum mencapai profitabilitas penuh.

Ace Oldfields (KUAS) Bagi Dividen Rp 1,93 Miliar, Investor Dapat Rp 1,5 per Saham

Menanggapi kinerja yang beragam ini, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyampaikan bahwa prospek emiten teknologi sepanjang tahun 2026 masih akan bergerak mixed dan memerlukan pendekatan selektif dari investor.

Menurut Wafi, GOTO kini berada pada “titik balik” (turning point) pasca keberhasilan membukukan laba bersih. Hal ini diyakini sebagai buah dari strategi efisiensi dan monetisasi ekosistem perusahaan yang mulai menunjukkan hasil positif. “GOTO mulai menunjukkan turning point setelah berhasil mencetak laba, artinya strategi efisiensi dan monetisasi ekosistem mulai terlihat hasilnya,” jelas Wafi kepada Kontan pada Jumat (8/5/2026).

Berbeda dengan GOTO, Wafi menilai BUKA dan BELI masih menghadapi jalan terjal dalam mencapai profitabilitas. Ia menyoroti persaingan bisnis e-commerce yang sangat agresif serta margin usaha yang tipis sebagai faktor utama yang terus membebani kinerja kedua emiten tersebut. “BUKA dan BELI masih menghadapi tantangan profitabilitas, terutama karena kompetisi e-commerce masih agresif dan margin tipis,” tambahnya.

Untuk sisa tahun ini, Wafi melihat sejumlah katalis positif berpotensi menopang pergerakan saham sektor teknologi. Salah satu faktor penting adalah potensi penurunan suku bunga, baik di tingkat global maupun domestik, yang dapat memberikan dukungan terhadap valuasi saham berorientasi pertumbuhan (growth stock) seperti di sektor teknologi.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi digital dan transaksi daring yang terus melonjak, seiring dengan adopsi layanan fintech dan logistik yang kian meluas, juga dinilai menjadi sentimen positif dan pendorong pertumbuhan bisnis bagi perusahaan-perusahaan digital di masa depan.

Bukukan Kinerja Beragam, Cek Rekomendasi Saham: GOTO, BUKA, BELI, Senin (11/5)

Senada dengan pandangan tersebut, Analis Indo Premier Sekuritas, Ryan Winipta, berpendapat bahwa segmen fintech telah menjadi motor utama yang mendorong pertumbuhan GOTO melampaui ekspektasi pada periode ini.

Ryan mencatat, nilai transaksi bruto atau Gross Transaction Value (GTV) segmen fintech GOTO melesat 12% secara kuartalan (QoQ) dan melonjak drastis 72% secara tahunan (YoY), mencapai Rp 230 triliun. Lebih lanjut, adjusted EBITDA segmen fintech juga menunjukkan peningkatan luar biasa, mencapai Rp 364 miliar, tumbuh 61% QoQ dan meroket 674% YoY. Data ini menegaskan peran krusial fintech dalam mendongkrak profitabilitas GOTO.

Meskipun demikian, Wafi tetap mewanti-wanti investor untuk mewaspadai sejumlah risiko yang masih membayangi saham sektor teknologi. Ini meliputi kompetisi yang semakin ketat, potensi perang harga antar pelaku industri, hingga kemungkinan tekanan regulasi seperti pembatasan take rate layanan ojek online, dan tekanan margin secara keseluruhan.

Mengenai kabar masuknya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebagai investor di GOTO, Wafi menilai dampaknya saat ini lebih besar dari sisi sentimen pasar dan persepsi investor. Keterlibatan Danantara dianggap memberikan keyakinan bahwa GOTO memiliki dukungan strategis dan akses pendanaan yang lebih kuat.

Namun, untuk jangka panjang, pasar akan tetap mengevaluasi apakah dukungan tersebut benar-benar mampu memperbaiki fundamental dan profitabilitas perusahaan secara berkelanjutan.

GOT Chart by TradingView

Berdasarkan analisisnya, Wafi merekomendasikan buy untuk saham GOTO dengan target harga Rp 75 per saham dan saham BELI juga direkomendasikan buy dengan target harga Rp 520 per saham. Sementara itu, untuk saham BUKA, Wafi masih merekomendasikan wait and see sambil terus mencermati perkembangan kinerja perusahaan ke depan.

Senada dengan optimisme terhadap GOTO, Ryan juga menjagokan saham GOTO dengan rekomendasi buy dan target harga yang lebih tinggi, yakni Rp 110 per saham.

Advertisements

Also Read

Tags