Tekanan global masih kuat, rupiah masih berpeluang melemah

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terus bergerak dalam tren pelemahan, tertekan oleh sentimen global dan domestik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Situasi ini menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan, mendorong para pelaku pasar untuk semakin berhati-hati.

Advertisements

Menurut analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, depresiasi rupiah saat ini merupakan hasil dari kombinasi kompleks antara faktor eksternal dan internal. Ia menegaskan bahwa sentimen global menjadi pendorong dominan dalam gejolak ini.

Faktor utama yang menekan rupiah adalah penguatan dolar AS. Ini didorong oleh ekspektasi bahwa suku bunga tinggi The Fed akan bertahan lebih lama dari perkiraan semula. Latar belakang ekspektasi ini adalah data inflasi AS yang masih relatif kuat, yang mengindikasikan bahwa Federal Reserve belum akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.

Selain itu, dinamika pasar komoditas juga turut berperan. Kenaikan harga minyak dunia, ditambah dengan memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah, secara signifikan meningkatkan permintaan terhadap aset-aset safe haven seperti dolar AS. Kondisi ini secara otomatis menempatkan mata uang negara berkembang seperti rupiah di bawah tekanan.

Advertisements

Lukman juga menambahkan bahwa arus modal asing cenderung lebih selektif dan berhati-hati terhadap emerging markets, termasuk Indonesia. Para investor global kini lebih cermat dalam menilai risiko investasi di negara-negara berkembang di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Lebih lanjut, dampak kenaikan harga minyak tidak hanya terasa di pasar global, tetapi juga berpengaruh signifikan terhadap kondisi fiskal domestik. Lukman menjelaskan bahwa harga minyak mentah dunia yang tinggi akan menjadi beban tambahan bagi pemerintah. Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit anggaran pemerintah, mengingat Indonesia masih merupakan net importir minyak.

Memandang ke depan, rupiah diproyeksikan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Pergerakannya akan sangat bergantung pada perkembangan harga minyak global dan evolusi situasi geopolitik internasional. Lukman memaparkan dua skenario yang mungkin terjadi.

“Level Rp18.000 bisa tercapai apabila harga minyak mentah masih tinggi. Sebaliknya, apabila perang berakhir dan harga minyak kembali ke kisaran US$70 per barel, rupiah berpotensi menguat ke sekitar Rp16.500,” jelasnya kepada Kontan, Senin (11/5/2026). Ini menunjukkan sensitivitas rupiah terhadap pergeseran kondisi eksternal.

Meskipun demikian, ia optimistis bahwa pergerakan rupiah berpotensi tetap terjaga agar tidak melemah terlalu dalam. “Pergerakan rupiah kemungkinan tetap dijaga melalui intervensi Bank Indonesia agar tidak melemah terlalu tajam,” imbuh Lukman, menyoroti peran sentral bank dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Dalam menghadapi kondisi pasar yang penuh tantangan ini, investor disarankan untuk menerapkan strategi yang lebih hati-hati dalam mengelola portofolio mereka. “Investor sebaiknya fokus pada diversifikasi dan pengelolaan risiko,” ujar Lukman. Ia juga menyarankan bahwa instrumen yang diuntungkan dari penguatan dolar AS atau kenaikan harga komoditas dapat menjadi pilihan menarik.

Selain itu, investor juga perlu mencermati risiko spesifik pada emiten-emiten tertentu. Lukman menekankan pentingnya untuk lebih selektif. “Perlu lebih selektif terhadap emiten yang memiliki utang dolar besar namun pendapatan berbasis rupiah karena berpotensi terkena tekanan kurs,” tutup Lukman, memberikan panduan praktis untuk mitigasi risiko investasi.

Advertisements

Also Read

Tags