IHSG ditutup melemah ke 6.370, menanti putusan BI rate

Hikma Lia

BANYU POS – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Selasa (19/5/2026) dengan terparkir di zona merah. Pelemahan signifikan ini terjadi di tengah penantian krusial pasar terhadap hasil rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) mengenai kebijakan suku bunga acuan atau BI Rate yang sangat dinantikan.

Advertisements

Berdasarkan data dari IDX Mobile, IHSG ditutup anjlok 228,56 poin atau setara 3,46%, bertengger di level 6.370,68. Sepanjang hari, pergerakan indeks mencatatkan rentang yang cukup lebar, dari level terendah 6.323,26 hingga mencapai puncaknya di 6.635,18. Ini menunjukkan volatilitas yang tinggi sepanjang sesi perdagangan.

Aktivitas perdagangan hari ini menunjukkan geliat yang signifikan dari sisi likuiditas, dengan total nilai transaksi mencapai Rp25,33 triliun. Volume perdagangan tercatat sebanyak 43,06 miliar saham, tersebar dalam 2,771 juta kali frekuensi transaksi. Kondisi pasar mencerminkan dominasi tekanan jual, di mana sebanyak 647 saham bergerak memerah. Hanya 117 saham yang mampu bertahan menghijau, sementara 195 saham lainnya cenderung stagnan.

: Spekulasi Badan Ekspor Bayangi IHSG, Pejabat ESDM Sebut Begini

Advertisements

Pelemahan indeks secara substansial didorong oleh kinerja sejumlah saham dari indeks LQ-45. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) menjadi salah satu penekan utama dengan anjlok 13,33% ke level Rp650. Disusul oleh PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) yang melorot 11,85% ke level Rp476.

Tren negatif juga dialami oleh PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) yang terkoreksi 11,82% ke level Rp388, serta PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang turun 9,71% menjadi Rp186. Tidak ketinggalan, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) ikut melemah 8,70% ke level Rp1.470, menandai hari yang berat bagi saham-saham energi dan pertambangan.

: : OJK Sebut Pelemahan IHSG ke Level 6.396,26 Masih dalam Tahap Wajar

Namun, di tengah gelombang pelemahan, beberapa saham berhasil menunjukkan ketahanan dan menopang indeks agar tidak terperosok lebih dalam. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) naik 2,12% ke level Rp1.445, diikuti oleh PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BBTN) yang menguat 1,18% ke level Rp1.285.

Selain itu, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) juga berhasil membukukan kenaikan 0,71% ke level Rp705, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) yang menguat tipis 0,26% ke level Rp3.810. Kenaikan saham-saham ini memberikan sedikit bantalan di tengah tekanan jual yang masif.

: : IHSG Sempat Sentuh 6.323, Dasco Dorong BEI Perkuat Kepercayaan Investor

Menurut tim riset Phintraco Sekuritas, sentimen yang mempengaruhi pasar tidak hanya datang dari domestik. Di kancah global, kabar penundaan rencana serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran oleh Presiden AS Donald Trump sedikit meredakan kekhawatiran investor akan potensi konflik yang lebih luas di Timur Tengah, sebuah faktor yang bisa memicu ketidakpastian pasar.

Meskipun demikian, kekhawatiran lain muncul dari potensi gejolak harga energi global yang dapat memicu inflasi lebih tinggi. Kondisi ini berisiko memaksa bank sentral di berbagai negara untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama, bahkan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan demi menekan inflasi yang bergejolak.

Di sisi domestik, pelemahan mata uang Garuda menjadi perhatian serius. Hal ini memicu spekulasi bahwa Bank Indonesia berpeluang menaikkan BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur pekan ini sebagai upaya menahan depresiasi rupiah lebih lanjut dan menjaga stabilitas ekonomi nasional. Kebijakan suku bunga BI menjadi kunci untuk mengelola tekanan eksternal terhadap rupiah.

Kenaikan suku bunga acuan memang dinilai dapat meningkatkan daya tarik aset domestik bagi investor asing melalui kenaikan yield instrumen investasi, sehingga dapat menarik aliran modal masuk. Namun, di sisi lain, suku bunga tinggi juga berpotensi meningkatkan beban bunga korporasi dan menekan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya bisa berimbas pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Kendati demikian, Gubernur Bank Indonesia memperkirakan rupiah akan mulai menguat pada Juli 2026. Proyeksi optimis ini didasarkan pada meredanya permintaan dolar AS yang secara historis memang meningkat pada periode antara April hingga Juni setiap tahunnya, memberikan harapan bagi penguatan nilai tukar rupiah di pertengahan tahun.

Advertisements

Also Read