
BANYU POS, NEW YORK – Pasar minyak dunia mengalami kejatuhan drastis hampir 7% pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026. Anjloknya harga komoditas energi ini dipicu oleh optimisme pasar yang meningkat seiring potensi tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Investor menilai bahwa kesepakatan damai tersebut berpeluang membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak global yang krusial. Selama tiga bulan terakhir, jalur ini terganggu akibat meningkatnya ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah, yang berdampak pada pasokan energi dunia.
Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak jenis Brent tercatat turun sebesar US$7,24 atau hampir 7%, mencapai level US$96,30 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari AS juga mengalami penurunan signifikan sebesar US$6,30 atau 6,5%, ditutup pada harga US$90,88 per barel.
Penurunan tajam harga minyak ini terjadi setelah negosiator utama Iran dan Menteri Luar Negeri Iran dilaporkan melakukan pembicaraan penting di Doha, Qatar. Fokus utama diskusi adalah kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan AS untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.
Minyak Dunia Anjlok Hampir 5%, Kesepakatan Damai AS-Iran Beri Kelegaan Pasar
Dalam pembicaraan tersebut, kedua belah pihak dikabarkan telah membuat kemajuan signifikan dalam penyusunan nota kesepahaman. Draf ini diharapkan dapat menghentikan konflik dan memberikan jeda waktu selama 60 hari bagi para negosiator untuk mencapai kesepakatan final.
Phil Flynn, seorang analis senior di Price Futures Group, menyatakan bahwa pasar mulai melihat harapan terkait kembalinya pasokan minyak dari kawasan Teluk. “Meskipun belum final, pasar mulai berekspektasi distribusi minyak melalui Selat Hormuz dapat kembali berjalan normal,” ujar Flynn.
Selat Hormuz memegang peranan strategis sebagai jalur yang dilalui sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia. Gangguan aktivitas di wilayah ini selama beberapa bulan terakhir telah memicu lonjakan harga energi global akibat kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan.
Namun, beberapa analis mengingatkan agar pasar tidak larut dalam euforia yang berlebihan. Rory Johnston, pendiri Commodity Context, menyoroti bahwa negosiasi antara AS dan Iran sebelumnya juga beberapa kali nyaris mencapai titik temu, namun akhirnya gagal di tahap akhir.
“Kita sudah beberapa kali menyaksikan negosiasi yang mendekati kesepakatan, namun kemudian runtuh pada detail-detail terakhir, sementara Selat Hormuz tetap tertutup,” jelas Johnston, menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menilai perkembangan terkini.
Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Memanasnya Kembali Konflik AS-Iran
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di platform Truth Social mengindikasikan bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan lancar. Meskipun demikian, ia juga menyampaikan peringatan mengenai kemungkinan serangan baru apabila negosiasi tidak kunjung mencapai kesepakatan.
Trump juga mendorong lebih banyak negara Arab dan mayoritas negara Muslim untuk bergabung dalam Abraham Accords, sebuah inisiatif yang ia fasilitasi selama masa jabatannya untuk normalisasi hubungan dengan Israel.
Menurut Flynn, apabila kesepakatan damai benar-benar terwujud dan ketegangan geopolitik mereda, premi risiko di pasar minyak Timur Tengah berpotensi mengalami penurunan yang signifikan.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa fokus pembahasan saat ini adalah pada penghentian konflik, dan isu nuklir belum menjadi agenda utama dalam negosiasi tersebut.
Meskipun prospek perdamaian mulai terlihat, para analis memperkirakan pemulihan pasokan minyak global tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah dinilai masih memerlukan waktu berbulan-bulan untuk kembali beroperasi secara normal.
June Goh, seorang analis di Sparta Commodities, memperkirakan defisit pasokan minyak global yang diperkirakan mencapai 10 hingga 11 juta barel per hari belum akan sepenuhnya teratasi meskipun kesepakatan damai tercapai.
Harga Minyak Dunia Anjlok 2% di Tengah Kabar Iran Tinjau Proposal Damai AS
“Pasar kemungkinan masih akan mengandalkan cadangan minyak yang ada hingga produksi dari Timur Tengah benar-benar pulih sepenuhnya, dan proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan,” papar Goh.
Senada dengan itu, Giovanni Staunovo, analis dari UBS, menekankan bahwa pasar perlu tetap fokus pada kondisi arus fisik minyak di lapangan. Distribusi minyak melalui Selat Hormuz hingga saat ini dilaporkan masih terbatas.
Data pelacakan kapal menunjukkan adanya pergerakan sejumlah kapal tanker gas alam cair yang mulai melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir, menuju destinasi seperti Pakistan, Tiongkok, dan India. Selain itu, sebuah supertanker yang membawa minyak mentah Irak menuju Tiongkok juga dilaporkan berhasil keluar dari selat tersebut setelah tertahan selama hampir tiga bulan.
Ringkasan
Harga minyak dunia anjlok hampir 7 persen pada perdagangan 25 Mei 2026 akibat meningkatnya optimisme pasar terkait potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak jenis Brent turun menjadi US$96,30 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah ke level US$90,88 per barel. Penurunan tajam ini dipicu oleh harapan dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur krusial yang menyalurkan seperlima pasokan minyak global.
Negosiasi di Doha dilaporkan telah mencapai kemajuan signifikan melalui penyusunan draf nota kesepahaman untuk menghentikan konflik selama 60 hari. Meski beberapa kapal tanker mulai melintasi Selat Hormuz, para analis memperingatkan bahwa pemulihan penuh pasokan minyak global akan memakan waktu berbulan-bulan. Investor kini tetap waspada sembari menantikan realisasi kesepakatan final untuk meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.




