
BANYU POS – JAKARTA. Pasar obligasi korporasi diperkirakan akan mulai merasakan dampak yang lebih signifikan dari kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) pada semester II-2026. Para analis menyoroti bahwa respons pasar obligasi korporasi terhadap dinamika suku bunga cenderung tertinggal jika dibandingkan dengan obligasi pemerintah.
Rupiah Dekati Rp 18.000 per Dolar AS, Ini Strategi Kelas Menengah Bertahan
Doni Kuswantoro, seorang Fixed Income Analyst dari PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, menjelaskan bahwa secara umum harga obligasi korporasi memiliki sifat yang lagging atau tertinggal dibanding pergerakan SBN. Menurutnya, fenomena ini dipengaruhi oleh beberapa faktor struktural. Di antaranya adalah frekuensi transaksi yang lebih rendah, proses penerbitan obligasi yang tidak sefleksibel perdagangan SBN di pasar sekunder, serta kecenderungan investor yang menerapkan strategi buy and hold. “Sehingga penyesuaian yield tidak langsung terefleksi,” ungkap Doni kepada Kontan pada Senin (25/5).
Ia melanjutkan, peningkatan yield SBN sepanjang tahun ini berpotensi membuat yield obligasi korporasi turut mengalami penyesuaian. Sebagai contoh, yield SBN tenor 10 tahun tercatat kembali melonjak ke kisaran 6,7% pada Selasa (26/5), dari posisi awal tahun yang masih bertengger di kisaran 6%. Dengan kondisi ini, Doni menilai bahwa adalah hal yang wajar jika yield obligasi korporasi turut mengikuti tren kenaikan yield SBN tersebut.
Hashim Sebut Internet Rakyat Berpotensi Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi RI
Besaran perubahan yield obligasi korporasi, menurut Doni, akan sangat bergantung pada kondisi spesifik masing-masing emiten serta kualitas kreditnya. Namun, secara umum, arah pergerakannya diperkirakan akan tetap sejalan dengan tren yield SBN. Kenaikan biaya pendanaan dari penerbitan obligasi ini juga diproyeksikan mulai memengaruhi keputusan emiten untuk menerbitkan surat utang baru.
Meskipun demikian, data dari Pefindo menunjukkan bahwa penerbitan obligasi korporasi hingga akhir April 2026 masih mencatat pertumbuhan sebesar 20,56% secara tahunan (year on year/YoY), mencapai angka Rp 67,05 triliun. Doni menafsirkan pertumbuhan ini sebagai cerminan minat penerbitan obligasi yang masih terbilang kuat, didukung oleh kondisi yield pada periode Januari–April 2026 yang relatif lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tercatat, yield obligasi korporasi tenor tiga tahun dengan kategori AAA berada di level sekitar 5,8% pada kuartal I-2026. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal IV-2025 yang berada di kisaran 5,7%–5,8%, namun masih lebih rendah dari kuartal I-2025 yang sempat mencapai kisaran 7%. Namun demikian, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) ke level 5,25% serta penguatan yield SBN belakangan ini dinilai berpotensi mendorong sebagian emiten untuk mengambil sikap wait and see, sambil menantikan kondisi pasar obligasi yang lebih kondusif.
Menang Tender Danantara, BIPI Gandeng Bakrie dan Tommy Soeharto Garap Energi Hijau
Kendati demikian, kebutuhan akan pendanaan ulang atau refinancing diperkirakan tetap menjadi salah satu penopang utama pasar obligasi korporasi. Data Pefindo menunjukkan bahwa obligasi korporasi yang akan jatuh tempo pada Mei hingga Desember 2026 mencapai nilai Rp 124 triliun. “Jadi minat penerbitan obligasi korporasi akan bergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing emiten serta kemampuan diversifikasi pendanaan,” papar Doni.
Secara terpisah, Chief Economist Pefindo, Suhindarto, menyatakan bahwa penerbitan obligasi korporasi pada semester II-2026 masih berpotensi tumbuh. Namun, ia memperkirakan volumenya tidak akan seramai tahun sebelumnya, mengingat emiten mulai memperhitungkan kenaikan biaya pendanaan. Menurut Suhindarto, dampak dari kenaikan BI Rate memang belum sepenuhnya terefleksi di pasar obligasi korporasi karena transmisi suku bunga biasanya terjadi dengan jeda waktu. “Jika kenaikan suku bunga tersebut mendorong yield dan pembentukan kupon meningkat signifikan, penerbitan surat utang korporasi bisa tidak seramai perkiraan,” ujar Suhindarto pada Kamis (21/5).
Ringkasan
Pasar obligasi korporasi diperkirakan akan mulai tertekan pada semester II-2026 menyusul kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai kisaran 6,7%. Penyesuaian yield pada obligasi korporasi cenderung tertinggal dibandingkan SBN karena dipengaruhi oleh frekuensi transaksi yang rendah serta strategi investor yang cenderung menahan aset. Kondisi ini diprediksi akan meningkatkan biaya pendanaan dan memengaruhi minat emiten dalam menerbitkan surat utang baru.
Meskipun demikian, tingginya kebutuhan pendanaan ulang (refinancing) sebesar Rp 124 triliun hingga akhir tahun 2026 tetap menjadi penopang utama pasar. Hingga April 2026, realisasi penerbitan obligasi korporasi masih tumbuh 20,56% secara tahunan di tengah sikap waspada para emiten terhadap kenaikan suku bunga acuan. Para analis memproyeksikan volume penerbitan mungkin tidak seaktif tahun sebelumnya karena transmisi suku bunga mulai terefleksi pada pasar obligasi.




