Bursa Asia bergerak mixed Rabu (27/5), cek proyeksi dan sentimen untuk Kamis (28/5)

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Bursa saham Asia menunjukkan pergerakan yang fluktuatif dan bervariasi pada penutupan perdagangan Rabu (27/5/2026), diwarnai oleh sentimen beragam yang memengaruhi pasar di seluruh regional.

Advertisements

Mayoritas indeks utama berhasil membukukan penguatan. Indeks Nikkei 225 Jepang menguat tipis 0,01%, sementara KOSPI Korea Selatan melesat signifikan 2,25%. Tak ketinggalan, ASX 200 Australia naik 0,69%, dan Taiex Taiwan menanjak impresif 1,68%, menandakan optimisme di beberapa sektor kunci.

Namun, tidak semua pasar menikmati kenaikan. Di sisi lain, indeks Hang Seng Hong Kong harus turun 1,06% dan indeks Shanghai Composite China melemah 1,25%, mencerminkan adanya tekanan jual dan kekhawatiran spesifik di kedua pasar tersebut.

Advertisements

Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, menjelaskan bahwa volatilitas di bursa Asia ini dipicu oleh harapan yang muncul terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Kendati demikian, pasar tetap diselimuti ketidakpastian lantaran kedua pihak belum mencapai titik terang dalam perundingan vital ini. “Ketidakpastian ini diperkirakan akan memicu harga minyak mentah bergerak melemah,” ujar Herditya kepada Kontan, Rabu (27/5/2026).

Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyoroti bahwa penguatan mayoritas bursa Asia tak lepas dari sentimen positif berupa peningkatan permintaan di sektor teknologi dan semikonduktor. Optimisme investor terhadap prospek industri teknologi, termasuk kemajuan pesat dalam bidang artificial intelligence (AI), menjadi pendorong utama. “Sedangkan sentimen positif lainnya adalah adanya perbincangan damai antara Amerika Serikat dengan Iran,” tambah Nafan, memperkuat pandangan tentang dampak negosiasi tersebut.

Adapun pelemahan yang melanda pasar China, khususnya Hang Seng dan Shanghai Composite, diakibatkan oleh aksi profit taking yang masif serta tekanan volatilitas nilai tukar Yuan. Selain itu, investor juga masih mencermati dengan seksama kekhawatiran terhadap kondisi struktural perekonomian domestik China yang terus membayangi.

Safe Haven Diburu Investor, Dolar AS hingga Yen Jepang Menguat

Proyeksi Bursa Asia

Menatap perdagangan Kamis (28/5/2026), pergerakan bursa Asia diperkirakan akan cenderung relatif terkonsolidasi. Para pelaku pasar akan mengalihkan fokus mereka untuk mencermati berbagai rilis data makroekonomi, baik dari skala global maupun regional, yang berpotensi memengaruhi arah pasar.

Salah satu data yang sangat dinanti adalah Indeks Harga Konsumen (CPI) Australia. Pasar menaruh kekhawatiran bahwa data tersebut dapat memberikan alasan bagi bank sentral Australia untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. Di saat bersamaan, investor juga menantikan data ekonomi penting dari Amerika Serikat, khususnya Personal Consumption Expenditures (PCE), sebagai indikator untuk membaca arah kebijakan suku bunga The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.

Rupiah Melemah Jadi Rp 17.801 per Dolar AS, Pasar Soroti Kebijakan Ekspor Lewat DSI

Selain data ekonomi, pelaku pasar juga akan terus memantau perkembangan pembukaan jalur logistik di Selat Hormuz, sebuah isu geopolitik yang dinilai memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan harga minyak global. Secara simultan, aksi korporasi dan rebalancing portofolio menjelang implementasi hasil review indeks MSCI pada akhir pekan ini juga diperkirakan akan turut memengaruhi dinamika pergerakan pasar saham Asia.

Ringkasan

Bursa saham Asia ditutup bervariasi pada Rabu (27/5/2026). Indeks Nikkei 225 Jepang menguat tipis, KOSPI Korea Selatan melonjak, sementara ASX 200 Australia dan Taiex Taiwan juga mencatatkan kenaikan. Namun, Hang Seng Hong Kong dan Shanghai Composite China melemah akibat tekanan jual.

Pergerakan ini dipicu oleh harapan negosiasi AS-Iran, peningkatan permintaan sektor teknologi, dan perbincangan damai. Pelemahan di China disebabkan oleh profit taking dan kekhawatiran struktural ekonomi. Untuk Kamis (28/5/2026), bursa Asia diproyeksikan terkonsolidasi sambil mencermati data makroekonomi seperti CPI Australia dan PCE AS, serta perkembangan geopolitik Selat Hormuz.

Advertisements

Also Read

Tags