Dampak Kurs Rupiah terhadap Kinerja INKP dan TKIM: Cek Rekomendasi Sahamnya

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membawa sentimen positif bagi emiten sektor pulp dan kertas, terutama PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM). Sebagai perusahaan di bawah naungan grup Sinarmas, keduanya memiliki porsi pendapatan ekspor yang didominasi oleh mata uang dolar AS, sehingga fluktuasi kurs ini berpotensi mendongkrak kinerja keuangan mereka.

Advertisements

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah menjadi katalis positif bagi pendapatan kotor atau topline kedua emiten tersebut. Pendapatan berbasis dolar akan memberikan nilai tambah saat dikonversi ke rupiah. Namun, ia juga mengingatkan bahwa dampaknya tidak sepenuhnya instan, mengingat sebagian besar biaya produksi seperti bahan kimia, energi, dan suku cadang juga dibayarkan dalam dolar AS.

Baca Juga: Tekanan Perak Berlanjut, Skenario Terburuk Jika Negosiasi AS-Iran Buntu

Advertisements

Menurut Wafi, perbaikan margin keuntungan sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam mengendalikan biaya operasional. Dalam hal ini, INKP dinilai memiliki posisi yang lebih unggul berkat struktur biaya yang lebih efisien, terutama setelah keberhasilan ekspansi pabrik di Karawang.

Pandangan senada disampaikan oleh Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas. Ia menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dapat menopang margin perusahaan jika peningkatan pendapatan lebih besar daripada beban biaya yang ditanggung. “INKP relatif lebih optimal dalam memanfaatkan momentum ini dibandingkan TKIM karena skala usaha yang lebih besar serta efisiensi yang lebih baik,” jelas Sukarno.

Perbedaan kinerja antara keduanya mulai terlihat dari hasil keuangan terbaru. INKP mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 4,29% menjadi US$816,29 juta dengan laba bersih yang melesat 11,43% menjadi US$156,12 juta. Sebaliknya, TKIM mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 2,47% menjadi US$261,54 juta, namun laba bersihnya justru terkoreksi 17,19% menjadi US$81,71 juta.

Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,31% ke Rp 17.857 per Dolar AS Kamis (28/5) Pagi

Wafi menjelaskan bahwa diskrepansi tersebut dipicu oleh perbedaan struktur biaya dan tingkat leverage perusahaan. INKP terbukti lebih tangkas dalam menjaga efisiensi di tengah peningkatan volume produksi. Sementara itu, TKIM masih dibayangi oleh kenaikan beban keuangan serta margin operasional yang lebih tipis. Selain itu, ketergantungan TKIM terhadap fluktuasi harga pulp global yang tidak stabil memberikan tantangan tersendiri, sementara INKP telah mulai mengalihkan fokus ke segmen kertas industri yang memiliki margin lebih stabil.

Memasuki kuartal II-2026, Wafi memproyeksikan performa INKP akan jauh lebih menarik dibandingkan TKIM. Utilisasi pabrik Karawang diprediksi akan meningkat hingga 30%. Secara keseluruhan, pendapatan INKP pada 2026 diperkirakan mendekati US$3,8 miliar dengan laba bersih mencapai hampir US$700 juta dan margin EBITDA sekitar 30%. Di sisi lain, kinerja TKIM diprediksi cenderung stagnan akibat ketiadaan penambahan kapasitas baru dan beban utang yang masih menekan profitabilitas.

Meskipun demikian, para analis sepakat bahwa sektor ini masih memiliki daya tarik investasi secara selektif. Wafi menilai saham INKP sangat menarik dengan valuasi Price to Earning Ratio (PER) di level 8,8 kali, yang jauh di bawah rata-rata global sebesar 13,4 kali. Hal ini mengindikasikan bahwa harga pasar saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kontribusi maksimal dari pabrik Karawang.

Wafi merekomendasikan target harga INKP di level Rp 9.800, sementara untuk TKIM lebih disarankan untuk strategi trading jangka pendek. Sukarno Alatas memberikan rekomendasi beli untuk INKP dengan target harga Rp 10.000, serta akumulasi beli untuk TKIM di target harga Rp 6.400. Secara keseluruhan, investor disarankan untuk terus mencermati dinamika nilai tukar, pergerakan harga pulp global, serta perkembangan permintaan ekspor sebagai acuan dalam mengambil keputusan investasi.

Ringkasan

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi katalis positif bagi emiten sektor kertas, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), karena porsi pendapatan ekspor mereka didominasi mata uang dolar. Namun, manfaat ini bergantung pada efisiensi biaya operasional, mengingat beban produksi seperti bahan kimia dan energi juga dibayarkan dalam mata uang yang sama. Saat ini, INKP dinilai lebih unggul dibandingkan TKIM berkat struktur biaya yang lebih efisien dan fokus pada segmen kertas industri yang stabil.

Kinerja keuangan terbaru menunjukkan INKP mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan, sementara laba bersih TKIM justru terkoreksi akibat beban keuangan dan margin operasional yang lebih tipis. Analis memproyeksikan prospek INKP akan lebih menarik pada 2026 seiring peningkatan utilisasi pabrik, sedangkan kinerja TKIM diprediksi cenderung stagnan. Para analis memberikan rekomendasi beli untuk INKP dengan target harga di kisaran Rp9.800–Rp10.000, sementara saham TKIM lebih disarankan untuk strategi perdagangan jangka pendek.

Advertisements

Also Read

Tags