IPO Chip AI Incar Rp89,39 Triliun, Pasar Saham China Justru Cemas

Hikma Lia

Rencana melantainya ChangXin Memory Technologies Ltd. (CXMT) di bursa saham China kini menjadi sorotan utama sekaligus memicu kecemasan di kalangan investor. Keputusan perusahaan chip asal China ini untuk melakukan initial public offering (IPO) di bursa Shanghai telah mendapatkan persetujuan resmi. Langkah strategis ini diperkirakan mampu menghimpun dana segar lebih dari USD 5 miliar atau setara dengan Rp 89,39 triliun, termasuk opsi penjatahan berlebih.

Advertisements

Aksi korporasi ini berlangsung di tengah tren positif harga chip memori yang melonjak drastis akibat ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Momentum ini sebelumnya telah mendorong valuasi raksasa industri seperti Samsung Electronics Co., SK Hynix Inc., dan Micron Technology Inc. hingga mencapai nilai pasar triliunan dolar AS bulan ini.

Namun, di balik antusiasme pasar terhadap sektor AI, sebagian investor justru merasa waswas. Pencatatan saham CXMT dinilai sebagai sinyal yang mengingatkan pada pola penurunan pasar besar yang kerap terjadi setelah debut perusahaan-perusahaan besar di China. Wu Xianfeng, Manajer Dana di Shenzhen Longteng Assets Management Co., menyebut fenomena ini membangkitkan memori kelam debut PetroChina pada tahun 2007.

Advertisements

“Keduanya merupakan penawaran saham berskala besar yang muncul saat pasar secara keseluruhan sudah mengalami pemulihan signifikan,” ujar Wu melalui keterangan yang dikutip dari Bloomberg. Kekhawatiran ini cukup beralasan mengingat Indeks Star 50 China, yang didominasi oleh perusahaan chip, telah mencatatkan kenaikan impresif sebesar 35 persen sepanjang tahun ini seiring dengan tingginya permintaan daya komputasi berbasis AI.

Berdasarkan studi dari analis China Merchants Securities, terdapat pola historis di mana saham-saham di China cenderung naik rata-rata 2,4 persen pada bulan sebelum IPO jumbo (di atas 20 miliar yuan). Ironisnya, pasar sering kali terkoreksi dengan penurunan rata-rata 0,8 persen pada minggu setelah debut saham tersebut. Hal ini sejalan dengan preseden historis, seperti IPO PetroChina pada 2007, debut Guotai Haitong Securities pada 2015, hingga pencatatan saham China Mobile Ltd. dan Cnooc yang kerap mendahului periode pelemahan pasar yang berkepanjangan.

Dari sisi fundamental, Bloomberg Intelligence mencatat bahwa CXMT seharusnya lebih tepat dinilai sebagai produsen DRAM komoditas siklikal. Komposisi penjualan perusahaan ini dinilai lebih menyerupai spesialis DRAM Nanya Technology dibandingkan dengan produsen memori bandwidth tinggi seperti SK Hynix atau Micron.

Lebih lanjut, Wu mengingatkan bahwa IPO dalam skala masif berpotensi menyedot likuiditas pasar yang lebih luas. Hal ini dikhawatirkan dapat memperketat kondisi keuangan dan memberikan tekanan pada performa pasar secara keseluruhan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan pasar telah mencapai titik puncak, karena pergerakan jangka panjang tetap akan sangat bergantung pada fundamental industri semikonduktor itu sendiri.

Ringkasan

ChangXin Memory Technologies (CXMT) berencana melakukan penawaran saham perdana (IPO) di bursa Shanghai dengan target perolehan dana mencapai Rp89,39 triliun. Langkah ini didorong oleh lonjakan permintaan chip memori akibat tren kecerdasan buatan global, yang telah meningkatkan valuasi berbagai raksasa teknologi semikonduktor dunia.

Di sisi lain, investor merasa cemas karena IPO berskala besar tersebut berpotensi menyedot likuiditas pasar dan memicu koreksi, sebagaimana pola historis yang terjadi pada debut perusahaan besar sebelumnya di China. Analis mencatat adanya kekhawatiran bahwa IPO jumbo ini dapat mengakhiri tren kenaikan pasar saham, meski performa jangka panjang tetap bergantung pada fundamental industri semikonduktor itu sendiri.

Advertisements

Also Read

Tags