
BANYU POS JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pekan ini di zona merah. Sepanjang pekan, IHSG tercatat terkoreksi 0,56% dan berakhir melemah tipis 0,05% ke level 6.127,38 pada Jumat (29/5/2026).
Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen global maupun domestik yang menekan laju pasar saham. Beberapa faktor utama yang menjadi sorotan investor antara lain proses rebalancing indeks MSCI, tekanan pada nilai tukar rupiah, serta perkembangan negosiasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa durasi perdagangan yang relatif singkat selama pekan ini turut memberikan pengaruh pada volatilitas indeks. “Sepanjang pekan ini IHSG terkoreksi 0,56%. Selain karena hari perdagangan yang pendek, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, rebalancing MSCI, serta sikap investor yang mencermati negosiasi AS-Iran menjadi katalis utama,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).
Rugi Bersih BUMA Internasional Grup (DOID) Susut 66% Kuartal I-2026
Menurut Herditya, ketidakpastian kondisi global masih menjadi tantangan utama. Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah membatasi ruang gerak IHSG untuk mencatatkan penguatan lebih lanjut.
Senada dengan hal tersebut, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai koreksi yang terjadi masih tergolong wajar. Meski pasar tengah menghadapi fase rebalancing indeks MSCI, dampak negatifnya masih terukur. “IHSG ditutup melemah tipis di tengah rebalancing MSCI. Tekanan jual pada beberapa saham memang terjadi, namun koreksi tidak sedalam yang dikhawatirkan karena telah diantisipasi sebelumnya oleh pelaku pasar,” jelas Alrich.
Lebih lanjut, Alrich menambahkan bahwa sentimen positif sempat muncul dari penguatan bursa saham Asia, yang terdorong oleh lonjakan saham sektor teknologi di Wall Street serta penurunan harga minyak mentah global. Namun, pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp17.881 per dolar AS di pasar spot akhir pekan ini tetap menjadi beban bagi sentimen pasar.
Dari sisi sektoral, sektor kesehatan menjadi penekan utama dengan pelemahan terdalam. Sebaliknya, sektor infrastruktur berhasil mencatatkan kinerja paling impresif dibandingkan sektor lainnya sepanjang pekan ini.
Tak Terdampak Rencana Ekspor SDA 1 Pintu, Vale (INCO) Pantau Terus Kebijakan Pemerintah
Prospek IHSG Pekan Depan
Memasuki perdagangan pekan depan, pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada terhadap sejumlah agenda ekonomi penting. Herditya memprediksi IHSG masih berisiko melanjutkan tren koreksi, dengan proyeksi level support di 6.071 dan resistance di 6.262.
“Untuk sepekan ke depan, IHSG masih rawan terkoreksi,” ungkap Herditya. Ia menambahkan bahwa investor akan memantau ketat data Purchasing Managers’ Index (PMI) China, data ketenagakerjaan Amerika Serikat, inflasi domestik, serta perkembangan gencatan senjata selama 60 hari yang kini menjadi perhatian dunia.
Di sisi lain, Alrich melihat pergerakan IHSG berpotensi cenderung mendatar atau sideways secara teknikal. “Stochastic RSI melanjutkan reversal ke arah pivot dan histogram negatif MACD menyempit. Dengan kondisi ini, IHSG berpotensi bergerak sideways di kisaran 6.000 hingga 6.300 pada pekan depan,” paparnya.
Laba Timah (TINS) Kuartal I-2026 Lewati Proyeksi, Target Saham Dikerek
Rekomendasi Saham Pekan Depan
Di tengah dinamika pasar yang ada, sejumlah saham dinilai menarik untuk dicermati oleh investor pada perdagangan pekan depan, yaitu:
- DEWA pada rentang harga Rp384–Rp412
- UNTR pada kisaran Rp24.225–Rp25.250
- UNVR pada level Rp1.805–Rp2.000
Pergerakan saham-saham tersebut diperkirakan akan sangat bergantung pada sentimen pasar secara luas serta perkembangan kondisi teknikal masing-masing emiten.
Ringkasan
IHSG menutup perdagangan pekan ini dengan koreksi sebesar 0,56% ke level 6.127,38. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif, mulai dari proses rebalancing indeks MSCI, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, hingga ketidakpastian geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Menjelang pekan depan, analis memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi atau bergerak mendatar di kisaran 6.000 hingga 6.300. Investor disarankan untuk tetap waspada dan mencermati data ekonomi global seperti PMI China dan data ketenagakerjaan Amerika Serikat, serta terus memantau pergerakan saham emiten pilihan seperti DEWA, UNTR, dan UNVR.




