BANYU POS Jakarta. Setelah libur panjang akhir pekan dan peringatan Hari Lahir Pancasila, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali bergairah pada Selasa, 2 Juni 2026. Salah satu agenda utama yang paling dinantikan investor hari ini adalah jadwal cum dividen dari sejumlah emiten dengan total nilai yang cukup menggiurkan, mencapai Rp 18.000 per lot untuk saham tertentu.
Sebagai pengingat, cum dividen adalah batas waktu terakhir bagi investor untuk membeli saham agar tercatat sebagai penerima hak dividen dari perusahaan terkait. Investor yang melakukan transaksi pembelian setelah tanggal ex dividen tidak lagi berhak menerima pembagian laba tersebut.
Tercatat sedikitnya 13 emiten dari berbagai sektor—mulai dari batu bara, infrastruktur, barang konsumsi, hingga konstruksi dan BUMN—menjadwalkan cum dividen pada 2 Juni 2026. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), yang menetapkan dividen tunai sebesar Rp 180 per lembar saham. Dengan skema ini, satu lot saham CPIN yang dibeli hari ini masih memiliki potensi nilai dividen sebesar Rp 18.000.
Sebelum memasuki masa libur pada perdagangan Jumat, 26 Mei 2026, saham CPIN ditutup di level Rp 4.270 setelah mengalami koreksi harian sebesar 4,69%. Kendati harganya menurun, angka yield dividen CPIN tetap menarik di kisaran 4,27%, yang berarti dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan bunga deposito bank umum saat ini.
Berikut adalah daftar emiten yang melakukan cum dividen pada 2 Juni 2026 beserta nilai pembagian dan tanggal pembayarannya:
- INDY: Rp10,25 per saham (Pembayaran: 19 Juni 2026)
- STAA: Rp75 per saham (Pembayaran: 11 Juni 2026)
- CPIN: Rp180 per saham (Pembayaran: 12 Juni 2026)
- JSMR: Rp156,23 per saham (Pembayaran: 19 Juni 2026)
- BFIN: Rp35 per saham (Pembayaran: 18 Juni 2026)
- TOWR: Rp6,89 per saham (Pembayaran: 19 Juni 2026)
- LFLO: Rp4,59 per saham (Pembayaran: 19 Juni 2026)
- GEMA: Rp2 per saham (Pembayaran: 19 Juni 2026)
Menanggapi momentum ini, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai bahwa sejumlah emiten memang menawarkan dividend yield di atas rata-rata pasar yang umumnya berada pada kisaran 3% hingga 5%. Namun, ia menekankan bahwa investor tidak boleh hanya terpaku pada besaran dividen semata.
Penting bagi investor untuk tetap mencermati fundamental perusahaan, likuiditas saham, serta prospek bisnis jangka panjang sebelum memutuskan untuk melakukan pembelian. Para analis juga memberikan peringatan mengenai risiko dividend trap, sebuah kondisi di mana yield terlihat tinggi namun prospek bisnis perusahaan sebenarnya tengah melemah, sehingga berpotensi menyebabkan harga saham terkoreksi tajam setelah tanggal ex dividen.
Ringkasan
Perdagangan di Bursa Efek Indonesia kembali dibuka pada 2 Juni 2026 dengan agenda utama jadwal cum dividen dari 13 emiten, termasuk PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) yang menawarkan dividen Rp180 per lembar saham. Cum dividen merupakan batas waktu terakhir bagi investor untuk membeli saham agar berhak menerima pembagian laba perusahaan sebelum tanggal ex dividen. Selain CPIN, emiten lain yang menjadwalkan cum dividen hari ini meliputi INDY, STAA, JSMR, BFIN, TOWR, LFLO, dan GEMA.
Para analis mengingatkan investor agar tidak hanya fokus pada besaran yield dividen, melainkan tetap mencermati fundamental dan prospek bisnis perusahaan dalam jangka panjang. Langkah ini penting dilakukan untuk menghindari risiko dividend trap, yaitu kondisi saat harga saham terkoreksi tajam pasca-pembagian dividen akibat melemahnya kinerja bisnis perusahaan. Investor disarankan melakukan analisis mendalam sebelum memutuskan untuk membeli saham-saham tersebut.




