Perusahaan Jepang investasi Rp539 miliar bangun bank plasma di Indonesia

Hikma Lia

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyambut komitmen investasi perusahaan biofarmasi asal Jepang, Takeda, dalam pengembangan ekosistem produk obat derivat plasma (PODP) di Indonesia. Pada tahap awal, Takeda akan menginvestasikan hingga USD30 juta atau sekitar Rp539 miliar selama dua tahun untuk membangun jaringan bank plasma sebagai fondasi pengembangan industri plasma nasional.

Advertisements

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani mengatakan investasi Takeda mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan investor global terhadap prospek investasi Indonesia, khususnya pada sektor industri kesehatan berteknologi tinggi.

“Investasi ini merupakan investasi strategis yang tidak hanya menghadirkan tambahan modal, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta penciptaan lapangan kerja berketerampilan tinggi. Pemerintah terus mendorong investasi yang memberikan nilai tambah dan memperkuat kapasitas industri nasional sehingga Indonesia dapat menjadi pusat manufaktur dan inovasi kesehatan di kawasan,” ujar Menteri Rosan dalam keterangan tertulis, Rabu (15/7).

Advertisements

Kemitraan ini juga sejalan dengan agenda transformasi ekonomi melalui hilirisasi di berbagai sektor strategis, termasuk kesehatan, guna meningkatkan daya saing industri nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Baca juga:

  • Prospek Investasi 3Q2026: Tiga Tren Penggerak Pasar
  • Pengusaha: Daya Beli dan Investasi Jadi Kunci Pemulihan Industri di Semester II
  • Lembaga Riset Soroti RUU Pusat Finansial Berisiko Gagal Tarik Investasi Hijau

Jepang merupakan salah satu mitra strategis Indonesia di bidang investasi. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, pada Triwulan I Tahun 2026, Jepang menempati peringkat kelima jajaran investor utama Indonesia, mencapai USD1 miliar.

Sedangkan total capaian realisasi Jepang pada periode 2021 – TW I 2026 mencapai USD18,1 miliar, dengan pertumbuhan rata-rata 13,2% dan penyerapan tenaga kerja mencapai 299.460 orang. Ini menjadi landasan kuat bagi pengembangan kerja sama investasi di berbagai sektor prioritas, termasuk kesehatan.

Melalui kolaborasi ini, Pemerintah berharap Indonesia tidak hanya mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap produk obat derivat plasma yang sangat dibutuhkan, tetapi juga membangun ekosistem industri biofarmasi yang berdaya saing, inovatif, dan berkelanjutan. Bank plasma pertama ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027 sebagai bagian dari pengembangan jaringan plasma nasional yang memenuhi standar internasional.

Advertisements

Also Read

Tags