IHSG Rawan Terkoreksi, Analis Rekomendasi Saham BUMI, TINS, MAPA, HMSP

Hikma Lia

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG masih rawan terkoreksi hingga perdagangan saham hari ini, Kamis (16/7).

Advertisements

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan indeks masih didominasi tekanan jual dengan mengecilnya volume kala IHSG naik tipis 0,04% ke 6.041 pada Rabu (15/7). 

Berdasarkan analisis teknikal, Herditya menilai IHSG masih berada dalam fase konsolidasi sehingga berpeluang naik menguji level 6.137–6.254. Namun, ia mengingatkan indeks masih berisiko terkoreksi ke kisaran 5.974–6.020.

Advertisements

“Cermati area koreksi terdekat yang diperkirakan berada di 5.974–6.020,” tulis Herditya dalam risetnya, Kamis (16/7). 

Baca juga:

  • IHSG Ditutup Naik Tipis, Saham BBCA, BMRI, TPIA, RANS Ramai Diburu Investor
  • IHSG Sesi I Naik ke 6.067, Catat Net Buy Rp 54,47 Miliar
  • IHSG Diprediksi Turun, Analis Rekomendasikan Saham CDIA, RAJA, MBMA, CTRA

MNC Sekuritas menargetkan area support IHSG berada di kisaran 5.839–5.607, sementara level resistance diperkirakan berada pada rentang 6.286–6.599.

Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.  

Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.

MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness sejumlah saham. Misalnya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akumulasi beli di rentang Rp 140–Rp 146 dengan target harga di Rp 162–Rp 180, sementara level stoploss di bawah Rp 136.

Kemudian PT Timah Tbk (TINS) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 3.390–Rp 3.470 dengan target harga di Rp 3.650–Rp 3.900, serta stoploss di bawah Rp 3.260.

Sentimen IHSG

Phintraco Sekuritas mencatat kenaikan IHSG seiring menguatnya nilai tukar rupiah 0,13% ke posisi Rp 18.091 per dolar AS, sekaligus menjadi mata uang dengan kenaikan terbesar di kawasan Asia pada hari itu.

Secara teknikal, Phintraco menilai IHSG masih mampu bertahan di atas level rata-rata pergerakan 20 hari (MA20). Namun, indikator Stochastic RSI telah memasuki area overbought.

“Sehingga diperkirakan IHSG masih akan berkonsolidasi di kisaran 6.000-6.125,” tulis Phintraco Sekuritas dalam analisisnya, Kamis (16/7). 

Phintraco Sekuritas menyoroti laporan Bank Indonesia yang menunjukkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$ 444,4 miliar pada Mei 2026 atau tumbuh 2,1% secara tahunan. Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan ULN sektor publik, yakni pemerintah dan bank sentral, di tengah perlambatan kontraksi utang luar negeri swasta.

ULN pemerintah tercatat sebesar US$ 217,3 miliar atau meningkat 3,7% secara tahunan. Sementara itu, ULN swasta mencapai US$ 195,9 miliar, meski masih mengalami kontraksi tipis sebesar 0,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi domestik, pemerintah memastikan tidak akan menaikkan tarif pajak sebagai upaya mendongkrak penerimaan negara pada 2026. Sebagai gantinya, pemerintah mulai meningkatkan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di sejumlah kementerian dan lembaga.

Kebijakan tersebut ditempuh di tengah proyeksi penerimaan pajak yang diperkirakan tidak mencapai target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Di sisi lain, pemerintah merevisi naik outlook PNBP menjadi Rp575,1 triliun atau setara 125,2% dari target APBN 2026 sebesar Rp459,2 triliun.

“Nilai tersebut juga diperkirakan tumbuh 6.2% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya,” tulis Phintraco. 

 Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), PT Central Omega Resources Tbk (DKFT), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), hingga PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).

Advertisements

Also Read

Tags