Dolar AS melemah sepekan meski ketegangan Timur Tengah dongkrak aset safe haven

Hikma Lia

BANYU POS  NEW YORK. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Jumat (17/7/2026), tetapi tetap mencatat pelemahan secara mingguan.

Advertisements

Pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga yang lebih terkendali.

Di sisi lain, meningkatnya konflik antara AS dan Iran menahan pelemahan dolar karena memicu permintaan terhadap aset safe haven.

Advertisements

Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan selama sepekan terakhir, mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz dan mendorong harga minyak mendekati level tertinggi dalam satu bulan.

Rupiah Ditutup Menguat 0,36% ke Rp 17.921 per Dolar AS pada Jumat (17/7/2026)

Kondisi ini membuat investor kembali mencari aset yang dinilai lebih aman, termasuk dolar AS.

“Koreksi pasar saham global dan gangguan di Selat Hormuz memicu aksi mencari aset aman sehingga dolar berhasil memangkas sebagian pelemahannya pekan ini,” ujar Kepala Strategi Pasar Global Brown Brothers Harriman, Elias Haddad.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama, berada di level 100,76 atau turun sekitar 0,2% sepanjang pekan. Euro ditutup stabil di US$ 1,1436 dan masih menguat 0,2% secara mingguan.

Sementara itu, poundsterling turun 0,2% menjadi US$ 1,3455 pada hari yang sama, tetapi membukukan kenaikan mingguan untuk pekan ketiga berturut-turut seiring membaiknya prospek ekonomi dan stabilitas politik Inggris.

Dolar Australia juga mencatat kenaikan mingguan ketiga, meski turun 0,23% ke US$ 0,6980 akibat meningkatnya sentimen penghindaran risiko.

Rupiah Melaju ke Rp 17.942 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini, Paling Perkasa di Asia

Di Asia, yen Jepang bertahan di kisaran 162,44 per dolar AS, tidak jauh dari level terlemah dalam hampir 40 tahun.

Pasar tetap mewaspadai potensi intervensi pemerintah Jepang setelah Menteri Keuangan Satsuki Katayama kembali menegaskan kesiapan pemerintah mengambil langkah tegas untuk menstabilkan nilai tukar yen.

Sementara itu, data ekonomi AS menunjukkan penjualan ritel naik tipis pada Juni, didorong lonjakan belanja daring meski penurunan harga bensin menekan nilai penjualan di SPBU.

Stabilnya pasar tenaga kerja juga memperkuat ketahanan ekonomi AS. Berdasarkan data inflasi yang melandai, pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini.

Perkasa, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.986 Per Dolar AS Hari Ini (16/7)

Peluang kenaikan suku bunga pada Juli turun menjadi sekitar 14%, dari sekitar 25% sepekan sebelumnya, meski pasar masih memperkirakan kenaikan suku bunga kumulatif sekitar 30 basis poin hingga akhir tahun.

Advertisements

Also Read

Tags