Mata ruang rupiah sempat menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan hari ini. Meski demikian, analis memperkirakan rupiah akan melemah imbas kenaikan harga minyak.
Dikutip dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.914 per dolar AS menguat 0,02% atau 3 poin. Pantauan Katadata hingga pukul 09.10 WIB, rupiah menguat tipis berada di level Rp 17.916 per dolar AS naik 0,01% atau 1 poin.
Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup di level Rp 17.917 per dolar AS. Ini membuat rupiah melemah 0,16% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.888 per dolar AS.
Namun, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah masih menjadi sentimen utama yang menekan mata uang Garuda.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan rupiah masih berpotensi tertekan seiring kembali naiknya harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah harga minyak yang kembali naik oleh tensi geopolitik di Timur Tengah,” ujar Lukman, Kamis (23/7).
Meski demikian, ia menilai pelemahan rupiah tidak akan berlangsung terlalu dalam karena sentimen domestik mulai menunjukkan perbaikan dalam beberapa waktu terakhir.
“Pelemahan akan terbatas seiring mulai membaiknya sentimen domestik akhir-akhir ini,” katanya. Lukman memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp 17.850 hingga Rp 18.000 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
Sementara itu, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana memproyeksikan rupiah berpotensi mengalami depresiasi tipis hingga Rp 17.920 per dolar AS.
Menurut Fikri, tekanan terhadap rupiah masih berasal dari tingginya risiko geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan lanjutan harga minyak mentah global. Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap aset aman dan membebani mata uang negara berkembang.
Di sisi domestik, Fikri menilai keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75% pada rapat Dewan Gubernur bulan ini turut menjadi faktor yang dicermati pelaku pasar.
Selain itu, kembali terjadinya aksi jual bersih (net sell) investor asing di pasar saham Indonesia sebesar Rp 920 miliar juga berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Meski demikian, masuknya dana Devisa Hasil Ekspor (DHE) ke sistem keuangan domestik diperkirakan dapat menjadi penopang bagi pergerakan rupiah dan membantu meredam tekanan yang berasal dari sentimen eksternal.




